Pengertian Stratifikasi Sosial, Dasar, Sifat, dan Bentuk-bentuknya

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Jakarta - Stratifikasi sosial adalah penggolongan atau pembedaan masyarakat secara vertikal, yaitu penggolongan masyarakat dalam kelas-kelas secara bertingkat-tingkat (hierarkis) dari status yang disandangnya.

Pelapisan sosial merupakan terjemahan dari social stratification. Kata stratification berasal dari kata 'stratum' yang artinya tingkatan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, stratifikasi adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa, dan prestise.

Para ahli juga memberikan pengertian tentang apa itu stratifikasi sosial. Dengan mengetahui penjelasan dari para ahli, akan menambah wawasan tentang stratifikasi sosial.

Berikut ini rangkuman tentang pengertian stratifikasi sosial menurut ahli, dasar, sifat dan bentuk-bentuknya, seperti dilansir dari gerbangkurikulum.sma.kemdikbud.go.id, Kamis (18/11/2021).

vidio:4 Pesepak Bola yang Berhasil Mengalahkan Penyakit Kanker

Pengertian Stratifikasi Sosial Menurut Ahli

Ilustrasi masyarakat. (AFP)
Ilustrasi masyarakat. (AFP)

Paul B. Horton dan Chester L. Hunt

Stratifikasi sosial berarti sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat.

Pitirim A. Sorokin

Stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap pada setiap kelompok sosial yang teratur. Lebih lanjut, stratifikasi sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.

Robert MZ. Lawang

Stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarkis menurut dimensi kekuasaan, previlese, dan prestise.

Bruce J. Cohen

Stratifikasi sosial adalah sistem yang menempatkan seseorang sesuai kualitas yang dimiliki dan menempatkan mereka pada kelas sosial yang sesuai.

Dasar-Dasar Stratifikasi dalam Masyarakat

Ilustrasi budaya masyarakat Indonesia. Credit: unsplash.com/Ruben
Ilustrasi budaya masyarakat Indonesia. Credit: unsplash.com/Ruben

Berikut ini dasar atau ukuran yang umumnya dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam suatu pelapisan sosial:

Ukuran Kekayaan

Barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk lapisan teratas. Kekayaan tersebut bisa dilihat dalam bentuk rumah dan mobil pribadi yang mewah, cara menggunakan pakaian, kebiasaan berbelanja, dan lain-lain.

Ukuran Kekuasaan

Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar, menempati lapisan atas. Dalam hal ini dapat dicontohkan dengan kehidupan para raja, di mana mereka memiliki kekuasaan yang absolut.

Dalam kehidupannya, raja dan keluarga serta keturunannya akan berada dalam lapisan atas. Selain itu, bisa juga diambil contoh para kepala negara, meski dipilih oleh rakyatnya secara demokratis, kekuasaan itu melekat secara otomatis.

Ukuran Kehormatan

Orang yang paling disegani atau dihormati mendapat tempat yang teratas dalam pelapisan sosial. Ukuran semacam ini banyak dijumpai pada masyarakat-masyarakat tradisional.

Biasanya yang mendapat tempat di atas adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa. Demikian juga para pemimpin agama, mereka sangat dihormati oleh umatnya, bahkan perilakunya dijadikan sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Ukuran Ilmu Pengetahuan/Pendidikan

Ilmu pengetahuan juga dijadikan sebagai ukuran yang dipakai masyarakat dalam pelapisan sosial. Tetapi, kadang kadang-kadang ukuran tersebut menyebabkan terjadinya hal-hal yang negatif.

Hal itu karena yang sering dijadikan ukuran bukan ilmu pengetahuannya melainkan gelar kesarjanaannya. Dampaknya akan melakukan segala macam cara untuk mengejar gelar tersebut, termasuk dengan cara yang tidak benar.

Perlu diingat, ukuran-ukuran di atas tidak bersifat terbatas (limitatif) karena masih banyak ukuran-ukuran lain yang dapat digunakan.

