Pengusaha Properti Mulai Kembangkan Konsep Hunian TOD di Depok

Liputan6.com, Jakarta - Pengembangan properti dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) menjadi primadona dalam sektor properti. Sebab konsep yang mengintegrasikan hunian dengan moda transportasi umum, menjadi salah satu faktor laris manisnya konsep hunian kekinian ini.

Melalui konsep ini, masyarakat dimudahkan dengan tidak harus menggunakan kendaraan pribadi dalam aktivitasnya yang kebanyakan berada di Jakarta. Tinggal menuju ke terminal maupun stasiun KRL yang berada di dalam satu kawasan dengan hunian.

Mengenal konsep TOD, masyarakat akan menemukan kebanyakan dikembangkan dengan bentuk superblok atau mixed use development yang menyatukan beragam produk properti dalam satu kesatuan. Salah satu contohnya adalah yang dikembangkan oleh Trivo Group di Kota Depok.

Kawasan TOD dengan nama MetroStater Superblock yang berlokasi di jalan utama Kota Depok ini menggabungkan hunian berupa apartemen, dengan pusat perbelanjaan Mall dan pusat sentra bisnis berupa ruko yang menghubungkan Jalan Margonda Raya dengan Stasiun Depok Baru.

"MetroStater Superblock menjadi contoh hunian yang mengusung konsep TOD murni karena terintegrasi langsung dengan Terminal Depok, serta berjarak hanya 2 menit berjalan kaki menuju Stasiun Commuter Line Depok Baru," ujar President Director, Robert Yapari, Jumat (29/11/2019).

Lebih lanjut Robert menuturkan, dengan melihat potensi kebutuhan millennials untuk 5 tahun kedepan, hunian ini diklaim mengedepankan harga hunian yang terjangkau dan dengan cara bayar yang fleksibel.

Untuk harga yang ditawarkan, MetroStater Superblock dibanderol mulai dari harga Rp 500 jutaan. Menariknya tipe studio tersebut berbeda dari proyek apartemen lainnya, ukurannya lebih besar.

Saat ini Trivo Group telah menggandeng Bank BTN dalam pembiayaan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) yang akan memudahkan pembeli memiliki unit di MetroStater Superblock.

Mengubah Wajah Jakarta Berbasis TOD, Seperti Apa Konsepnya?

Di Indonesia, konsep ini diramalkan akan menjadi primadona yang paling dicari di masa depan. Apalagi pemerintah saat ini tengah gencar-gencarnya melakukan pembangunan infrastruktur. (Image: Pexels)

Jakarta nampaknya masih menjadi primadona. Buktinya saja, warga dari luar Ibu Kota masih terus berdatangan.

Hal tersebut membuat Pemprov DKI Jakarta memutar otak lantaran jalan-jalan yang semakin menggila karena macet.

Perlahan tapi pasti, Pemprov DKI berbenah. Trotoar yang ada di jalan-jalan protokol dibuat nyaman untuk pejalan kaki. Ini dilakukan agar masyarakat mau beralih menggunakan transportasi publik ketimbang kendaraan pribadi.

Tak hanya itu, kini semakin banyak pedestrian atau jalur pejalan kaki yang dibuat semakin lebar agar mereka bisa leluasa berjalan. Tak sekedar diperbaiki, pedestrian itu juga dibuat cantik. Tanaman-tanaman atau hiasan-hiasan kecil yang ditata rapih menambah estetika jalur pedestrian. Sungguh memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya.

Salah satu perubahan sangat terasa di daerah Dukuh Atas. Dukuh Atas yang dulunya nampak berantakan lantaran banyaknya lalu lalang kendaraan, kini sudah tidak lagi.

Dukuh Atas disulap menjadi Taman Kendal. Taman Kendal dulunya merupakan jalan yang dilalui berbagai kendaraan untuk melakukan putar balik dari Jalan Kendal ke arah Bundaran HI atau sebaliknya.

Taman Kendal atau Terowongan Kendal dipenuhi mural yang artistik. Jika malam hari, lampu berwarna-warni semakin mempercantik lukisan-lukisan mural tersebut.

Adanya Taman Kendal ini untuk mendukung keberadaan MRT Jakarta. Ya, Moda Raya Terpadu atau MRT sudah mulai beroperasi sejak 24 Maret 2019 lalu.

Wilayah Dukuh Atas ini nantinya akan disulap oleh PT MRT Jakarta bersama Pemprov DKI Jakarta menjadi daerah Transit Oriented Development (TOD) atau Kawasan Berorientasi Transit (KBT).

Menurut Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi Tuhiyat, konsep TOD ini juga sesuai dengan keinginan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Ini TOD namanya urban regeneration, bagaimana Kota Jakarta menjadi kota yang berbudaya, ramah, tidak lagi egosentris menggunakan kendaraan pribadi dan sebagainya supaya lebih beradab," ujar Tuhiyat.

PT MRT Jakarta memang bercita-cita menjadikan para penggunanya warga Ibu Kota untuk lebih beradab. Terutama ketika menggunakan kereta bawah tanah tersebut. Jika sudah beradab ketika naik MRT, maka diharapkan bisa terus hingga keluar setelah naik MRT.

"Pertama, gaya hidup masyarakatnya sudah beralih. Kita (MRT Jakarta) mengubah budaya orang. Pertama dimulai dari ketika menaiki eskalator. Saya iri dengan Singapura, Hongkong, kok bisa ya dia antre kaya di elevator, eskalator, pasti dia sebelah kiri kalau mau stand. Jadi kita pelan-pelan, itu namanya mengeducated budaya seperti itu," ucap Tuhiyat.

Jika ketika masyarakat Ibu Kota pergi ke Singapura bisa mengikuti segala peraturan yang ada di sana, makan jika diterapkan di Jakarta pun seharusnya susah. MRT Jakarta melakukan berbagai cara agar masyarakatnya bisa berubah bahkan hingga bekerjasama dengan voulenteer atau relawan. Sampai pada akhirnya, di bulan keempat MRT berjalan, perlahan masyarakat pengguna MRT mulai tertib.

"Yang kedua kita educated adalah cashless. Jangan sampai ada cash di semua stasiun kita, harus cashless," kata Tuhiyat.

Kemudian, keberadaan MRT Jakarta juga ingin membudayakan jalan kaki. Oleh karena itu, trotoar bagi pedestrian diperbaiki. Sepanjang jalan mulai dari Monas, Bundaran HI, hingga Jalan Sudirman pun kini sudah memiliki trotoar pedestrian yang lebar dan sangat layak untuk pejalan kaki.

Selain itu, nantinya juga akan dibuat jalur sepeda agar para pengguna MRT bisa menggunakan sepeda ketika akan atau setelah naik MRT untuk tiba ke tempat tujuannya. Hal itu juga sesuai dengan Gubernur Anies yang mulai bersepeda ketika hendak berkantor di Balai Kota Jakarta.

5 Wilayah akan Disulap Menjadi TOD

Rancangan Transit Oriented Development atau TOD dari PT MRT Jakarta. (Liputan6.com/Devira Prastiwi)

PT MRT Jakarta saat ini sedang menunggu Panduan Rancang Kota atau revisi dari Peraturan Guberbur (Pergub) Nomor 140 Tahun 2017 tentang Penugasan PT MRT Jakarta sebagai Operator Utama Pengelola Kawasan TOD.

Dengan Pergub tersebut, PT MRT Jakarta diberikan tugas untuk bekerjasama dengan pengembang atau para pemilik gedung untuk mewujudkan kawasan terpadu berbasis TOD.

"Kita ada PRK, Panduan Rancang Kota atau Pergub 140 yang sekarang sudah ada di Pak Gubernur. Mudah-mudahan keluar sebelum tahun ini berakhir. Itu (Pergub 140) untuk membangun 5 kawasan yang namanya TOD atau Kawasan Berorientasi Transit (KBT). Apa sih KBT itu? KBT itu terjadinya connecting antarsesama kita, antarkita dengan transport, sehingga orang mudah aksesnya," kata Tuhiyat.

Wilayah pertama yang akan diubah menjadi TOD adalah kawasan sekitar Dukuh Atas. Di wilayah ini bahkan sudah dimulai setelah diresmikannya Taman Kendal atau Terowongan Kendal oleh Gubernur Anies.

"Diawali dengan peresmian oleh Pak Gubernur dan sekarang kita start dari Jalan Kendal yang di bawah. Kendal itu kan tadinya untuk akses putar balik, kita tutup. Kita mulai dari situ, lalu ke Railink juga, jadi jalan bagus," kata Tuhiyat.

Nantinya di wilayah itu akan didirikan rusun atau apartemen. Keberadaannya akan berada dalam radius 700 meter dari Stasiun Dukuh Atas MRT Jakarta. Sehingga, penghuninya nanti diharapkan menggunakan transportasi publik. Baik dengan commuterline di Stasiun Sudirman, MRT, atau Transjakarta di Dukuh Atas.

Wilayah kedua yang masuk dalam konsep TOD adalah Istora Senayan, Jakarta Pusat. Istora Senayan dinilai strategis mengingat lokasinya dekat pusat bisnis SCBD dan sarana olahraga di Gelora Bung Karno.

"Paralel dengan itu (Dukuh Atas), kita akan KBT kan kawasan Istora Senayan karena itu kawasan elite, kawasan center. Jadi kalau ada orang yang mau ke SCBD, mau olahraga dan sebagainya bisa. Disitu nanti terconnecting semua," papar Tuhiyat.

"Tematiknya, Istora Senayan bukan untuk hunian, tapi kita buat denah untuk connecting. Bagaimana dia kalau mau ke sarana olahraga. Lihat saja contoh-contoh yang ada di London, kemudian ada di Hongkong, posisinya seperti itu, kira-kira ada jalur sepeda dan sebagainya," sambung dia.

Wilayah ketiga adalah Blok M Asean. Di wilayah ini terdapat pusat perbelanjaan dan terminal, yaitu Pasaraya Blok M dan terminal Blok M. Nantinya semua akan terkoneksikan. Selain itu, di kawasan Blok M terdapat beberapa taman. Taman-taman ini nantinya akan diperbaiki oleh Gubernur DKI Jakarta. Setelah diperbaiki, taman-taman tersebut akan juga dijadikan sebagai Pusat Baca Nasional.

"Saya rapat dengan Pak Gubernur, (Blok M) mau dijadikan posisi untuk Komite Buku Nasional menjadi microlibrary, jadi orang bisa baca disitu, itu akan diset-up. Jadi orang baca di mana-mana, Jakarta akan jadi Pusat Baca Dunia, nantinya akan dijadikan seperti itu. Temanya memang seperti itu," ucap Tuhiyat.

Pembangunan hunian juga akan dilakukan di kawasan Blok M. Sehingga nantinya, akan ada koneksi antara hunian, taman, pusat perbelanjaan, dan transportasi.

Wilayah keempat yang akan dijadikan TOD adalah Fatmawati, Jakarta Selatan. Mengingat cukup banyaknya masyarakat yang berasal dari selatan Ibu Kota, nantinya juga akan dibangun hunian di wilayah tersebut.

"Fatmawati, ini ada pusat selatan kota, progresif sifatnya, kenapa? Karena menampung dari arah Cinere dan sebagainya. Bagaimana nantinya Fatmawati diset-up ada kawasan vertikal dan garden, taman," terang Tuhiyat.

Wilayah kelima adalah Lebak Bulus, Jakarta. Di wilayah ini nantinya juga akan dibangun hunian bagi warga Ibu Kota. Wilayah Lebak Bulus ini terdapat Stasiun MRT, Transjakarta, juga terminal. Oleh karena itu, lokasinya menjadi sangat strategis untuk dijadikan sebagai pengembangan TOD.

Yang jelas, semua konsep hunian adalah vertikal atau ke atas. Meski tak menutup kemungkinan adanya pembangunan dengan konsep horisontal. Jalur-jalur sepeda dan kantong-kantong parkir juga diusahakan ada di sekitar Stasiun MRT. Hal itu untuk memudahkan para penggunanya jika hendak menggunakan transportasi MRT. 

Konsep TOD

Pekerja beraktivitas di sekitar proyek Depok Metro Stater di Depok, Jawa Barat, Senin (17/6/2019). Proyek ini nantinya akan berbasis Transit Oriented Development (TOD) yang mensinergikan hubungan antarmoda dengan berbagai tipe transportasi. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Transit Oriented Development (TOD) atau Kawasan Berorientasi Transit (KBT) merupakan perancangan suatu kawasan untuk menyatukan masyarakat kota, kegiatan perkotaan, gedung dan bangunan, serta ruang publik secara bersamaan.

Kemudian, dalam kawasan itu juga dilengkapi fasilitas pejalan kaki dan pesepeda yang memadai serta dekat dengan lokasi transit untuk menjangkau bagian kota lainnya.

Setidaknya ada enam prinsip konsep TOD. Pertama, pedestrian, bagaimana tersedianya jalur pejalan kaki yang memadai, nyaman, dan aman.

Kedua, tersedianya jalur sepeda yang baik agar dapat mendukung para pengguna sepeda. Ketiga konektivitas, mobilitas atau pergerakan masyarakat yang terhubung saat melakukan aktivitas, terutama akses terhadap tempat tinggal dan transportasi publik.

Keempat transportasi publik, tersedianya ragam pilihan transportasi publik yang cepat dan mudah dijangkau agar masyarakat tak lagi menggunakan kendaraan pribadi.

Kelima tempat parkir, pengurangan lahan parkir kendaraan bermotor, gantikan dengan lahan sepeda dan jalur pedestrian, serta buat mahal tarif parkir agar pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi publik.

Keenam adalah pemadatan. Ini adalah bagaimana memadatkan permukiman dan area komersial di dekat stasiun transit.

Indonesia atau Jakarta tepatnya memang ingin mencontoh berbagai negara yang sudah berhasil menerapkan TOD. Misalnya saja Jepang. Beberapa kota di Jepang berhasil membuat stasiun MRT berkonsep TOD, contohnya Toyama Light Rail di Toyam, Tama New Town Project, Tokyo, dan Nagoya. Kota-kota lain di Jepang juga berhasil menerapkan TOD dan kini masih terus dikembangkan oleh Jepang hingga 2045 mendatang.

Negara selanjutnya adalah Hongkong, Tiongkok sudah mulai memiliki beberapa wilayah yang dikembangkan dengan konsep TOD, seperti Lohas Park , Olympian City, dan Tung Chung. Sekitar 90 persen warga Hongkong melakukan aktivitas sehari-hari dengan menggunakan transportasi publik.

Selanjutnya, Curitiba di Brazil mulai membuat area khusus untuk pejalan kaki sejak 1972. Selama bertahun-tahun, Curitiba telah terintegrasi zonasi dan transportasi untuk menempatkan pembangunan kepadatan tinggi di samping transportasi kapasitas tinggi.

Integrasi daerah-daerah dengan kepadatan tinggi itu diatasi dengan transportasi berkapasitas besar seperti Bus Rapid Transit atau BRT. 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: