Pengumuman pemenang Kompetisi Menulis Hari Ulang Tahun _The Conversation Indonesia_

Sobat TCID, Kompetisi Menulis Hari Ulang Tahun The Conversation Indonesia akhirnya usai juga.

Setelah proses diskusi yang panjang di dalam tim editorial kami, penjurian pun kelar dilaksanakan. Seperti janji kami, hari ini kami mengumumkan enam pemenang yang beruntung mendapatkan berbagai hadiah serta kesempatan untuk menerbitkan tulisannya di platform The Conversation Indonesia.

Kompetisi menulis ini adalah bagian dari perayaan ulang tahun ke-5 The Conversation Indonesia yang jatuh pada 6 September silam. Sebelumnya, kami melaksanakan pelatihan untuk mengadaptasi riset menjadi tulisan populer pada 1 September dan diskusi publik mengenai peran dosen dalam mendukung kebijakan berbasis bukti pada 7 September.

Dalam kompetisi menulis ini, kami menawarkan opsi bagi peserta untuk memilih satu dari empat tema besar: keadilan energi, one health, aktivisme digital, dan hak-hak digital.

Kami sangat gembira melihat antusiasme para peserta untuk berpartisipasi dalam kompetisi yang berlangsung pada 22 Agustus-11 September ini. Tulisan baru terus berdatangan hingga menjelang penutupan submisi, sehingga kami memutuskan untuk memperpanjang deadline pengumpulan artikel hingga dua hari. Dari 30 target tulisan yang diharapkan, kami menerima lebih dari 60 naskah.

Sebagai pekerja kreatif yang aktif di dunia tulis menulis, kami tahu rasanya terombang-ambing dalam semangat, kesenangan, kecemasan, dan kesulitan untuk memulai dan mengakhiri suatu tulisan. Oleh karenanya, kami percaya setiap buah pemikiran yang masuk pada kompetisi ini sangatlah berharga.

Berat bagi kami untuk memilah-milah kandidat juara dari banyaknya tulisan menarik yang masuk, langsung dari para pakar di bidangnya masing-masing.

Namun, proses penjurian harus tetap dilaksanakan untuk memutuskan pemenang yang tulisannya akan kami terbitkan.

Pemenang pertama dari kompetisi menulis ini jatuh pada Vivi Fitriyanti, Massita Ayu Cindy, dan Vivid Amalia Khusna dari Purnomo Yusgiantoro Center. Tulisan mereka, berjudul “Rp 192 triliun dari crowdfunding untuk meningkatkan akses energi di Indonesia”, menelisik tentang potensi pendanaan dari masyarakat umum untuk memperluas jangkauan terhadap energi terbarukan.

Widowati Maisarah, Mahasiswa Program Doktoral Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, muncul sebagai pemenang kedua dengan tulisannya yang bertajuk “Menjembatani jurang digital untuk mendukung aktivisme kelompok penyandang disabilitas”. Ia membahas persoalan kesenjangan digital yang membuat kelompok penyandang disabilitas kesulitan untuk berpartisipasi aktif di ranah maya demi memperjuangkan haknya.

Posisi ketiga dimenangkan oleh Detta Rahmawan, Justito Adiprasetio, dan S. Kunto Adi Wibowo dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Lewat tulisan yang berjudul “Konten spesifik, Komunitas dan Aksi Langsung: Bagaimana NGO lingkungan dapat menggunakan media sosial untuk memperluas akses aktivisme kepada anak muda”, mereka menekankan pentingnya organisasi lingkungan untuk menjadikan anak muda sebagai fokus dari kampanye media sosial mereka.

Selain mendapatkan kesempatan untuk diterbitkan tulisannya, para pemenang akan mendapatkan hadiah berupa sertifikat, merchandise, serta uang tunai sebesar Rp 3.000.000 untuk pemenang pertama, Rp 2.000.000 untuk pemenang kedua, dan Rp 1.000.000 untuk pemenang ketiga.

Tak lupa, kami juga memilih tiga partisipan sebagai honourable mentions, yang tulisannya juga akan mendapatkan kesempatan untuk terbit di The Conversation Indonesia.

Mohammad Ikhsan Shiddieqy, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menerapkan analisis One Health untuk keamanan pangan dengan analogi unik lewat naskahnya yang berjudul “Bagaimana memahami pendekatan One Health dari sepotong steak dan pizza?”.

Sementara, Auditya Saputra dari Sekolah Hukum Jentera, menyoroti pentingnya pemerintah menyediakan platform digital untuk menyuarakan aspirasi masyarakat langsung ke pembuatan kebijakan, seperti yang telah diterapkan di beberapa negara, alih-alih mengkriminalisasi masyarakat yang menyampaikan kritik mereka. Ia menekankan hal ini dalam tulisannya, “Menjadikan aktivisme digital lebih berdampak lewat portal partisipasi daring”.

Terakhir, Ilham Akhsanu Ridlo dari Universitas Airlangga mengulas secara visioner pendekatan integratif dan lintas bidang untuk kesehatan, berangkat dari potensi berkumpulnya populasi manusia dan titik penyebaran virus di beberapa dekade ke depan. Ini disampaikannya melalui naskahnya yang bertajuk “Kesehatan Planet: Upaya atasi kerentanan kesehatan di masa depan

Semua naskah pemenang akan mengikuti proses pengeditan bersama editor terkait untuk memastikan tulisan mereka memenuhi syarat penerbitan di The Conversation Indonesia

Kami tidak menutup kemungkinan bagi para peserta yang belum berkesempatan memenangkan kompetisi ini untuk mengirimkan ide tulisannya lewat tautan ini. Jika topik Anda terpilih, Anda dapat secara aktif berdiskusi dan berkolaborasi dengan para editor kami yang akan membantu Anda untuk menerbitkan artikel ilmiah populer yang mudah dipahami pembaca umum.

Akhir kata, sampai jumpa di Kompetisi Menulis The Conversation Indonesia berikutnya!