Pengobatan Kanker pada Anak Pengaruhi Kesuburannya Ketika Dewasa?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Dari tiga jenis pengobatan utama kanker pada anak, baik pembedahan, radioterapi, maupun kemoterapi, berpotensi menimbulkan efek samping jangka panjang. Bahkan, hingga pasien tersebut beranjak remaja dan dewasa.

Seperti dikatakan Prof Dr Bidasari Lubis SpA(K) di dalam webinar bersama Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) pada Sabtu, 29 Mei 2021 bahwa efek jangka panjang pengobatan kanker pada anak yang kerap ditemui adalah gangguan fungsi organ, mulai dari mata, jantung, saraf, tulang, dan lain-lain.

Selain itu, lanjut Bidasari, ada potensi mengalami gangguan kekebalan tubuh, dan kemungkinan munculnya kanker kedua. Semua itu menimbulkan efek psikologis berupa gangguan perilaku kecemasan, dan depresi.

Bahkan, sebagaimana dikatakan Dr Achmad Kemal SpOG K-Fer dari Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), pengobatan kanker pada anak juga bisa berdampak pada organ dan sistem reproduksi.

"Efek langsung pada fungsi reproduksi pada perempuan berupa penurunan cadangan sel telur atau kegagalan ovarium yang berdampak pada gangguan kesuburan," kata Achmad.

Pasien Kanker Anak Perempuan Rentan Tak Alami Menstruasi?

Gejala Leukimia pada Anak / Sumber: iStockphoto
Gejala Leukimia pada Anak / Sumber: iStockphoto

Menurut Achmad, ketika pasien yang sudah menstruasi menjalani pengobatan kanker, umumnya memang terjadi dismenorea atau tidak menstruasi.

Namun, Achmad menyebut bahwa tak perlu khawatir, lantaran menstruasi dapat kembali normal setelah pengobatan. Hanya saja, tetap ada risiko kerusakan indung telur yang terjadi secara permanen.

"Kembalinya menstruasi pasca terapi bukan menjadi tolok ukur kesuburan pada penyintas kanker," katanya.

Terapi radiasi, lanjut Achmad, umumnya akan menyebabkan penurunan panjang rahim dan kegagalan bagian terdalam rahim. Selain itu, terganggunya hormon steroid yang dihasilkan indung telur sehingga memengaruhi pertumbuhan tulang, jantung, perkembangan seks sekunder, dan lain-lain.

Cadangan sel telur sebelum seorang anak atau orang dewasa terdiagnosa kanker juga akan memengaruhi risiko gangguan kesuburan di masa depan.

“Perempuan pada saat lahir sudah memiliki stok sel telur dalam jumlah tertentu, dan pada saat pubertas sekitar 300.000 sel telur yanga akan menurun sesuai usia kronologis. Pada kondisi tertentu, misalnya karena menjalani pengobatan toksik seperti kanker, akan membuat penurunan cadangan sel telur berkurang dengan cepat,” Achmad menjelaskan.

Penurunan Cadagan Sel Telur

Kecepatan penurunan cadangan sel telur ini sangat individual, tergantung kondisi pasien dan terapi yang didapatkan. Selain itu tergantung cadangan sel telur sebelum memulai terapi. Jika sebelum terapi sudah rendah, risiko gangguan kesuburan atau kegagalan indung telur akan lebih tinggi.

Guna mencegah hal tersebut, saat ini ada pilihan untuk preservasi fertilitas dengan menyimpan beku embrio, simpan beku oosit (sel telur yang belum dibuahi) jika perempuan belum memiliki pasangan, atau simpan beku ovarium. Pilihan lain adalah terapi dengan analog GnRH. Tetapi simpan embrio ini tidak cocok untuk pasien kanker anak karena belum memiliki pasangan.

Pada laki-laki, pengobatan kanker juga bisa menurunkan kualitas sperma atau mengganggu produksinya. Penyintas kanker anak laki-laki sebaiknya melakukan pemeriksaan sperma pasca pengobatan secara berkala.

Simak Video Berikut Ini