Pengamat: Vaksinasi Covid-19 dan PPKM Mikro Ampuh Dongkrak Kepercayaan Investor

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Penanganan Covid-19 di Tanah Air menunjukkan hasil yang menggembirakan. Program vaksinasi yang dilakukan secara masif oleh Pemerintah dan antisipasi potensi peningkatan penularan Covid-19 selama Libur lebaran juga berjalan dengan baik.

Pelaksanaan PPKM mikro dan penyekatan di titik-titik mudik lebaran di seluruh wilayah Indonesia berhasil menekan angka penularan covid-19 sehingga tidak terjadi lonjakan yang signifikan seperti yang terjadi paska libur akhir tahun 2020.

Antisipasi penularan covid saat libur lebaran menunjukkan hasil yang positif dibandingkan saat libur tahun baru lalu. Hingga 28 Mei, angka positif harian secara nasional sebesar 6115 dengan jumlah tes yang dilakukan sebanyak 52.192 tes.

Dengan kata lain, jumlah positive rate secara nasional selama libur lebaran sebesar 9,6 persen, turun jauh dibandingkan positive rate saat libur akhir tahun lalu. Bahkan di DKI Jakarta, nilai positive rate sebesar 7,8 persen.

Keberhasilan pelaksanaan kebijakan antisipasi oleh Pemerintah ini juga didukung oleh masifnya kegiatan vaksinasi. Berdasarkan data Our World in data, jumlah penerima vaksinasi di Indonesia dibanding negara setara di Asia sangat bagus.

Tercatat 6 persen dari total penduduk Indonesia telah menerima dosis pertama. Angka ini tertinggi nomer 2 setelah Malaysia dan jauh diatas Thailand dan Filipina yang belum mencapai 4 persen. Bahkan Vietnam baru mencapai angka 1 persen.

"Pelaksanaan vaksinasi secara masif dan antisipasi libur Lebaran oleh Pemerintah memperlihatkan hasil yang signifikan. Penanganan secara simultan antara pencegahan penularan melalui gerakan 4 M dan anjuran tidak mudik serta pelaksanaan vaksinasi ternyata mampu mencegah lonjakan jumlah positif covid-19 paska Libur Lebaran," kata Direktur Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) Budi Hikmat dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (4/6/2021).

"Menurut kami, hal ini mampu meningkatkan kepercayaan investor khususnya asing terhadap perekonomian Indonesia dan merupakan salah satu penyebab terjadinya apresiasi nilai IHSG dan inbound dana asing," lanjut dia.

Seperti diketahui, sejak perdagangan bursa dibuka setelah Libur Lebaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan tren positif. Pada awal pembukaan setelah libur lebaran, IHSG sebesar 5.833,86.

Gerak Saham

Warga berada di sekitar Spot Budaya Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Warga berada di sekitar Spot Budaya Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Pada penutupan perdagangan Rabu (2 Juni 2021) sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada pada level 6.009,90 atau meningkat 62,44 poin dibanding saat pembukaan perdagangan. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam kisaran 5.991,51-6.029,21. Hingga siang ini telah dibukukan total transaksi sebesar Rp9,18 triliun, dengan aksi beli bersih atau net buy investor asing senilai Rp497,76 miliar.

“Apresiasi nilai IHSG ini dapat menjadi salah satu tolok ukur pemulihan perekonomian Indonesia dimana saat ini angka IHSG sudah mampu melewati 6000 dan dana masuk asing ke Pasar Modal juga terus meningkat. Berdasarkan data BEI, mulai libur lebaran hingga 31 Mei 2021, total nilai dana inbound oleh asing sebesar Rp2,34 Triliun," jelas dia,

Budi pun mengaku optimistis dengan penanganan Covid-19 secara tepat akan semakin meningkatkan kepercayaan investor untuk kembali menanamkan investasinya di Indonesia khususnya di Pasar Modal.

“Bahana TCW sangat mengapresiasi upaya konsisten pemerintah dalam menjaga fundamental ekonomi Indonesia melalui instrumen fiskal maupun nonfiskal maupun melalui langkah-langkah antisipasi yang dilakukan Pemerintah dalam menangani potensi peningkatan angka Covid-19 setelah Libur Lebaran. Dengan dukungan yang kuat dari BI, OJK maupun LPS dalam hal penetapan suku bunga acuan yang kompetitif dan kebijakan relaksasi kredit mampu menjaga tren pemulihan perekonomian Indonesia,” tutup Budi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel