Pengertian Teks Drama, Karakteristik, Struktur, Unsur, Dan Kaidah Kebahasaan

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Pengertian teks drama adalah teks yang bermuatan kisah yang dikemas melalui dialog untuk dibawakan melalui seni peran atau akting untuk menggambarkan cerita dan berbagai peristiwa yang disajikan dalam suatu pentas drama.

Secara umum, pengertian teks drama adalah suatu teks cerita yang dipentaskan di atas panggung atau biasa disebut teater ataupun tidak dipentaskan di atas panggung seperti drama radio, televisi, dan film. Drama secara luas dapat diartikan sebagai salah satu bentuk sastra yang isinya tentang suatu kehidupan yang disajikan atau dipertunjukkan dalam bentuk gerak.

Sebagai sebuah karya sastra, drama memiliki keunikan tersendiri. Teks drama diciptakan hanya untuk dibaca saja, namun juga harus dapat dipentaskan oleh para tokoh atau lakonnya. Dengan begitu pembuatan teks drama harus sesuai dengan kaidah kebahasaannya.

Untuk lebih rinci, berikut ini penjelasan mengenai pengertian teks drama beserta karakteristik, struktur, unsur, dan kaidah kebahasaannya yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (20/9/2021).

Pengertian Teks Drama

Menurut Waluyo, pengertian teks drama adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi namun bentuknya berbeda. Sedangkan menurut Kemendikbud, pengertian teks drama adalah sebuah cerita atau kisah yang menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku akting atau dialog yang dipentaskan. Sejalan dengan itu, ada pengertian lain menurut Kosasih mengenai pengertian teks drama adalah bentuk karya sastra yang bertujuan untuk menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan pertikaian dan emosi melalui lakon dan dialog.

Karakteristik Teks Drama

Ilustrasi menulis (dok. Pixabay.comStockSnap/Putu Elmira)
Ilustrasi menulis (dok. Pixabay.comStockSnap/Putu Elmira)

Sebagai karya sastra yang berbeda dari karya sastra lainnya, teks drama memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut ini, di antaranya:

1. Memuat dialog atau percakapan yang dapat dibawakan oleh pemeran atau lakon drama.

2. Mengandung cerita, kisah, atau narasi yang sampaikan melalui dialog atau percakapan antar tokohnya.

3. Teks memiliki petunjuk khusus yang harus dilakukan oleh pemerannya, seperti: mengatur ekspresi (marah atau senang), melakukan aksi (berlari/melompat), dsb.

4. Karena drama secara eksklusif menggunakan dialog sebagai isinya, maka penulisan percakapan tidak usah menggunakan tanda petik (“”).

Struktur Teks Drama

Ilustrasi Menulis. Credit: pexels.com/Ylanite
Ilustrasi Menulis. Credit: pexels.com/Ylanite

Menurut Kemdikbud, struktur teks drama adalah sebagai berikut ini:

1. Prolog

Adalah kalimat atau kata-kata pembuka, pengantar, maupun latar belakang cerita, yang biasanya disampaikan oleh dalang atau tokoh tertentu yang telah di set dalam teks drama.

2. Orientasi

Merupakan pengenalan dan pengaturan aksi dan tempat yang meliputi pengenalan tokoh, menyatakan situasi dan cerita, hingga permulaan dalam mengajukan konflik yang akan terjadi dalam kisah yang dibawakan dalam drama.

3. Komplikasi

Komplikasi atau disebut juga sebagai bagian tengah cerita yang mulai mengembangkan konflik. Pada bagian ini tokoh utama akan menemukan berbagai rintangan antara ia dan tujuan atau keinginannya. Tokoh juga kerap mengalami berbagai kesalahpahaman dalam perjuangannya untuk menghadapi berbagai rintangan tersebut.

4. Resolusi (Denouement)

Yakni penyelesaian dari komplikasi atau berbagai rintangan yang menghalangi tokoh utama. Bagian ini harus muncul secara logis dan sesuai dengan berbagai komplikasi atau klimaks (puncak konflik yang menyekat komplikasi dan resolusi) yang sebelumnya telah dihadirkan.

5. Epilog

Merupakan bagian penutup dari drama berupa kata-kata penutup yang berisi simpulan atau amanat mengenai keseluruhan isi drama. Bagian ini pun biasanya disampaikan oleh dalang atau tokoh tertentu.

Unsur-Unsur Teks Drama

Ada beberapa unsur-unsur teks drama yang perlu Anda ketahui, di antaranya:

1. Alur, yaitu berupa rangkaian cerita yang terjadi pada drama.

2. Amanat, yaitu pesan yang terkandung dalam drama.

3. Tokoh, yaitu pelaku yang memerankan seorang karakter dalam cerita.

4. Penokohan adalah penggambaran watak setiap tokoh. Ada 3 macam tokoh, protagonis yaitu tokoh yang menampilkan kebaikan, antagonis yaitu tokoh jahat atau tokoh penentang kebaikan, dan tritagonis yaitu tokoh pendukung protagonis.

5. Tema, yaitu ide pokok cerita atau gagasan.

6. Aneka sarana kesastraan dan kedramaan yang mendukung penampilan pelaku dalam suatu drama, contohnya tata panggung dan tata rias.

Langkah-langkah Menulis Teks Drama

Berikut ini ada beberapa langkah-langkah menulis teks drama yang penting untuk diketahui, di antaranya:

1. Menentukan tema.

2. Menciptakan setting/latar.

3. Menciptakan tokoh.

4. Menciptakan dialog antartokoh.

5. Menciptakan teks samping .

6. Menulis serangkaian adegan dalam draft sehingga membentuk alur.

7. Menyunting draft awal, kemudian menulis naskah drama berdasarkan draft.

Kaidah Kebahasaan Teks Drama

Ilustrasi Menulis Credit: unsplash.com/Annelies
Ilustrasi Menulis Credit: unsplash.com/Annelies

Kaidah atau ciri kebahasaan teks drama yang paling kuat adalah di dalamnya hampir semua berupa dialog atau tuturan langsung para tokohnya. Sehingga, kalimat-kalimat yang tersaji di dalamnya hampir semuanya berupa dialog atau tuturan langsung para tokohnya.

Karena drama banyak menggunakan tuturan langsung, maka sebagaimana halnya percakapan sehari-hari, dialog dalam teks drama sering kali menggunakan kosakata percakapan, seperti: oh, ya, aduh, sih, dong. Selain itu, menurut tim Kemdikbud teks drama memiliki ciri-ciri kebahasaan sebagai berikut:

1. Banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi kronologis) seperti: sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian.

2. Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi, contohnya: menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap, beristirahat.

3. Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh, contohnya: merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami.

4. Menggunakan kata-kata sifat (descriptive language) untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana, seperti: misalnya, rapi, bersih, baik, gagah, kuat.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel