Penganiayaan Santri Ponpes di Tangerang Diduga Terjadi Seusai Setoran Hafalan Alquran

Merdeka.com - Merdeka.com - Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tangerang, berencana merangkul Kepolisian dan Kejaksaan dalam memberikan penyuluhan dan edukasi hukum terhadap siswa-siswa Madrasah dan santriwan-santriwati di Kota Tangerang. Penyuluhan hukum itu dilakukan menyusul aksi kekerasan di lingkungan Pondok Pesantren (Pontren) Darul Quran Lantaburo, hingga menyebabkan seorang santri tewas diduga dianiaya

"Saya prihatin dengan kejadian itu, secepatnya saya akan mencoba dengan kejaksaan dan kepolisian untuk penyuluhan-penyuluhan hukum terhadap anak- anak madrasah dan santri di pondok pesantren," kata Kepala Kemenag Kota Tangerang Samsudin dikonfirmasi, Minggu (28/8).

Menurut dia, berdasarkan hasil komunikasi dan pertemuan dengan pihak Pondok Pesantren Darul Quran Lantaburo, peristiwa kekerasan itu terjadi begitu cepat. Sebab, sebelum kejadian sekitar pukul 08.30 WIB, para santri sedang melakukan setoran hafalan ayat Alquran. Namun setelah itu, diduga korban dianiaya seniornya di lingkungan asrama di lantai 4.

"Menurut kiai sehabis setoran anak-anak naik ke lantai 4. Sementara guru-guru di lantai bawah seperti yang disampaikan Pak Kapolres," ungkap dia.

Samsudin mengatakan, Kemenag Kota Tangerang, sebagai lembaga negara hanya melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pondok pesantren. Sementara pengawasan terhadap santri-santri dilakukan penuh pihak pondok pesantren.

"Sebenarnya mereka juga ada pengawasan berjenjang dari kepala kamar, ada lurahnya, ada pengasuhnya tapi memang sulit juga mengawasi santri jumlah banyak 24 jam," terang dia.

Dia berharap tidak ada lagi kejadian serupa di pondok pesantren dan madrasah-madrasah di wilayah Kota Tangerang. Untuk itu, dia meminta semua pihak pondok pesantren mawas diri dalam mendidik dan mengawasi peserta didik agar tindak kekerasan dan perbuatan melawan hukum tidak terjadi di dunia pendidikan.

Kepala Korban Diduga Dihantam Benda Tumpul

RAP (13), santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Quran Lantaburo, Ketapang, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, dipastikan tewas karena hantaman benda tumpul berupa tendangan dan pukulan dilakukan 12 santri lain di ponpes tersebut. Polisi masih menyelidiki kasus kematian santri tersebut.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Zain Dwi Nugroho mengatakan, 12 santri diduga pengeroyok dan penganiaya korban telah ditangkap petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Tangerang.

"Autopsi di RSUD Kabupaten Tangerang dengan hasil bahwa penyebab kematian karena ada kekerasan benda tumpul. Khususnya di bagian kepala. Kepala bagian depan dan belakang," kata Zain, Minggu (28/8).

Menurut Zein, polisi tak hanya menemukan tanda bekas hantaman benda tumpul di kepala korban. Hasil autopsi juga mengidentifikasi adanya tanda bekas kekerasan di sejumlah tubuh korban.

"Termasuk juga ditemukan tanda-tanda kekerasan baik di muka, kepala dan punggung. Kekerasan benda tumpul," ujar dia.

12 Anak Diduga Penganiaya Santri hingga Tewas di Tangerang Diamankan Polisi

12 Santri Pondok Pesantren Darul Quran Lantaburo, terduga pelaku penganiayaan terhadap santri lainnya berinisial RAP (13), yang tewas dianiaya oleh 12 santri tersebut, akhirnya diamankan unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tangerang Selatan, Sabtu (27/8/2022).

Kapolres Metro Tangerang, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho, menerangkan bahwa peristiwa penganiayaan oleh 12 santri terhadap santri RAP hingga menyebabkan korban meninggal dunia itu, terjadi pada Sabtu (27/8) sekira pukul 08.30 WIB.

Selanjutnya, dari hasil penyelidikan polisi, mengamankan 12 santri pelaku pengeroyokan masing - masing berinisial AI (15), BA (13), FA (15), DFA (15), TS (14), S (13), RE (14), DAP (13), MSB (14), BHF (14), MAJ (13) dan RA (13).

Kapolres menerangkan, dari hasil pemeriksaan awal saksi - saksi bahwa aksi penganiayaan oleh 12 santri terhadap santri RAP, terjadi diduga akibat adanya aksi provokasi yang dilakukan salah seorang santri lain.

"Bahwa korban dianiaya oleh para pelaku karena diprovokasi oleh pelaku yang berinisial AI (15), yang menganggap korban sering berbuat tidak sopan karena membangunkan seniornya menggunakan kaki," kata Kapolres Metro Tangerang, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho, Sabtu (27/8/2022).

Zain menyebutkan bahwa peristiwa pengeroyokan terhadap RAP, terjadi saat korban bersama teman naik ke lantai 4 untuk mandi. Namun tiba-tiba korban ditarik ke kamar dan langsung dikeroyok oleh pelaku.

"Korban dipukul, ditendang dan diinjak-injak oleh para pelaku, sehingga mengakibatkan korban jatuh pingsan di lokasi," kata Kapolres.

Saat ini, perkara tersebut sudah ditangani Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Sat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota, para pelaku dan saksi dibawa ke Mako Polres Metro Tangerang Kota untuk penyidikan lebih lanjut.

Zain menjelaskan, bahwa setelah aksi pengeroyokan itu, korban sempat di larikan di RS Sari Asih, hingga akhirnya korban meninggal dunia di RS.

"Korban pada saat di Rumah Sakit Sari Asih Cipondoh terlihat tanda lebam di muka, kepala dan dada serta keluar darah di hidung dan buih di mulut korban. Untuk memastikan penyebab kematian, saat ini sedang dilakukan autopsi terhadap korban," tandasnya. [gil]