Pengembang China Modern Land Gagal Bayar Obligasi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Modern Land gagal membayar obligasi sehingga meningkatkan kekhawatiran meluasnya penularan kriris Evergrande Group dan membebani sektor properti China.

Dalam sebuah pengajuan pada Selasa, 26 Oktober 2021, Modern Land Co Ltd mengungkapkan belum membayar pokok dan bunga sebesar 12,85 persen atas obligasi senilai USD 250 juta setara Rp .3,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.189 per dolar AS). Alasan Modern Land Co Ltd karena terjadi masalah likuiditas yang tidak terduga.

Menurut catatan, obligasi jatuh tempo pada Senin, 25 Oktober 2021. Secara terpisah China's State Planner membenarkan hal tersebut.

Sumber lain juga menyebutkan ada pertemuan antara regulator valuta asing dengan perusahaan propeti terbesar China. Atas kepemilikan utang luar negeri, regulator meminta untuk prioritaskan utang, bunga dan pokok luar negeri.

Modern Land melewatkan pembayaran setelah beberapa hari perusahaan membatalkan rencana permintaan persetujuan investor untuk masa perpanjangan tenggat waktu.

Pengembang meminta jangka waktu tiga bulan lebih lama dari tanggal jatuh tempo. Modern land beragumen itu bukan demi kepentingan perusahaan dan para pemangku kepentingannya. Awal bulan ini , lembaga pemeringkat Fitch mendepak peringkat Modern Land dari B menjadi C.

Akibat upaya Modern Land untuk mengubah persyaratan obligasi, dengan mengatakan pihaknya menganggap langkah itu sebagai pertukaran utang yang tertekan.

Default utang mendorong penurunan peringkat oleh Fitch dan Moody's. Seorang investor pun mengatakan pengembang satu per satu gagal lakukan pembayaran utang.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pertemuan Regulator dengan Penerbit Utang

Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)
Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Setelah berminggu-minggu hening karena sentimen kekhawatiran investor atas krisis beberapa pengembang China, regulator pusat semakin vokal. Selasa malam, 26 Oktober 2021, China's National Development

and Reform Commission menuturkan pihaknya dan Administrasi Negara untuk valuta asing telah bertemu penerbit utang luar negeri.

Regulator China meminta mereka untuk menggunakan dana untuk tujuan yang disetujui. Bersama-sama menjaga reputasi dan tatanan pasar secara keseluruhan.

Selain Modern Land, Fantasia Holdings Group juga gagal membayar obligasi dolar bulan ini. Kondisi ini pastinya menambah kekhawatiran di pasar utang internasional. Terlebih adanya pemikiran akankah Evergrande memenuhi kewajibannya.

Minggu lalu, Evergrande telah menipiskan risiko default. Pembayaran itu dilakukan mendekati habis batas waktu pembayaran utama pada hari Jumat. Pengembang masih dibayangi utang jumbo senilai USD 300 miliar atau Rp 4.256,8 triliun (estimasi kurs Rp 14.189 per dolar AS).

Pada Selasa, 26 Oktober 2021, pengembang properti mengungkapkan akan melanjutkan pembangunan 31 proyek real estat di wilayah Delta Sungai Mutiara China pada akhir 2021. Jumlah itu akan meningkat menjadi 40 pada akhir Juni 2022.

Sebelumnya, Minggu, 24 Oktober 2021 menuturkan telah meneruskan pekerjaan pada lebih dari 10 proyek di enam kota, termasuk Shenzhen di Cina selatan. Yang mana semoat terhenti sebab tidak mampu membayar kontraktor. Total peoyek yang dimilik Evergrande sekitar 1.300 di seluruh China.

Mayoritas Saham Properti Turun

Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Saham pengembang properti China semakin lama merasak kerugian. Apalagi munculnya sentimen rencana China untuk mengenakan pajak real estat.

Chinas Real Estate Index CSI 300 turun 2,8 persen. Hang Seng Mainland Properties Index paling parah mengalami penuruan yakni sebanayak 4,3 persen. Sementara Indeks Hang Seng dan CSI300 tergelincir tipis masing-masing 0,4 persen dan 0,3 persen.

Prospek penularan dan lebih banyak default telah membebani sektor properti dalam kemunduran besar bagi investor.

Chinese Estates Holdings Ltd menuturkan pembukuan kerugian sebesar USD 2,24 miliar ata setara Rp 31,7triliun). Penjualan obligasi terbaru yang diterbitkan oleh pengembang properti China Kaisa Group Holdings Ltd.

Menurut penyedia data Duration Finance, obligasi Modern Land senilai 11,8 persen yang jatuh tempo Februari 2022 turun 1,6 persen. Dengan diskon lebih dari 80 persen dari nilai nominalnya. Sehingga menghasilkan sekitar 1,183 persen.

Saham Evergrande menutup perdagangan dengan melorot lebih dari 4 persen. Saham unit kendaraan listrik (EV) ditutup turun 6,75 persen setelah sebelumnya menanjak naik sebanyak 5,8 persen.

Reporter: Ayesha Puri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel