Penguasa Dubai Sheikh Mohammed Retas Ponsel Mantan Istri Lewat Spyware Pegasus

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Abu Dhabi - Menurut putusan pengadilan Inggris yang diterbitkan Rabu (6/10), penguasa Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid Al-Maktoum penggunaan perangkat lunak mata-mata untuk meretas ponsel mantan istrinya.

Dilansir dari laman France 24, Kamis (7/10/2021), ponsel Putri Haya Bint Al Hussein (47) dan para pengacaranya serta rekan-rekannya diretas dengan spyware Pegasus selama kasus hak asuh perceraian pasangan itu di London, demikian yang ditemukan oleh Pengadilan Tinggi.

Syek (72), yang merupakan wakil presiden dan perdana menteri UEA, memberikan "otoritas tersurat maupun tersirat" untuk meretas telepon Putri Haya dengan perangkat lunak bernilai jutaan pound yang hanya tersedia untuk pemerintah nasional.

Hakim ketua, Andrew McFarlane menyimpulkan Sheikh Mohammed "siap untuk menggunakan kekuatan negara untuk mencapai apa yang dia anggap benar", menjelaskan peretasan terhadap setidaknya enam telepon telah dicoba.

"Dia telah melecehkan dan mengintimidasi (istrinya) baik sebelum keberangkatannya ke Inggris dan sejak itu," tambahnya.

Pada Maret 2020, McFarlane memutuskan kemungkinan bahwa syekh miliuner Emirat telah memerintahkan penculikan dua putrinya dengan pernikahan lain dan manakut-nakuti Putri Haya.

Oleh karena itu, ia terpaksa melarikan diri ke London pada 2019 dengan dua anak mereka, Al Jalila, 13, dan Zayed, sembilan tahun.

Setelah Sheikh Mohammed mengajukan permohonan agar kedua anak itu dikembalikan ke kerajaan Teluk, Putri Haya -- istri keenam dan saudara tiri Raja Yordania Abdullah II -- mengajukan anak-anak itu untuk diangkat ke pengadilan dan meminta non-molestation untuk dirinya sendiri.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Penyalahgunaan Perangkat Lunak

Spyware Pegasus buatan perusahaan Israel, NSO Group. JOEL SAGET/AFP
Spyware Pegasus buatan perusahaan Israel, NSO Group. JOEL SAGET/AFP

Penggunaan perangkat lunak Pegasus yang dikembangkan Israel, yang dapat melacak lokasi seseorang dan membaca teks dan email, terungkap pada Agustus 2020 setelah mendapat informasi dari pengacara Cherie Blair, yang suaminya adalah mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, kepalda tim hukum sang putri.

Kelompok hak asasi menuduh pengembang perangkat lunak NSO membiarkan spyware-nya memfasilitasi penindasan yang disponsori negara setelah digunakan untuk meretas telepon para aktivis dan jurnalis di seluruh dunia.

Sebuah sumber yang dekat dengan NSO mengatakan kepada AFP bahwa kelompok tersebut telah memutuskan layanan Pegasus kepada syekh pada Desember 2020, sejalan dengan prosedur ketat yang dinyatakan perusahaan terhadap penggunaan produk-produknya secara tidak sah.

"Setiap kali kecurigaan penyalahgunaan muncul, NSO menyelidiki, NSO memperingatkan, NSO menghentikan," kata seorang juru bicara.

Sampai hari ini, "NSO tidak ragu-ragu untuk mematikan sistem pelanggan lama, senilai di atas $300 juta", tambahnya.

Sheikh Mohammed telah membantah mengetahui peretasan itu tetapi pengacaranya menyarankan negara lain seperti Yordania dapat bertanggung jawab dalam upaya untuk mempermalukannya.

Dia sebelumnya telah membantah keras klaim yang dibuat oleh sang putri dalam kasus tentang kesejahteraan anak-anak mereka.

Reporter: Ielyfia Prasetio

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel