Pengelola Tambang Emas Tujuh Bukit Digugat

  • Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    Tempo
    Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menyayangkan penolakan Istana atas akuisisi Bank Tabungan Negara (BTN) oleh Bank Mandiri. "Sayang sekali sebenarnya. Momentum yang sangat baik tidak bisa kita manfaatkan," kata Dahlan kepada wartawan melalui pesan pendek pada Rabu, 23 April 2014. …

  • Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    Merdeka.com
    Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    MERDEKA.COM. Kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Sekretaris Kabinet (Setkab) Dipo Alam meminta Menteri BUMN Dahlan Iskan menunda rencana privatisasi PT. Bank Tabungan Negara (BBTN). …

  • Kemendag klaim industri fesyen muslim RI paling ternama di dunia

    Kemendag klaim industri fesyen muslim RI paling ternama di dunia

    Merdeka.com
    Kemendag klaim industri fesyen muslim RI paling ternama di dunia

    MERDEKA.COM. Kementerian Perdagangan mengklaim industri fesyen muslim Indonesia saat ini paling ternama di dunia. Industri sejenis di Malaysia, negara muslim terdekat, dinilai belum mampu menyaingi. …

TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha pertambangan asal Australia, Michael Paul Willis, mengajukan gugatan perdata kepada pengelola tambang emas Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur. Pemilik Indoaust Mining Pty Ltd ini mengajukan nilai total kerugian sebesar AU$ 252,5 juta atau sekitar Rp 2,5 triliun setelah dipaksa melepaskan hak atas proyek tambang emas tersebut.

Willis mendaftarkan gugatan tersebut kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 25 Oktober 2012. Gugatan tersebut ditujukan kepada dua perusahaan Australia, Emperor Mines Ltd dan Intrepid Mines Ltd, dan satu perusahaan Indonesia, yakni PT Indo Multi Niaga. Selain tiga perusahaan tersebut, Willis juga melayangkan gugatan terhadap Chief Executive Officer Intrepid, Bradley Austin Gordon, General Counsel Intrepid, Vanessa Mary Chidrawi, dan para pemegang saham Indo Multi Niaga.

Menurut kuasa hukum Willis, Alexander Lay, para tergugat itu melakukan tindakan melawan hukum setelah memaksa Wilis menandatangani dokumen yang merugikan dirinya pada 21 April 2008. Dalam perjanjian tersebut, Willis dipaksa melepaskan hak atas proyek tambang emas Tujuh Bukit dan memberikannya kepada Emperor Mines.

"Penandatangan dokumen itu dilakukan secara terpaksa dan penuh tekanan," kata Alexander melalui keterangan tertulis, Jumat, 26 Oktober 2012.

Alexander mengatakan Willis memiliki cukup bukti untuk menguatkan gugatannya. Karena itu, dia meminta pengadilan mengabulkan gugatan material sebesar AU$ 2,5 juta dan immaterial senilai AU$ 250 juta. "Kami optimistis memenangi gugatan karena tindakan para tergugat cacat secara moral dan yuridis," ujarnya.

Willis sebelumnya bermitra dengan Intrepid dan Emperor Mines untuk menggarap konsesi ladang emas Tujuh Bukit yang dikuasai Indo Multi Niaga. Namun, belakangan kongsi ini pecah setelah kepemilikan Indo Multi Niaga disebut-sebut beralih pada seorang pengusaha nasional. Willis pun mengatakan diusir Intrepid dan mitra lokalnya. Sengketa tambang dengan potensi kandungan emas 2 juta ounce dan perak 80 juta ounce senilai Rp 50 triliun ini pun terus memanas.

FERY FIRMANSYAH

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...