Pengertian Zuhud, Ciri-Ciri, Keutamaan, dan Contoh Perilakunya yang Wajib Diketahui

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Pengertian zuhud adalah upaya melupakan dunia untuk mencintai Allah SWT saja. Secara bahasa, zuhud berasal dari bahasa Arab yang artinya tidak ingin terhadap sesuatu atau meninggalkannya. Sedangkan secara istilah, pengertian zuhud adalah pola hidup dalam menjaga diri dari ketergantungan duniawi, sehingga hanya akan fokus pada akhirat.

Sementara, dikutip dari buku Ensiklopedi Islam (1994) disebutkan bahwa pengertian zuhud adalah meninggalkan kemewahan duniawi dengan mengharap kebahagiaan akhirat untuk memperoleh rida Allah SWT.

Bersikap zuhud tidak berarti lantas membenci harta dan menjalani laku hidup berkekurangan, melainkan tidak terlena terhadap kehidupan dunia. Artinya zuhud adalah bersikap minimalis, dan tidak membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan.

Untuk lebih rinci, berikut ini ulaan mengenai pengertian zuhud menurut para ahli beserta ciri-ciri orang yang mengamalkan, keutamaan, dan contoh perilakunya yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Sabtu (30/10/2021).

Pengertian Zuhud Secara Umum

Ilustrasi salat. (Foto: moslemforall.com)
Ilustrasi salat. (Foto: moslemforall.com)

Pengertian zuhud adalah upaya manusia mengalihkan perhatiannya jauh dari dunia. Orang yang bersikap zuhud adalah mereka yang hanya fokus pada kepentingan akhirat atau surgawinya. Meski menurut beberapa pendapat juga menyebutkan, zuhud bukan berarti melupakan dunia.

Jika dilihat secara kasat mata, pengertian zuhud adalah praktik yang tak memerlukan harta kekayaan di dunia. Tak hidup dengan mencari harta kekayaan seperti manusia kebanyakan. Orang yang zuhud hanya mencari harta seperlunya, asal cukup untuk bertahan hidup di dunia.

Bisa dikatakan, pengertian zuhud adalah keputusan melupakan dunia untuk mencintai Allah SWT saja. Melupakan angan-angan dan hanya melihat dunia dari sudut pandang “tidak membutuhkannya”. Zuhud adalah mengganggap kecil dunia.

Pengertian Zuhud Menurut Para Ahli

Ilustrasi salat. (Photo by rawpixel.com on Freepik)
Ilustrasi salat. (Photo by rawpixel.com on Freepik)

Sejumlah ulama berikut ini berpendapat lain mengenai pengertian zuhud, yaitu:

Imam Abu Sulaiman Ad-Darani

Pengertian zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan seseorang dari Allah SWT.

Imam Sufyan Ats-Tsauri

Pengertian zuhud adalah terbatasnya angan-angan.

Imam Junaidi

Pengertian zuhud adalah mengganggap kecil dunia dan menghapus pengaruhnya di hati.

Wahib bin Ward

Pengertian zuhud adalah tidak merasa putus asa tatkala harta benda dunia terlepas dari genggaman dan tidak merasa senang ketika ada perkara dunia yang datang.

Ibu ‘Ajibah

Pengertian zuhud adalah terbebasnya hati dari ketergantungan selain kepada Allah SWT.

Ciri-ciri Orang yang Mengamalkan Zuhud

Ilustrasi Membaca Al Qur’an Credit: freepik.com
Ilustrasi Membaca Al Qur’an Credit: freepik.com

Zuhud dapat dirasakan dalam batin seseorang. Dikutip dari Tri Wahyu Hidayati (2016), ciri-ciri orang yang zuhud antara lain:

  1. Mengetahui bahwa kehidupan dan kesenangan dunia hanyalah sementara.

  2. Mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu kekal dan lebih baik.

  3. Memandang bahwa dunia adalah tempat untuk menyiapkan kehidupan akhirat.

  4. Mengeluarkan dari hati kecintaan pada dunia.

  5. Memasukkan kecintaan pada Allah.

  6. Melepaskan diri dari ketergantungan pada makhluk.

  7. Mempunyai anggapan bahwa kebahagiaan bukan diukur dari materi, namun dari spiritualitas.

  8. Memandang bahwa harta dan jabatan adalah amanah untuk manfaat orang banyak.

  9. Menggunakan harta untuk berinfak di jalan Allah SWT.

  10. Meninggalkan hal-hal yang berlebihan meskipun halal.

  11. Menunjukkan sikap hemat, hidup sederhana, dan menghindari bermewah-mewahan.

  12. Menjaga anggota tubuh agar terhindar dari segala yang dapat menjauhkan diri dari Allah SWT (Misalnya menjaga dari bicara kotor, selalu menyebut nama Allah SWT, menjaga pandangan, dan lain sebagainya).

