Pengembangan usaha ramah lingkungan jadi prioritas Kemenkop tahun 2023

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan 70 persen program prioritas pihaknya pada tahun 2023 menyasar langsung kepada pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) serta koperasi anak muda, perempuan, dan fokus mengembangkan usaha ramah lingkungan.

“Hal ini (sasaran program prioritas Kementerian Koperasi dan UKM) sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mencapai target penurunan emisi maupun net zero emission (netralitas karbon) di tahun 2060 atau lebih awal,” kata dia di Bali, lewat keterangan resmi, Jakarta, Sabtu.

Pernyataan tersebut disampaikan usai menyaksikan Penandatangan Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding/MoU) Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) dengan PT Marco Indokarya dalam rangka mewujudkan program Satu Juta Motor Listrik bagi para karyawan ritel dan ekosistemnya di tahun 2023.

Lebih lanjut, kerja sama itu bertujuan untuk mendukung program pemerintah mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menuju net zero varbon emission, serta sejalan dengan program Kemenkop dalam menjalankan strategi pengembangan ekonomi hijau.

Pada tahun depan, ekonomi Indonesia dan dunia disebut akan menghadapi kondisi yang tak mudah. Apalagi, hingga saat ini baru 15 persen UMKM di tanah air yang mampu memperkuat daya beli masyarakat.

Karena itu, pihaknya menjadikan praktik usaha ramah lingkungan atau ekonomi hijau sebagai salah satu dari agenda pemulihan transformatif dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang berat.

“Kita perlu belajar dari negara lain dengan pesat bergerak menuju pertumbuhan ekonomi hijau, menetapkan kebijakan pro lingkungan dengan target ambisius. Contohnya di Uni Eropa, mereka menetapkan carbon border tax dengan memonitor besi, baja, semen, pupuk, aluminium, dan pembangkit listrik, serta di Inggris telah menerapkan due diligence atau uji tuntas sebagai syarat masuk sejumlah produk luar negeri,” ucapnya.

Kemenkop dikatakan terus berupaya menyusun strategi pengembangan UMKM hijau melalui beberapa program. Antara lain kemitraan usaha seperti Green Value Chains di Al Ittifaq serta sertifikasi organik (sayur mayur dan buah buahan), akses pasar seperti e-commerce green-product, pameran skala internasional tematik ekonomi hijau, inkubasi wirausaha nan meliputi pengembangan wirausaha sosial, serta digitalisasi UMKM yang di mana saat ini ada 20,2 juta UMKM telah terhubung dengan ekosistem digital.

“Kami juga terus mendorong start-up anak muda yang bergerak di bidang ramah lingkungan. Seperti Bell Society pemenang kompetisi bisnis model Korea-Asean 2020 yang mengolah limbah pertanian (kulit buah) menggantikan kulit sintetis yang tidak ramah lingkungan,” ujar Menkop.

Pengembangan UMKM hijau turut dilakukan bersama Octopus, yakni model bisnis sirkular dalam mengelola sampah plastik yang berhasil meningkatkan pendapatan pelestari hingga tiga kali lipat dengan mayoritas pelestari dari kalangan perempuan. Lalu beberapa start-up tech ramah lingkungan lainnya seperti green peer to peer lending (Arconesia), mall sampah (komerse.id), dan teknologi water management system (SIAB Indonesia).

Dengan kerja sama HIPPINDO dan Marco Indokarya, diharapkan dapat meningkatkan hubungan bisnis yang ramah lingkungan, serta mewujudkan netralitas karbon lebih cepat dan ekonomi yang berkelanjutan.

“Hadirnya motor listrik lokal ini setidaknya kita bisa mengalahkan produk luar. Saya senang jika produk UMKM bisa menyaingi produk luar, saya mengapresiasi HIPPINDO bisa menyerap sejuta motor listrik, kita harus semangat karena kuartal III tahun 2022 tumbuh 5,7 persen yang ditopang oleh belanja domestik, salah satunya produk lokal,” ungkap Teten.

Baca juga: OJK finalisasi taksonomi hijau guna klasifikasi usaha ramah lingkungan
Baca juga: Teten dorong UMKM jalankan praktik ramah lingkungan demi ekonomi hijau
Baca juga: Usaha rintisan dukung pengembangan bisnis ramah lingkungan