Penguatan Rupiah Bakal Terus Berlanjut?

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, mengatakan meskipun saat ini rupiah menguat, namun kemungkinan rupiah akan tertekan kembali.

“Rupiah diuntungkan dengan adanya demonstrasi besar-besaran di AS, efek sengketa AS dan China terkait masalah Hong Kong, dan ancaman Trump untuk keluar dari WHO,” kata Bhima kepada Liputan6.com, Minggu (7/6/2020).

Lebih lanjut Bhima mengatakan, menguatnya rupiah juga didukung oleh situasi geopolitik yang tak menentu dengan epicentrum di Amerika Serikat yang membuat pelaku pasar global mulai meninggalkan dolar AS.

Dollar index tercatat terkoreksi sebesar -1,87 persen dalam sepekan terakhir menjadi level 96,5. Dollar index adalah perbandingan dollar AS dengan 6 mata uang negara lain termasuk Euro dan Yen Jepang,” ujarnya.

Sehingga pelemahan dolar membuat aliran dana asing masuk ke negara berkembang. Oleh karena itu, ia menyebut masih terlalu dini sentimen positif rupiah, karena faktor dalam negeri seperti pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Jika dilihat dari situasi tersebut, Bhima menyarankan agar pemerintah sebaiknya melakukan perencanaan protokol kesehatan yang lebih baik, dan stimulus harus diarahkan untuk menyiapkan pelaku usaha memasuki fase pelonggaran, serta investor juga perlu mencermati penanganan covid-19 di Indonesia maupun dunia.

Maka ia menyimpulkan bahwa rupiah belum tentu akan menguat, karena jika demontrasi di Amerika Serikat sudah mereda, kemungkinan dollar akan melambung lagi.

“Belum tentu (rupiah terus menguat), pemerintah harus waspadai pembalikan arah dana asing, dolar AS bisa rebound lagi,” pungkasnya.

 

Terkuat di Masa Pandemi, Rupiah Tembus 13.885 per Dolar AS

Aktivitas penukaran uang dolar AS di gerai penukaran mata uang asing PT Ayu Masagung, Jakarta, Kamis (19/3/2020). Nilai tukar Rupiah pada Kamis (19/3) sore ini bergerak melemah menjadi 15.912 per dolar Amerika Serikat, menyentuh level terlemah sejak krisis 1998. (merdeka.com/Imam Buhori)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat siang melanjutkan penguatan dan menembus ke level baru psikologis di bawah 14.000 per dolar AS. Ini adalah level terkuat sejak era pandemi Corona.

Jumat siang, di pasar spot, rupiah menguat ke 13.885 per dolar AS, dibandingkan saat pembukaan perdagangan pagi ini yang sebesar 14.075 per dolar AS.

Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede berpendapat, berlanjutnya penguatan rupiah hari ini disebabkan sentimen domestik menyusul penerapan masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, yang diharapkan mampu mendorong produktivitas kegiatan ekonomi.

“Jika implementasi PSBB terbatas yang nantinya akan diikuti juga oleh implementasi normal baru dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan kasus baru lagi di kemudian hari, maka aktivitas perekonomian pada kuartal III tahun 2020 diperkirakan akan membaik dibandingkan kuartal II tahun 2020 yang diperkirakan akan mengalami kontraksi,” ujar dia, dikutip dari Antara, Jumat (5/6/2020).

Selain itu, dari sisi eksternal, mata uang “greenback” dolar AS juga telah melemah 1,56 persen dalam sepekan terakhir.

Pelemahan mata uang paling berpengaruh di dunia itu disebabkan oleh terakumulasinya ekspektasi dari para investor setelah pembukaan kembali kegiatan ekonomi di berbagai negara Asia.

“Terbukti dari sisi pasar Asia, sebagian besar mata uang Asia di minggu ini mengalami penguatan, kecuali Yen. Penguatan lebih lanjut dari Rupiah juga akibat adanya investor yang memindahkan asetnya dari pasar India, akibat adanya penurunan peringkat (downgrade rating) dari BAA2 menjadi BAA3 dan menurunnya prospek (outlook) dari stabil menjadi negatif,” ujar Josua.