Tingkatan Zuhud

ilustrasi Al-Quran/freepik
ilustrasi Al-Quran/freepik

Menurut Imam Ahmad ada tiga tingkatan zuhud yang bisa dipahami:

  1. Orang awam menganggap zuhud adalah meninggalkan keharaman.

  2. Orang istimewa (khawash) menganggap zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang halal sekalipun melebihi kebutuhannya.

  3. Orang sangat istimewa (al-‘arifin) mengganggap zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang mengganggunya untuk mengingat Allah SWT.

Menurut Abdul Mun’im al-Hasyimi dalam bukunya “Akhlak Rasul” yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, ada lima faktor pemengaruh zuhud:

  1. Memikirkan kehidupan akhirat dengan menganggap dunia sebagai ladang akhirat.

  2. Menyadari bahwa kenikmatan di dunia bisa memalingkan hari dari mengingat Allah SWT.

  3. Menumbuhkan keyakinan bahwa memburu kehidupan dunia saja sangat melelahkan.

  4. Menyadari bahwa dunia sebagai bentuk laknat, kecuali dzikir, belajar, mengajar, dan pekerjaan yang hanya ditujukan pada Allah SWT.

  5. Merasakan dunia dari sudut pandang hina dan godaan yang bisa membahayakan kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Keutamaan Zuhud

Ilustrasi Al-Qur'an (Photo by Anis Coquelet on Unsplash)
Ilustrasi Al-Qur'an (Photo by Anis Coquelet on Unsplash)

Keutamaan zuhud adalah memiliki posisi paling utama setelah bertakwa kepada Allah SWT. Pasalnya, zuhud menjadikan seseorang mencintai Allah dengan segenap hatinya. Dalam hadis riwayat Ibn Majah, Rasulullah SAW bersabda, "Zuhudiah apa yang ada di sisi manusia, maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudiah apa yang ada di sisi manusia, maka manusia akan mencintaimu."

Adapun, tanda sifat zuhud pada manusia adalah tidak adanya rasa tamak pada harta orang lain dan justru suka memberi kepada orang lain. Hal ini pun bisa menjadi faktor keselamatan diri sebab dituliskan oleh Jamal Ma'mur orang yang tidak zuhud dunia ibarat orang yang mabuk atau tenggelam yang tidak mengetahui jalan karena lahir dan batinnya sibuk mencari dunia.

Dalil yang Menjelasakan Zuhud

Berikut beberapa manfaat membaca Al-Quran.
Berikut beberapa manfaat membaca Al-Quran.

Al-Qur’an Surat Al-Hadid ayat 23

Likai lā ta`sau 'alā mā fātakum wa lā tafraḥụ bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhụr

Artinya:

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Tafsir Al-Mukhtashar:

Supaya kalian tidak bersedih atas dunia yang luput dari tangan kalian, kalian juga tidak berbangga dengan apa yang Allah berikan kepada kalian dengan kebanggaan yang mengandung keangkuhan dan kesombongan.

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang menyombongkan diri dengan dunia yang dimilikinya, membanggakannya di depan orang lain. Orang- orang yang sombong itu adalah orang-orang yang kikir dengan harta mereka, mereka tidak menafkahkannya di jalan Allah, juga menyuruh orang-orang agar bersikap bakhil dengan menghiasinya bagi mereka.

Barangsiapa berpaling dari ketaatan kepada Allah, ia tidak merugikan kecuali dirinya sendiri, dan sama sekali tidak merugikan Allah. sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak membutuhkan mahklukNya, juga Maha Terpuji, Pemilik semua sifat yang baik dan sempurna, serta perbuatan baik yang berhak untuk dipuji karenanya.

Doa Rasulullah SAW

Ibnu ‘Umar pernah mendengar Rasulullah SAW melantunkan doa, “Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.” (HR.Tirmidzi, An Nasa’i, Al Hakim, dan Al Baghawi)

Contoh Perilaku Zuhud di Kehidupan Sehari-hari

Ilustrasi bersyukur. (iStockphoto)
Ilustrasi bersyukur. (iStockphoto)

Dalam buku Pendidikan Agama Islam (2010) yang ditulis Sri Prabandani dan Siti Maruroh disebutkan beberapa contoh perilaku zuhud yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari sebagai berikut:

  1. Bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan Allah SWT.

  2. Mencukupkan diri pada harta yang dimiliki, kendati hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

  3. Jika memiliki banyak uang, menyisihkannya untuk bersedekah dan tidak berfoya-foya berlebihan.

  4. Sederhana dalam berpenampilan, baik dari segi tempat tinggal, pakaian, ataupun makanan. Meskipun memiliki banyak uang, ia tidak pamer dan hidup bermewah-mewahan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel