Pengunjuk rasa bakar gedung Kongres Guatemala untuk menuntut pengunduran diri presiden

·Bacaan 2 menit

Guatemala City (AFP) - Ratusan warga Guatemala membakar sebagian gedung Kongres pada Sabtu dalam sebuah protes yang menuntut pengunduran diri Presiden Alejandro Giammattei, menyusul pengesahan anggaran yang telah memicu kemarahan di negara Amerika Tengah yang miskin itu.

Api di gedung legislatif dapat dilihat dari jalan di Guatemala City, dan juru bicara Palang Merah mengatakan kepada wartawan bahwa kelompok tersebut telah merawat beberapa orang karena tidak sadarkan diri.

Protes damai lainnya, juga mendesak Giammattei untuk mundur, terjadi di depan istana pemerintah lama di pusat bersejarah ibukota, tidak jauh dari Kongres.

Membawa bendera nasional dan spanduk bertuliskan "Tidak ada lagi korupsi," "Giammattei keluar" dan "Mereka berurusan dengan generasi yang salah," para pengunjuk rasa memenuhi alun-alun di Guatemala City di depan istana lama.

Ketidakpuasan dan kemarahan yang meluas di Guatemala terhadap pemerintahan Giammattei dan Kongres disebabkan oleh kurangnya sumber daya untuk memerangi pandemi virus corona, serta anggaran baru.

Kongres Guatemala, yang didominasi oleh partai konservatif pro-pemerintah, minggu ini menyetujui anggaran hampir 13 miliar dolar AS yang merupakan terbesar dalam sejarah negara itu.

Sebagian besar dana akan disalurkan ke infrastruktur yang terkait dengan bisnis besar, memicu kemarahan di negara di mana kemiskinan tersebar luas dan separuh anak di bawah lima tahun kekurangan gizi.

Para analis juga telah memperingatkan bahwa sepertiga dari anggaran perlu dibiayai oleh hutang.

Kongres negara itu juga telah menyetujui 3,8 miliar dolar AS untuk memerangi pandemi virus corona, tetapi kurang dari 15 persen dari dana itu telah diinvestasikan.

Wakil presiden Giammattei mengatakan Jumat malam bahwa dia telah meminta presiden untuk mengundurkan diri bersamanya.

"Demi kebaikan negara, saya memintanya agar kami menyampaikan pengunduran diri kami bersama," kata Guillermo Castillo dalam pesan yang diposting di media sosial.

Dia juga dikabarkan telah mengatakan kepada presiden bahwa "ada yang tidak beres," dan mengakui adanya ketegangan antara dirinya dan kepala negara.

Giammattei, seorang dokter berusia 64 tahun, berkuasa pada bulan Januari dengan janji untuk memberantas korupsi dan memerangi kejahatan terorganisir.

Tetapi masa kepresidenannya didominasi oleh kontroversi mengenai penanganannya terhadap virus corona, terutama kekurangan rumah sakit di negara itu.

Dia juga secara terbuka berdebat dengan wakil presidennya, yang pada Mei mengungkapkan keduanya secara pribadi berselisih tentang tanggapan terbaik terhadap pandemi Covid-19.

ec/dga/to/st