Pengaruh Media Sosial dalam Politik Malaysia

Oleh Susan Tam

Lanskap politik Malaysia tengah berada dalam pemilu paling ketat sepanjang sejarah negara itu. Semuanya terlihat lewat ratusan bendera, spanduk, dan bendera kecil sampai 'ceramah' yang ramai dari berbagai kandidat yang berusaha mendapatkan suara. Namun 'keributan' juga terjadi di internet karena semakin populernya penggunaan media sosial. Apakah media sosial berpengaruh pada keputusan politik seseorang?

Hanya dalam 3 tahun, pembahasan soal politik di Malaysia berkembang dari 2400 orang menjadi 450 ribu pengguna yang membahas soal politik di Twitter.

Naiknya pengguna Twitter yang membahas soal politik ini menandai betapa minat akan politik juga terus berkembang.

Kami berbicara dengan Ahmed Kamal dari Politweet untuk mengetahui apakah keributan yang terjadi di dunia maya bisa mencerminkan dukungan pada pemilu yang akan datang pada 5 Mei nanti. Politweet adalah perusahaan riset nonpartisan yang khusus menganalisis interaksi sesama penduduk Malaysia di media sosial. Salah satu tujuan perusahaan ini adalah mengembangkan serangkaian alat yang bisa digunakan peneliti lain dan wartawan untuk menganalisis media sosial.

"Penggunaan media sosial jelas meningkat. Ada 1-2 juta pengguna Twitter di Malaysia dan lebih dari 13 juta pengguna Facebook, dan lebih dari 9 juta berusia di atas 21 tahun."

Pada 2008, orang menggunakan blog untuk mencari informasi politik. Sekarang percakapan itu berpindah ke Facebook dan Twitter.

Di zaman teknologi seperti ini, semakin banyak orang semakin mudah terhubung satu dengan lainnya. Otomatis, warga Malaysia pun menggunakan Twitter dan Facebook untuk mengikuti tren. Tapi apa manfaatnya buat partai politik, terutama pada masa kampanye?

Dalam penelitiannya, Ahmed menemukan bahwa seperti rival politiknya, partai berkuasa Barisan Nasional menggunakan Facebook dan Twitter dalam kampanye politiknya. Masalahnya, bagaimana mereka menggunakan media sosial tersebut.

"Mereka tak punya banyak pendukung yang berinteraksi dengan pengguna lain untuk meyakinkan mereka memilih Barisan Nasional. Mereka menggunakan media soial untuk memenuhi timeline dengan artikel atau blog atau berita tentang aktivitas politisi BN."

Gaya berbeda digunakan partai oposisi yang dipimpin Anwar Ibrahim, Pakatan Rakyat, untuk terhubung dengan konstituen mereka.

"Mungkin mereka tak punya banyak orang bayaran untuk melakukan hal seperti itu, tapi suporter mereka setia dan mau menginvestasikan waktu untuk meyakinkan orang dan mengubah pikiran mereka."

Ahmed yakin, BN dan PR sama-sama menggunakan media sosial dengan cara berbeda untuk menyebar pesan politik mereka, yang berpengaruh pada hasil penelitian media sosial.

Tapi siapa yang memenangkan pertarungan ini?

Ahmed bahkan tak melihat persaingan mereka adil sejak awal.

"Sangat sulit mengukur kompetisi antara PR dan BN. Berdasarkan tweet dari kedua koalisi ini, BN bahkan tak berusaha keras."

Biasanya, pada kampanye politik, BN unggul dari PR dengan perbedaan besar dari sisi 'mention'. Namun kini hasilnya mengindikasikan kedua koalisi ini saling kejar-kejaran.

"Buat saya, kesannya, BN mengalihkan perhatian ke media tradisional dan tidak di media sosial."

Ada kesan bahwa BN kembali mengandalkan media tradisional untuk mengirimkan pesan, sesuatu yang tak diprediksi Ahmed.

Kurang lebih ada 10 juta pengguna Facebook yang menjadi pemilih pertama kalinya pada 5 Mei nanti. Apakah kembali ke media tradisional adalah hal yang bijak?

Menurut Ahmed, BN tak ngotot mendorong penggunaan media, dan orang bisa melihat pesan-pesan mereka di banyak billboard, iklan koran, dan bendera kecil di berbagai kanal tradisional. Pakatan Rakyat tak punya banyak sumber daya finansial untuk melakukan hal yang sama.

"Sepertinya ini perang antara media tradisional dan media baru, tapi kita tak tahu seberapa efektif kampanye ini sampai pemilu."

Ahmed juga mengatakan bahwa popularitas tinggi di dunia maya tak berarti dukungan nyata dalam bentuk suara untuk politisi atau partai.

Perdana Menteri Najib Razak mengalahkan pemimpin Oposisi, Anwar Ibrahim, dari jumlah pengikut di Twitter, meski ia punya jauh lebih banyak follower tak aktif atau akun palsu.

Berdasarkan sensus Politweet Februari lalu, Najib punya 1,2 juta follower, dan hanya 48% akun aktif. Sedangkan Anwar memiliki 236 ribu pengikut dan persentase follower aktifnya lebih tinggi, 61%.

Namun, jika angka itu dianalisis lagi, pengikut asli Anwar hanya 144 ribu orang, jauh lebih sedikit dari follower Najib yang 582 ribu.

Ahmed Kamal juga melihat bahwa popularitas Najib adalah faktor terbesar di balik popularitas BN. Pakatan Rakyat punya 59% follower aktif, dibanding 43% follower aktif Barisan Nasional. Tapi, jika Najib dikeluarkan dari analisis itu, skenarionya akan jauh berbeda.

Menurut laporan, Ahmed Kamal bergabung pada PKR pada 1999 tapi tak aktif setelah pemilu tahun itu. Ia pernah bekerja dengan Anwar pada 2007 dan melakukan pekerjaan freelance untuk Pakatan Rakyat setelah Maret 2008.

Ia kini fokus untuk tak memihak dan mulai memonitor tren media sosial sejak 2009. Riset Politweet selengkapnya bisa ditemukan di sini (http://www.politweet.org/site/main.php).

Memuat...