Pengertian Wakaf dan Syarat yang Wajib Diketahui

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Secara umum, pengertian wakaf adalah perbuatan hukum wakif atau orang wakaf, untuk menyerahkan dan memisahkan sebagian hartanya secara permanen atau dalam jagka waktu tertentu, yang harus memperhatikan unsur-unsur dan dasar hukum yang berlaku.

Para ulama atau ahli ulama fikih juga menjelaskan tentang pengertian wakaf, agar lebih mudah untuk dipahami setiap orang. Wakaf yang diberikan bisa berupa tanah kosong atau banunan, yang diperuntukkan untuk masyarakat disekitar, seperti tanah perkebunan, masjid atau tanah yang masih kosong.

Pengertian wakaf ini bisa disamakan dengan amal jariah atau sedekah jariah, sehingga tidak akan putus pahalanya selama amal tersebut bermanfaat untuk orang banyak. Sebenarnya wakaf ini tidak diwajibkan, tetapi wakaf dianjurkan seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 92.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” [QS. Ali Imran: 92].

Agar lebih jelas dalam memahami pengertian wakaf, berikut pengertian wakaf dan syarat wajib untuk wakaf, dilansir dari Liputan6.com:

Pengertian Wakaf

Macam-Macam Wakaf dan Contohnya yang Jarang Diketahui
Macam-Macam Wakaf dan Contohnya yang Jarang Diketahui

Secara umum, pengertian wakaf adalah amalan yang luar biasa atau amal jariah. Kata Wakaf berasal dari bahasa Arab “Waqafa”, yang memiliki arti menahan atau berhenti atau diam di tempat atau tetap berdiri”.

Menurut Abu Hanifah, pengertian wakaf adalah menahan suatu benda yang menurut hukum, tetap di wakif dalam rangka mempergunakan manfaatnya untuk kebajikan. Dalam mazhab Hanafi mendefinisikan wakaf adalah : “Tidak melakukan suatu tindakan atas suatu benda, yang berstatus tetap sebagai hak milik, dengan menyedekahkan manfaatnya kepada suatu pihak kebajikan (sosial), baik sekarang maupun akan datang”.

Mazhab Maliki juga memiliki pendapat, bahwa wakaf itu tidak melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif, tetapi wakaf mencegah wakif untuk melakukan tindakan yang bisa melepaskan kepemilikannya atas harta kepada yang lain, wakif juga memiliki kewajiban untuk menyedekahkan manfaatnya serta tidak boleh menarik kembali wakafnya.

Sedangkan pengertian wakaf menurut Mazhab Syafi’I dan Ahmad bin Hambal, bahwa wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif, setelah sempurna prosedur perwakafan.

Dasar Hukum Wakaf

Ilustrasi Al Qur’an Credit: freepik.com
Ilustrasi Al Qur’an Credit: freepik.com

Surat Ali-Imran ayat 92, yang artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apasaja yang kamunafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali-Imran: 92)

Surat Al-Baqarah ayat 267, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dariapa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu”. (QS. Al-Baqarah: 267).

Surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya: “………Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. Al-Maidah: 2).

Syarat Wakaf

Ilustrasi Harta Waqaf Credit: unsplash.com/Miechelle
Ilustrasi Harta Waqaf Credit: unsplash.com/Miechelle

Syarat wakaf terbagi menjadi tiga yaitu syarat orang yang berwakaf, syarat harta yang diwakafkan dan syarat pelaksanaan wakaf. Berikut penjelasannya:

Syarat-syarat Orang yang Berwakaf (al-Waqif)

Syarat al-waqif bisa memberikan secara penuh harta yang artinya seseorang bebas untuk mewakafkan harta itu kepada siapa saja yang ia kehendaki, baik orang yang berakal, tak sah wakaf, orang gila atau orang yang sedang mabuk, orang yang mampu bertindak secara hukum (rasyid). Implikasinya orang bodoh, orang yang sedang muflis dan orang lemah ingatan tidak sah mewakafkan hartanya.

Syarat-syarat Harta yang Diwakafkan (al-Mauquf)

Harta yang diwakafkan itu tidak sah dipindahmilikkan, kecuali apabila ia memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan oleh barang yang diwakafkan adalah barang yang berharga, harta yang diwakafkan harus diketahui kadarnya. Sehingga kalau harta itu tidak diketahui jumlahnya (majhul), maka pengalihan milik sama dengan tidak sah. Harta yang diwakafkan pasti dimiliki oleh orang yang berwakaf (wakif), berdiri sendiri dan tidak melekat kepada harta lain (mufarrazan) atau disebut juga dengan istilah (ghaira shai’).

Syarat Pelaksanaan Wakaf

Pelaksanaan wakaf dianggap sah apabila terpenuhi syarat-syarat, sebagai berikut:

  1. Wakaf harus orang yang sepenuhnya menguasai sebagai pemilik benda yang akan diwakafkan. Wakif harus mukallaf (akil baligh) dan atas kehendak sendiri.

  2. Benda yang akan diwakafkan harus kekal dzatnya, sehingga ketika timbul manfaatnya dzat barang tidak rusak. Harta wakaf hendaknya disebutkan dengan terang dan jelas kepada siapa dan untuk apa diwakafkan.

  3. Penerima wakaf haruslah orang yang berhak memiliki sesuatu, maka tidak sah wakaf kepada hamba sahaya.

  4. Ikrar wakaf dinyatakan dengan jelas baik dengan lisan maupun tulisan.

  5. Dilakukan secara tunai dan tidak ada khiyar (pilihan) karena wakaf berarti memindahkan wakaf pada waktu itu. Jadi, peralihan hak terjadi pada saat ijab qobul ikrar wakaf oleh wakif kepada nadzir sebagai penerima benda wakaf.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel