Penghapusan PPnBM Mobil Disebut Tidak Bakal Membebani Negara

Krisna Wicaksono
·Bacaan 1 menit

VIVA – Upaya memulihkan perekonomian nasional yang terdampak oleh pandemi, terus diupayakan oleh pemerintah. Salah satunya, mendongkrak minat kaum menengah ke atas dan mereka yang bisnisnya moncer untuk membeli mobil.

Caranya yakni dengan mengeluarkan paket kebijakan relaksasi Pajak Penjualan Atas Barang Mewah atau PPnBM, untuk mendorong industri otomotif. Alasannya, selain karena industri ini terdampak cukup dalam, multiply effect dari industri ini cukup besar karena sektor pendukungnya juga cukup banyak.

“Diharapkan kebijakan ini menurunkan harga kendaraan bermotor, dan meningkatkan pembelian kendaraan bermotor. Skemanya yakni pemberian insentif fiskal PPnBM Ditanggung Pemerintah, yang ditargetkan berlaku 1 Maret 2021 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2021,” ujar Sekretaris Menteri Koordinator Perekonomian, Susiwijono Moegiarso melalui keterangan resmi, dikutip VIVA Otomotif Selasa 16 Februari 2021.

Dalam kebijakan itu, nantinya kendaraan yang menggendong mesin berkapasitas maksimal 1.500cc akan dibebaskan dari PPnBM selama 3 bulan pertama.

Susi mengaku, adanya relaksasi PPnBM tersebut bakal membuat negara berpotensi kehilangan sekitar Rp1,6 triliun sampai Rp2 triliun, namun akan terkompensasi dengan peningkatan permintaan serta produksi.

“Dengan tumbuhnya (permintaan dan produksi), itu akan naik dibandingkan tahun lalu. Sehingga, hitungannya akan lebih positif dibanding potential loss,” tuturnya.

Pengamat Ekonomi, Piter Abdullah melihat, langkah pemerintah ini sangat tepat jika sasarannya adalah kaum ekonomi menengah ke atas.

“Program ini akan memanfaatkan daya beli di masyarakat yang masih ada. Saya mendukung kebijakan ini, dalam rangka mendorong permintaan. Kalau kita kembalikan daya belinya, efeknya akan sangat besar bagi pertumbuhan permintaan,” ungkapnya.

“Pilihan untuk mendorong pembelian otomotif pengaruhnya baik, dampaknya dari hulu sampai hilir sangat
besar. Ini membantu industri otomotif mampu bertahan, sampai menunggu pandemi berakhir,” kata dia menambahkan.