Sifat-Sifat Stratifikasi Sosial

Ilustrasi kehidupan. (Photo by Fikri Rasyid on Unsplash)
Ilustrasi kehidupan. (Photo by Fikri Rasyid on Unsplash)

Secara umum, sifat yang ada dalam stratifikasi sosial adalah sebagai berikut:

Bersifat tertutup

Startifikasi dengan sifat yang tertutup membatasi seseorang untuk berpindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik pindah ke atas maupun ke bawah. Satu-satunya jalan untuk menduduki lapisan tersebut hanya melalui kelahiran.

Contoh: Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, masyarakat feodal, dan masyarakat yang menggunakan ciri-ciri fisik sebagai ukuran lapisan seorang individu.

Bersifat terbuka

Dalam sistem pelapisan yang bersifat terbuka, setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk menduduki lapisan yang paling atas.

Dalam lapisan yang demikian, setiap individu termotivasi untuk mencapai keinginannya sesuai kemampuan dirinya. Dengan demikian kompetisi akan terjadi dan pembangunan lebih cepat berjalan.

Bersifat campuran

Dalam sistem yang bersifat campuran akan dijumpai dalam masyarakat bahwa untuk hal-hal tertentu menggunakan sistem tertutup sementara pada hal yang lain menggunakan sistem terbuka.

Contoh sederhana adalah masyarakat Bali yang masih menganut sistem kasta dalam kehidupan sosial budayanya. Namun, dalam bidang ekonomi siapa saja boleh berkompetisi.

Hal itu berarti di sini terjadi keterbukaan dalam bidang ekonomi tanpa memandang seseorang berasal dari kasta apa.

Bentuk-Bentuk Startifikasi Sosial

Ilustrasi wanita India. (dok. Yogendra Singh via Pexels/ Brigitta)
Ilustrasi wanita India. (dok. Yogendra Singh via Pexels/ Brigitta)

Ada dua bentuk stratifikasi sosial dalam masyarakat yang dapat dilihat, yaitu:

Sistem Kasta

Sistem kasta adalah bentuk stratifikasi sosial yang memberikan garis secara jelas antara satu lapisan dengan lapisan yang lain dan sifatnya sangat kaku.

Seseorang menduduki lapisan tertentu semata-mata hanya karena ia memiliki orang tua yang telah berada pada lapisan yang tertentu tersebut. Satu di antara masyarakat yang masih menganut sistem kasta adalah India.

Dalam bentuk aslinya, kasta di India terdiri atas empat kategori, yakni:

  1. Brahmana, yaitu kasta para pendeta dan pemimpin agama.

  2. Ksatria, yaitu kasta para militer/tentara serta para pejuang.

  3. Waisya, yaitu kasta para pedagang, petani, dan pekerja kantor.

  4. Sudra, yaitu kasta para pembantu rumah tangga dan buruh tani.

Selain empat kelompok kasta di atas masih ada lagi yang disebut dengan 'harijans'. Mereka yang termasuk kelompok ini adalah individu yang berada di luar kasta atau kaum orang miskin. Dalam setiap kasta ada lagi subkasta, yang jumlahnya sangat banyak.

Sistem kelas

Dalam startifikasi dengan sistem kelas lebih bersifat dinamis dan fleksibel. Kelas sosial bukan warisan dari keluarga karena setiap individu dapat memperolehnya dengan usaha.

Dalam sistem kelas, perubahan lapisan antara satu orang dengan orang lain sangat bervariasi dan bersifat terbuka. Seseorang yang pada waktu tertentu dalam posisi di atas mungkin suatu saat dia akan menempati urutan yang paling bawah akibat kepandaian dan kecerdasan orang lain yang mampu menyaingi dirinya.

Pembagian kelas pada umumnya didasarkan pada kriteria ekonomi, sosial, maupun politiknya.

Sumber: Kemdikbud

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel