Pengoperasian Pembangkit 35 Ribu MW Melebihi Target Tahun ini

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (Persero) memperkirakan, pengoperasian pembangkit bagian dari program 35 ribu Mega Watt (MW) ‎melebih target tahun ini, akibat percepatan pembangunan pembangkit listrik.

Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienty Roekman mengatakan, pengoperasian ‎pembangkit bagian program 35 ribu Mega Watt (MW) pada tahun ini ditargetkan 2.600 MW, namun jumlah pasokan listrik baru tersebut akan bertambah lebih dari target.

"Tahun ini kita target 2.600 MW tahun depan 6 ribu MW. Kemungkinan target lebih tinggi,"‎ kata Syofvi, di Jakarta, Senin (11/11/2019).

 

Menurut Syofvi, bertamb‎ahnya pasokan listrik tersebut berasal dari pembangkit yang pengoperasiannya dipercepat, salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 7, berdasarkan rencana pembangkit tersebut beroperasi pada 2020, namun pembangunan pembangkit bisa dipercepat sehingga bisa beroperasi pada 2019.

‎"Karena kemungkinan Jawa 7 Kan bisa masuk tahun ini, lagi tes sudah masuk sistem belum komersial karena tesnya banyak sedang proses," tuturnya.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM sampai Kuartal III 2019 realisasi pembangunan pembangki 35 ribu MW yang telah memasuki tahap operasi sekitar 3.860 MW atau 11 persen, untuk tahap konstruksi sekitar 23.165 MW 65 persen, telah kontrak jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) sekitar 6.923 MW atau 20 persen, proses pengadaan sekitar 829 MW atau 2 persen, tahap perencanaan sekitar 734 MW atau 2 persen.

Dengan melihat penyelesaian pembangkit listrik telah beroperasi mencapai 3.860 MW atau 11 persen dan proyek yang telah kontrak mencapai sekitar33.947 MW atau 95,60 persen, maka total Pembangkit yang belum berkontrak 1.563 MWatau 4,40 persen yang belum kontrak.

Pemerintah Bakal Rem Pembangunan PLTU

Selain PLTGU Tanjung Priok untuk mengantisipasi krisis listrik di Jawa juga disiapkan beberapa proyek pembangkit listrik tambahan seperti PLTGU Muara Karang, PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Grati, Jakarta, Kamis (4/9/2014) (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Pemerintah berencana mengerem pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), untuk mengurangi polusi udara akibat pembakaran mesin pembangkit.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan,‎ sejumlah negara sudah berkomitmen untuk tidak menggunakan PLTU pada 2050 untuk mengurangi polusi udara, namun Indonesia belum mengambil sikap mengenai hal tersebut.

‎"Batubara banyak negara exit batubara 2050 Indonesia belum menjawab," kata Jonan, saat menghadiri perayaan hari listrik nasional, di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Rabu (9/10/2019).

Menurut Jonan, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru untuk mengerem ‎pembangunan PLTU, yaitu pembangunan PLTU hanya boleh dilakukan di dekat sumbernya di mulut tambang. Hal ini akan diatur dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPT).

"Saya minta di RUPTL kalau mau bangun PLTU harus mulut tambang, kalau tidak, tidak bisa," tegasnya.

Dia yakin hal tersebut bisa diterapkan, sebab saat ini jaringan listrik sudah tersambung, dengan begitu listrik dari pembangkit bisa disalurkan ke konsumen yang letaknya jauhdari pembangkit.

"Kan grid (jaringan) sudah dipasang, di Sumatera sudah tersambung ada tol listrik," tuturnya.

Jonan melanjutkan, sebagai alternatif pengganti keberadaan PLTU, pembangunan pembangkit kedepan diperioritaskan yang lebih bersih, berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) dan menggunakan gas.

"Nanti BPP naik, saya bilang gini coba caricara agar tidak tinggi kan harga gas sudah murah diatur di mid stream agar harga wajar," tandasnya. 

PLTU Suralaya Dituding Penyebab Polusi Jakarta, Ini Pembelaan PLN

PLTU Suralaya

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya menjadi sorotan belakangan ini, sebab diduga menjadi penyumbang polusi udara Jakarta oleh beberapa pihak.

PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Suralaya selaku merespon dugaan tersebut, dengan menjabarkan sejumlah fakta terkait pe‎ngoperasian PLTU dengan total kapasitas 4.025 Mega Watt (MW) tersebut.

General Manager PLTU Suralaya Amlan Nawir mengungkapkan, berdasarkan topografi PLTU Suralaya terkurung bukit-bukit yang ada di pinggiran Selat Sunda.

"Saya cerita topografi Suralaya, ini perbukitan. Suralaya itu dibalik bukit Selat Sunda," kata Amlan, di PLTU Suralaya, Cilegon Banten, Selasa (24/9/2019).

‎Untuk menanggapi kabar pencemaran udara Jakarta akibat PLTU, Indonesia Power pun menggandeng konsultan untuk mengevaluasi kondisi hasil pembakaran batubara dari PLTU Suralaya.

"Pencemaran Jakarta dari Suralaya, kami coba hier konsultan untuk melakukan riset. Ini data dilakukan PT Ganesha Environmental &Energy Services‎," tuturnya.

Dari hasil evaluasi, asap hasil pembakaran sebagian besar batubara terbawa angin ke arah utara dan selatan atau menuju Samudera Indonesia, sedangkan Jakarta berada di sisi timur pembangkt tersebut.

"Ada memang angin barat tapi relatif lebih kecil. Data menunjukan 60 persen kecepatan angin ke utara dan selatan.‎ Ini ke laut perginya," lanjutnya. 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: