Pengunduran diri jaksa penuntut utama Tokyo, sebuah pukulan bagi Abe

TOKYO (Reuters) - Jaksa penuntut utama Tokyo akan mengundurkan diri setelah sebuah laporan bahwa ia berjudi secara ilegal selama keadaan darurat virus corona Jepang, kata media pada Kamis.

Peristiwa itu adalah sebuah pukulan untuk Perdana Menteri Shinzo Abe, yang mengalami penurunan dukungan publik terkait penanganan pemerintahannya pada pandemi.

Kepala Kantor Kejaksaan Tinggi Tokyo Hiromu Kurokawa, yang dianggap dekat dengan Abe, telah menjadi pusat pemberitaan terkait upaya pemerintah untuk meningkatkan usia pensiun bagi para jaksa penuntut setelah ia diizinkan tetap menjabat setelah pensiun pada usia 63 tahun.

Pemerintah Abe minggu ini mengabaikan desakan untuk memberlakukan RUU selama sesi parlemen saat ini yang akan meningkatkan usia pensiun jaksa menjadi 65 tahun dari 63 tahun, dan membiarkan kabinet menunda pensiun jaksa senior selama tiga tahun, langkah yang oleh para kritikus mengancam independensi peradilan.

Anggota parlemen dari partai oposisi dan lainnya juga mengatakan undang-undang itu bertujuan memberikan dasar hukum yang retroaktif terhadap keputusan untuk mempertahankan Kurokawa di posnya.

Dalam peristiwa terakhir, Kurokawa didera oleh reaksi media sosial atas laporan media bahwa ia diduga bermain mahjong untuk mendapatkan uang selama keadaan darurat Jepang, yang berpotensi melanggar pedoman jarak sosial. Perjudian adalah ilegal di Jepang, dengan beberapa pengecualian.

Abe mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintah berusaha untuk mengkonfirmasi fakta dari masalah ini.

"Secara alami, akan ada kritik (atas Kurosawa)," kata analis politik independen Atsuo Ito. "Tentu saja, itu akan merusak."

Dukungan publik untuk Abe telah menurun tajam karena apa yang dikatakan para kritikus sebagai penanganannya yang ceroboh terhadap wabah corona, yang telah menyebabkan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu memasuki resesi.

Abe diperkirakan akan mencabut keadaan darurat di lebih banyak wilayah pada Kamis karena infeksi baru menurun, bergerak untuk melanjutkan kembali kegiatan ekonomi yang sangat dibutuhkan.

Jepang belum memiliki lonjakan kasus yang terlihat di banyak negara lain, dengan 16.433 kasus yang dikonfirmasi termasuk 784 kematian pada hari Rabu, menurut NHK.