Pengemis Lhokseumawe Tak Terima Duit Recehan

Laporan Wartawan TSerambi Indonesia,  Saiful Bahri

TRIBUNNEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Ternyata para pengemis (peminta-minta) di kawasan Lhokseumawe, makin menaikan 'tarif' mengemisnya. Mereka menolak menerima uang recehan yaitu uang logam pecahan Rp 200 sampai Rp 500, dengan dalih tidak laku lagi sebagai alat jual-beli.

Seperti dialami Dimas, seorang warga Lhokseumawe yang ikhlas menyedorkan uang receh pecahan Rp 500, Rp 200 dan Rp 100 pada seorang pengemis yang sedang meminta-minta di kopi Cekmat Lhokseumawe, Rabu (6/6/2012) pagi.  Namun, ia kaget saat tiga lempeng uang logam itu dikembalikan. Sipengemis sambil berkata, "Tak perlu uang itu, karena sudah tak laku lagi."

Pernyataan si pengemis menjadi topik pembicara warga kota Lhokseumawe, sebab sebelumnya Pimpinan BI Lhokseumawe, Zulfan Nukman, mengeluarkan surat himbauan bahwa semua uang recehan yang belum ada pernyataan resmi  BI untuk ditarik dari peredaran, pasti  masih berlaku. Bahkan bila memang warga banyak menyimpan uang pecahan dipersilahkan untuk menukar ke BI atau bank lainnya.(*)

Baca juga:


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.