Pengoperasian RS Siloam Cito Surabaya Ditunda, Tunggu Izin Pedagang

Mohammad Arief Hidayat, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Rencana manajemen Siloam Hospitals Group (SHG) membuka Rumah Sakit Siloam di kawasan mal City of Tomorrow (Cito) Surabaya, Jawa Timur, pada Februari ini tertunda. Itu terjadi karena warga penghuni apartemen dan pemilik gerai di Cito menolak. Di sisi lain, izin dari Pemkot Surabaya juga belum dikantongi.

Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana saat menginspeksi mendadak lokasi RS Siloam di kawasan Cito pada Rabu, 10 Februari 2021. Berdasarkan hasil sidak, dia menyampaikan bahwa RS Siloam belum membuat tembok penyekat dengan area mal yang bagus dan kuat.

Padahal, sebagian ruangan rumah sakit itu akan dibuat untuk penanganan pasien COVID-19. Tembok pembatas yang didirikan masih berbahan partisi yang mudah roboh jika dibentur benda keras. "Dinding, kalau bicara tegas, itu dinding (tembok), bukan partisi. Saat ini belum layak karena memang belum buka," kata Whisnu.

Baca: Paguyuban Mal Tolak RS Siloam Cito Dibuka untuk Pasien COVID-19

Di luar soal teknis, Whisnu juga menyampaikan soal penolakan warga penghuni apartemen dan pemilik gerai di Cito. Siloam, katanya, harus mengomunikasikan itu dan menyelesaikan perselisihan dengan warga terlebih dahulu sebelum beroperasi. "Kalau tidak ada penyelesaian, saya tidak akan buka," ujarnya.

Karena alasan itu, sampai sekarang, Pemkot Surabaya belum memberikan izin kepada RS Siloam untuk beroperasi di Cito. “Kalau mau tetap buka, sosialisasi. Toh, kita tidak akan memberikan izin kalau tidak ada sosialiasi. Warga harus dipahamkan, warga harus diajak keliling bahwa ini aman," katanya.

Di tempat yang sama, warga penghuni apartemen dan pemilik gerai di Cito kembali berdemo saat Whisnu melakukan sidak. Mereka tetap menyampaikan penolakan atas keberadaan RS Siloam itu. Alasannya sama dengan demo sebelum-sebelumnya. Pengunjung takut karena sekarang masih pandemi COVID-19 sehingga mal sepi.

"Ini sentra ekonomi. Sekarang banyak SPG yang keluar karena takut, income kita nol karena sepi pengunjung. Di satu sisi kita tetap harus bayar service charge karena kalau telat gerai ditutup," kata perwakilan pendemo, M Yazid.