Pengawasan pada pengguna transportasi laut diperketat di perbatasan

·Bacaan 2 menit

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 memperketat pengawasan terhadap pengguna sarana transportasi laut di daerah perbatasan menyusul temuan hasil tes RT-PCR palsu yang dibawa oleh pekerja migran Indonesia yang kembali dari Malaysia melalui Kota Batam, Kepulauan Riau.

"Entry test (pemeriksaan saat memasuki wilayah) untuk setiap orang yang datang, sebagian besar pekerja migran Indonesia dari Malaysia dan
Singapura menjadi keharusan," kata Deputi Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Mayjen TNI Fajar Setyawan sebagaimana dikutip dalam siaran pers Satuan Tugas yang diterima di Jakarta, Kamis.

Selain memperketat pengawasan terhadap warga yang melewati perbatasan menggunakan sarana transportasi laut, Satuan Tugas berupaya memastikan ketentuan karantina dijalankan oleh pelaku perjalanan guna mencegah persebaran virus corona tipe SARS-CoV-2 varian Omicron.

"Kami juga akan menambah tempat-tempat karantina baru," kata Fajar, yang pada Kamis melakukan rapat koordinasi bersama Gubernur Kepulauan Riau Anshar Ahmad membahas temuan dokumen hasil tes RT-PCR palsu yang dibawa oleh pekerja migran Indonesia (PMI) dari Malaysia.

Batam merupakan salah satu pintu masuk bagi warga yang datang dari luar negeri menggunakan sarana transportasi laut. Saat ini setiap hari rata-rata ada 250 orang yang datang dari Singapura dan Malaysia ke Batam.

Menurut hasil analisis Kota Batam membutuhkan fasilitas karantina dengan kapasitas 2.750 tempat tidur namun fasilitas karantina yang tersedia saat ini baru memiliki 2.712 tempat tidur.

"Kenyataan di lapangan, kedatangan PMI lebih banyak dibandingkan non-PMI dan keterpakaian hotel tidak sebanyak fasilitas milik pemerintah. Dengan demikian fasilitas karantina milik pemerintah harus ditambah agar tidak menimbulkan penumpukan," kata Fajar.

Menurut Satuan Tugas, tingkat keterisian tempat tidur di fasilitas karantina terpusat bagi PMI, pelajar, dan aparatur sipil negara yang tersedia di Kota Batam sudah mencapai 95 persen sedangkan tingkat keterisian tempat tidur di hotel tempat karantina sekitar 32 persen.

Menurut hasil pemeriksaan, hingga saat ini kasus infeksi Omicron belum ditemukan pada pelaku perjalanan internasional yang masuk melalui Kota Batam.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah berupaya mencegah transmisi virus penyebab COVID-19 dengan memperketat pengawasan lalu lintas orang yang melintasi perbatasan menggunakan sarana transportasi laut karena banyak pekerja Indonesia yang pulang dari negara tetangga menggunakan jalur laut.

"Selain itu, penambahan tempat tidur karantina juga menjadi prioritas pemerintah saat ini demi mengantisipasi peningkatan kedatangan di periode Natal dan Tahun Baru," katanya.

Wiku mengatakan bahwa selama Desember 2021 ada 353 orang yang positif COVID-19 atau hampir dua kali lipat dari jumlah orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 pada bulan sebelumnya, yang tercatat 168 orang.


#ingatpesanibu
#sudahdivaksintetap3m
#vaksinmelindungikitasemua

Baca juga:
Batam kekurangan tempat karantina untuk pekerja migran
Batam antisipasi penyebaran Omicron melalui pekerja migran

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel