Penganiayaan Wartawan Bukti Reformasi TNI Setengah Hati

Pekanbaru - Penganiayaan terhadap jurnalis dan warga sipil oleh oknum TNI AU di lokasi jatuhnya pesawat Hawk 200 merupakan bukti bahwa reformasi TNI masih dilakukan setengah hati, kata anggota Komisi I DPR RI Tri Tamtomo.

Hal itu disampaikan Tri Tamtomo pada kunjungan enam anggota Komisi I DPR RI ke Pekanbaru, Kamis, untuk menginvestigasi kasus penganiayaan jurnalis oleh oknum TNI AU.

Tri Tamtomo yang menjadi ketua rombongan mengatakan hal itu sebagai konklusi usai mendengarkan langsung kronologis dari para jurnalis yang menjadi korban.

Anggota dewan lain yang hadir di antaranya Effendi Choiri dan Roy Suryo. Selain itu, turut hadir Danlanud Roesmin Noerjadin, Kol Pnb Bowo Budiarto, pelaku penganiayaan Letkol Pnb Robert Simanjuntak, Danrem 031/Wirabima Brigjen Teguh Rahardjo, serta perwakilan dari organisasi kewartawanan.

Dalam pertemuan di Gedung Riau Pos itu, empat korban pemukulan mengemukakan kronologis penganiayaan yang dilakukan oknum TNI AU di lokasi jatuhnya pesawat Hawk 200 di Kabupaten Kampar pada 16 Oktober lalu. Mereka itu Didik Herwanto fotografer Riau Pos, pewarta LKBN ANTARA FB Rian Anggoto, Roby serta Dewo dari Riau Chanel.

Tri Tamtomo menyatakan lima kesimpulan terkait insiden penganiayaan itu. Selain menilai reformasi TNI masih setengah hati, ia juga menyimpulkan bahwa hukum harus ditegakkan kepada para pelaku dan TNI tak boleh mengulangi insiden penganiayaan terhadap warga sipil dan jurnalis dimana pun di Indonesia.

Ia juga menyarankan agar dibuat standar operasi bersama antara TNI dan unsur pers agar pemberitaan mengenai hal serupa menjadi pembelajaran bagi masyarakat.

"Segera juga buat kemitraan yang komprehensif," katanya.

Ia mengatakan, setelah mendengar kronologis dari korban, Komisi I DPR menyatakan sangat prihatin terhadap kejadian brutal dari oknum aparat. Dari pertemuan itu, ia juga menemukan fakta langsung bahwa telah terjadi kekerasan, perampasan hak milik tanpa etika, pengeroyokan, pelanggaraan kode etik, dan upaya pendiaman.

Ia mengatakan, hasil dari pengumpulan informasi di Pekanbaru akan segera ditindaklanjuti bersama pimpinan Komisi I DPR.

Dalam pertemuan itu, Ketua Solidaritas Wartawan untuk Transparansi (Sowat) Syahnan Rangkuti mengatakan TNI harus mengubah persepsi bahwa jurnalis hanya mencari hal buruk untuk diberitakan dan tidak berempati terhadap insiden jatuhnya pesawat hawk.

"Ini rasa empati kami para jurnalis untuk mengungkapkan fakta. Duka TNI adalah duka kami juga, duka rakyat Indonesia," kata wartawan senior Kompas itu.

Ia juga menilai perlu ada kesepakatan bersama, rambu-rambu dalam pemberitaan terkait insiden kecelakaan yang melibatkan TNI. "Tolong perlakukan kami sebagai mitra," katanya.(ar)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.