Pengaruh Lokasi dalam Membangun Perusahaan Manufaktur

Syahdan Nurdin, Tiararevy
·Bacaan 3 menit

VIVA – Perusahaan manufaktur adalah perusahaan industri yang kegiatannya mengubah bahan mentah menjadi barang yang memiliki nilai sehingga dapat dijual.

Tujuan dari perusahaan manufaktur melakukan penjualan adalah untuk menyediakan bahan baku untuk dikelola menjadi sebuah produk guna memenuhi permintaan pasar.

Di tengah era teknologi yang semakin canggih saat ini, perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang memiliki banyak peran. Perusahaan manufaktur dinilai lebih produktif dan mampu meningkatkan nilai tambah bahan baku, memperbanyak tenaga kerja, menghasilkan sumber devisa terbesar, serta menjadi penyumbang pajak dan bea cukai terbesar.

Dalam mendirikan perusahaan manufaktur, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah strategi lokasi. Lokasi memiliki peran menentukan prestasi untuk segala jenis kegiatan, demikian pula untuk kegiatan bisnis di sektor barang maupun jasa. Lokasi sangat mempengaruhi risiko, biaya, dan keuntungan perusahaan secara keseluruhan.


Banyak alasan yang mendasari hal tersebut, diantaranya adalah sektor barang yang memerlukan lokasi untuk melakukan kegiatan pembuatan produk barang tersebut atau tempat memproduksi. Sedangkan untuk sektor jasa memerlukan tempat untuk dapat memberikan pelayanan kepada konsumen.

Sebagai seorang yang ingin membangun atau sedang menjalankan perusahaannya, penting untuk menentukan di mana akan menempatkan kegiatan operasionalnya.

Keputusan lokasi merupakan keputusan jangka panjang, susah sekali untuk di revisi, mempunyai efek pada biaya tetap maupun biaya variable seperti biaya transportasi, pajak, upah, sewa, dan lain-lain. Ada beberapa pilihan yang ada dalam lokasi, antara lain tidak pindah, tetapi meluaskan fasilitas yang ada; mempertahankan lokasi yang sekarang, selagi menambah fasilitas di tempat lain; atau menutup fasilitas yang ada dan pindah ke lokasi lain.

Beberapa faktor yang mempengaruhi lokasi, antara lain :
(1) Produktivitas Tenaga Kerja, karyawan merupakan input paling penting bagi perusahaan, sehingga tingkat produktivitas tenaga kerja sangat menentukan keberhasilan perusahaan. Berkaitan dengan strategi lokasi maka banyak perusahaan mempertimbangkan faktor seberapa produktivitas tenaga kerja di beberapa alternatif lokasi yang dipertimbangkan.

(2) Nilai Tukar dan Risiko Mata Uang, meskipun tingkat upah dan produktivitas tenaga kerja membuat sebuah negara terlihat ekonomis, namun nilai tukar mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain yang tidak menguntungkan dapat memangkas penghematan yang telah dilakukan. Dan kadang-kadang perusahaan dapat mengambil keuntungan dari nilai tukar yang menguntungkan dengan memindahkan lokasi atau mengekspor produknya ke luar negeri.

(3) Biaya, biaya yang terkandung dalam lokasi ada dua macam, yaitu biaya nyata dan biaya tidak nyata. Biaya Nyata (Tangible Cost) adalah biaya yang dapat dihitung atau biaya yang dapat dikenali secara tepat, seperti biaya pelayanan umum, tenaga kerja, bahan mentah, pajak, penyusutan, dan biaya lainnya.

Sedangkan Biaya Tidak Nyata (Intangible Cost) merupakan biaya yang lebih sulit ditentukan, misalnya kualitas pendidikan, sikap calon karyawan, standar hidup, dan lain-lain yang dapat mempengaruhi proses rekrutmen.

(4) Sikap, sikap dari pemerintah pusat, wilayah maupun daerah terhadap kepemilikan swasta, penetapan zona polusi, stabilitas tenaga kerja, dan juga pola kepemimpinan, serta yang tidak kalah penting adalah budaya masyarakat di lokasi tersebut.

(5) Kedekatan dengan pasar, banyak perusahaan yang secara sengaja memilih lokasi operasionalnya dekat dengan konsumen seperti usaha restoran, salon, toko kelontong, yang menyadari bahwa kedekatan lokasi dengan pasar merupakan faktor utama keberhasilan usaha mereka. Demikian pula untuk usaha manufaktur, ada yang memilik lokasi dekat dengan konsumennya, karena mahalnya biaya transportasi jika harus berada di lokasi yang berjauhan.

(6) Kedekatan dengan supplier, sebagian orang menempatkan lokasi bisnisnya dekat dengan pemasok dan bahan mentah. Hal ini biasanya disebabkan oleh bahan baku yang mudah rusak, biaya transportasi mahal, serta jumlah produk yang banyak. Contoh tersebut banyak diterapkan pada pabrik semen, pengolahan ikan, produsen biji baja dan besi.

(7) Kedekatan dengan pesaing (clustering) yaitu lokasi berdekatan para usaha yang saling bersaing, yang sering disebbakan oleh adanya informasi, bakat, modal proyek, atau sumber daya alam yang berlimpah di suatu daerah. Hal ini tidak hanya terdapat di usaha manufacturing saja, tetapi dalam bidang jasa juga ada, misalnya pada pembangunan pusat perdagangan elektronik, pusat perdagangan tekstil, dan lain-lain.