Pengunggah Foto Bugil PNS Pacitan Orang Bekasi  

TEMPO.CO, Pacitan - Penyebaran foto bugil pegawai negeri sipil (PNS) Pacitan, Jawa Timur, di jejaring sosial Facebook diduga bermotif pemerasan. Dugaan pemerasan ini berdasarkan pengakuan tersangka pengunggah foto, Agustomo, warga Kelurahan Marga Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat. Agustomo ditangkap petugas Kepolisian Resor Pacitan di Bekasi beberapa waktu lalu.

Menurut keterangan polisi, tersangka mengaku sebelumnya kenal dan berkomunikasi dengan PNS wanita berinisial R melalui jejaring sosial Internet. Namun, dalam profil Facebooknya, tersangka membuat profil palsu termasuk foto profil yang dipampang. Tak hanya itu, tersangka juga mengaku pernah bertukar Personal Identification Number (PIN) BlackBerry Messenger (BBM) dan berkomunikasi melalui BBM dengan korban.

Tak dijelaskan bagaimana pelaku bisa mendapatkan foto bugil korban hingga akhirnya foto-foto bugil itu digunakan sebagai alat untuk memeras korban. »Pelaku meminta jatah uang Rp 1,5-2 juta per bulan. Kalau tidak, foto-foto korban akan disebar,” kata Kepala Subbagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Pacitan Ajun Komisaris Wahyu Satriyo Widodo, Senin, 16 April 2012.

Pelaku sempat beberapa kali berkomunikasi melalui telepon seluler dengan korban, baik saat mengancam, sebelum menyebarkan foto, maupun usai menyebarkan foto ke Facebook. Karena tak dituruti korban, pelaku sengaja mengunggah dan mentautkan foto bugil korban ke tampilan dinding Facebook resmi milik Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Kabupaten Pacitan, 21 Maret 2012 lalu.

Dalam akun Facebook Dishub Kominfo Pacitan itu terpampang sekitar empat foto bugil staf di Bagian Umum Pemerintah Kabupaten Pacitan tersebut. Namun, akhirnya Facebook tersebut diblokir dan tidak bisa dibuka untuk umum.

Polisi melacak keberadaan pelaku melalui jaringan telepon yang pernah digunakan pelaku untuk menghubungi korban. Tersangka terancam dijerat Pasal 27 yang ancaman pidananya diatur dalam Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman penjara maksimal enam tahun atau denda Rp 6 miliar.

Tersangka juga diancam dengan Pasal 369 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pemerasan dengan ancaman pidana penjara maksimal empat tahun.

Kepolisian masih mengembangkan kasus ini untuk melihat kemungkinan adanya keterlibatan orang lain atau jaringan yang menjalankan modus pemerasan ini. »Proses (penyidikan) masih berjalan,” kata Kepala Kepolisian Resor Pacitan Ajun Komisaris Besar M Agung Budijono.

Polisi juga akan mengkonfrontir keterangan tersangka dan korban sebab keterangan keduanya berbeda. Korban mengaku telepon seluler yang menyimpan foto pribadinya itu pernah hilang. Tidak dijelaskan bagaimana, kapan, dan di mana telepon selulernya itu hilang.

ISHOMUDDIN

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.