Penganiayaan Santri di Tangerang, Orangtua Diberitahu Ponpes Usai Korban Tewas di RS

Merdeka.com - Merdeka.com - Apriyandi (43), ayah almarhum RAP, santri kelas 1 SMP Pondok Pesantren Darul Quran Lantaburo, Cipondoh, Kota Tangerang, yang meninggal dunia usai dianiaya 12 temannya mengaku sangat terpukul dengan kepergian putranya itu.

Dia tak menyangka putra keduanya yang baru dia titipkan 1,5 bulan ke Pesantren tersebut tewas dianiaya sesama santri di pesantren dia percaya akan menempa RAP sebagai seorang yang pandai agama.

"Pergaulan selama di rumah baik, (katanya) ingin jadi santri yang baik, jadi ulama," kata Apriyandi, mengenang alasan RAP masuk ke pesantren.

Pria asal Padang, Sumatera Barat itu menjelaskan, RAP sebelum disekolahkan ke Pesantren, memang senang dengan agama. Almarhum kenang Apriyandi, juga berniat ingin menjadi Ustaz, setamat menyelesaikan pendidikan agama di pesantren.

Bahkan sebelum mondok di Pesantren Darul Quran, RAP, kerap mengikuti kegiatan salat fardhu berjemaah di Masjid.

"Sehari-hari di sini dia mainnya di masjid, kadang adzan zuhur sama ashar. Di masyarakat sini dibilang kelakuannya baik, terpuji," kata Apriyadi ditemui saat akan menggelar pengajian almarhum RAP di rumah.

Setelah kepergian RAP, Apriyandi mengaku telah didatangi pihak pesantren dan keluarga para pelaku untuk meminta maaf. Dia juga menyerahkan sepenuhnya kasus itu ke polisi.

"Pihak keluarga sepenuhnya meyerahkan ke polisi. Pihak pesantren sudah datang dan keluarga pelaku juga sudah meminta maaf," ucap dia.

Kronologi Penganiayaan Diterima Keluarga

Dari keterangan beberapa rekan almarhum, RAP, saat sebelum peristiwa penganiayaan menimpa almarhum sempat mengikuti pengajian subuh dan dilanjutkan dengan sarapan pagi. Setelah itu, RAP diketahui hendak mandi di lantai 4 asrama tempat dia bermukim.

"Saat itu, katanya kakak kelasnya sudah menunggu di atas. Saya enggak habis pikir itu, sampai sekarang belum diketahui siapa (teman) yang mengajak korban naik ke atas. Strateginya begitu, yang dibilang sama pihak pelaku ke polisi sampai dikunci di dalam kamar dikeroyok, ditendang dipukul ramai-ramai sama 12 orang," ucap dia.

Apriyandi, dan keluarganya kemudian baru mengetahui anaknya sudah tidak bernyawa saat diberitahu pihak pesantren. Keluarga diberitahu RAP, berada di rumah sakit.

"Kata pesantren korban meninggalnya di rumah sakit, saya ketemu anaknya sudah di rumah sakit. Saya dikabari pukul 10.00 WIB," terang dia.

Keluarga Minta Pelaku Dihukum Berat

Akibat kepergian putra keduanya itu, Ibu korban yang saat ini tengah mengandung anak ke empat, adik RAP, terlihat sangat syok. Wajah ibu tiga anak itu pun terlihat begitu bersedih, mengenang kepergian putra yang dia kenal begitu ceria dan aktif belajar agama.

Dengan telah diamankan 12 pelaku penganiayaan terhadap RAP, Apriyandi, berharap hukum bisa berlaku adil dan para pelaku dapat dihukum setimpal dengan perbuatan yang menyebabkan RAP meninggal dunia.

"Dihukum setimpal sesuai perbuatannya, masalah hukum diserahkan ke kepolisian saja yang lebih tahu, saya orang awam, tapi keinginan saya setimpal lah. Apalagi kejadiannya di tempat menuntut agama, sehari-hari mengaji, masa enggak ada rasa kasihan sudah ampun-ampun korban begitu, masih (dikeroyok) di mana rasa kasihannya," ucap Apriyandi. [gil]