Penggunaan GeNose Diusulkan Disetop, Apa Perlu?

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Pemakaian GeNose sebagai salah satu syarat perjalanan diusulkan untuk dihapus oleh sejumlah pihak. Alat tes ini dianggap tidak akurat dan memunculkan hasil negatif palsu dalam mendeteksi Covid-19.

Namun, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno, menilai jika pemakaian GeNose sudah teruji sejak pertama kali digunakan untuk melayani calon penumpang kereta api per Februari 2021.

"Setahu saya ada yang kedapatan positif (Covid-19 dari hasil tes GeNose) dan dilarang bepergian. Pertama kali yang menggunakan PT KAI dan ada yang positif juga," jelas Djoko kepada Liputan6.com, Sabtu (26/6/2021).

Djoko mengaku, dirinya telah beberapa kali memakai GeNose untuk syarat perjalanan. Dia pun menyebut hasil tes dari alat tersebut punya tingkat akurasi yang sama tingginya dengan rapid test antigen.

"Saya sering menggunakan GeNose dan bergantian dengan rapid tes. Hasilnya sama, Alhamdulillah negatif. GeNose murah dan tidak menyakiti," tutur Djoko.

Berdasarkan pengalaman tersebut, dia lantas mempertanyakan sejumlah pihak yang mengusulkan agar penggunaan GeNose sebagai salah satu syarat perjalanan dihapus.

Sudah Teruji

Warga meniupkan kantong saat menjalani tes deteksi COVID-19 dengan metode GeNose C19 usai terjaring razia penggunaan masker di Kelurahan Sudimara Barat, Kota Tangerang, Kamis (27/5/2021). Tes tersebut untuk menekan penyebaran corona di wilayah tersebut. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Warga meniupkan kantong saat menjalani tes deteksi COVID-19 dengan metode GeNose C19 usai terjaring razia penggunaan masker di Kelurahan Sudimara Barat, Kota Tangerang, Kamis (27/5/2021). Tes tersebut untuk menekan penyebaran corona di wilayah tersebut. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menurut dia, GeNose cenderung telah teruji lantaran sudah melewati proses panjang dan mengantongi izin dari pihak kesehatan.

"Apakah yang mempertanyakan sudah pernah ikut tes GeNose? Hasil negatif kemudian tes yang lain jadi positif? Tentunya yang dapat memberikan rekomendasi pihak kesehatan," ujar Djoko.

Sebelumnya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta agar penggunaan GeNose dihapus karena memiliki akurasi yang rendah sehingga menimbulkan lonjakan kasus Covid-19.

Senada, Ahli Biologi Molekuler Ahmad Utomo juga menyarankan agar pemerintah menggunakan alat skrining Covid-19 yang baku dan diakui secara internasional, seperti rapid test, swab antigen dan swab PCR

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel