Pengusaha Tak Kaget Indonesia Masuk ke Jurang Resesi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (year on year/yoy), dengan kata lain Indonesia resesi.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, para pengusaha tidak terlalu kaget dengan pernyataan Indonesia resesi. Hal ini lantaran sesuai dengan prediksi sebelumnya.

“Ini bukan output yang mengagetkan karena sudah bisa kita prediksi sebelumnya, dan kami tetap positif bahwa di kuartal IV dan kedepannya akan lebih baik karena faktor-faktor ekonomi yang cukup mendukung,” kata Shinta kepada Liputan6.com, Kamis (5/11/2020).

Faktor pendukung tersebut diantaranya, adanya peningkatan produktivitas dalam jangka pendek. Ini misalnya dorongan normalisasi ekonomi yang lebih kuat dari berbagai partner dagang di Asia Pasifik, konsumsi akhir tahun, proyeksi peningkatan distribusi stimulus untuk korporasi.

Serta proyeksi pengendalian pandemi yang lebih positif. Itu karena temuan vaksin yang mendukung normalisasi ekonomi, dan sebagainya.

“Di kuartal IV ini kami harap pemerintah bisa bekerja lebih keras lagi untuk memacu normalisasi ekonomi dan peningkatan confidence, konsumsi masyarakat juga, menggenjot stimulus baik supply maupun demand,” jelasnya.

Dia mengatakan, kondisi kita sangat jauh berbeda dengan China yang bisa keluar dari krisis dalam 1 kuartal karena supporting faktor-nya tidak sama. Selain itu, kemampuan ekonomi Indonesia tidak sekuat China untuk membendung pandemi.

Confidence pasar global terhadap iklim usaha Indonesia dan level produktivitas ekonomi kita juga lebih rendah,” ujarnya.

Oleh karena itu, jika Indonesia tidak bekerja keras menciptakan iklim ekonomi yang positif dipastikan resesi akan berkelanjutan..

Dia juga mengusulkan agar pemerintah terus menerus menstimulasi kegiatan ekonomi masyarakat dan pelaku usaha, serta terus meningkatkan produktivitas di sektor-sektor ekonomi yang masih potensial di saat krisis.

Lalu, kondisi technical recession ini bisa berkepanjangan karena cukup sulit bagi Indonesia untuk bisa memacu kinerja dan produktivitas ekonomi nasional selama pandemi masih berlangsung.

“Karena kenyataannya peningkatan confidence konsumsi masyarakat tidak bisa diciptakan hanya dengan stimulus-stimulus konsumsi,” pungkasnya.

Indonesia Resmi Resesi, Ekonomi Minus 2 Kuartal Berturut-Turut

Pedagang berjualan makanan ringan di bantaran Kanal Banjir Barat dengan latar belakang gedung pencakar langit di Jakarta, Kamis (6/8/2020). BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II/2020 minus 5,32 persen akibat perlambatan sejak adanya pandemi COVID-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Pedagang berjualan makanan ringan di bantaran Kanal Banjir Barat dengan latar belakang gedung pencakar langit di Jakarta, Kamis (6/8/2020). BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II/2020 minus 5,32 persen akibat perlambatan sejak adanya pandemi COVID-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 minus 3,49 persen. Dengan begitu, Indonesia resmi resesi setelah mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif sdalam dua kuartal berturut-turut.

Catatan ini sesuai banyak perkiraan bahwa Indonesia akan jatuh ke lubang resesi pada kuartal ketiga. Bahkan, angka tersebut lebih tinggi dari ramalan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang minus 3 persen.

"Ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga secara tahunan (year on year/yoy) masih mengalami kontraksi sebesar 3,49 persen," jelas Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, Kamis (5/11/2020).

Namun demikian, Suhariyanto mengatakan, jika dibanding pencapaian di kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi nasional masih tumbuh lebih bagus di kuartal III ini.

"Sehingga secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-III 2020 itu masih mengalami kontraksi sebesar 2,03 persen," jelasnya.

Suhariyanto menambahkan, pertumbuhan ekonomi kuartal III yang minus 3,49 persen juga masih lebih baik dibanding triwulan kedua yang terkontraksi 5,32 persen.

"Artinya terjadi perbaikan dan tentunya kita berharap di kuartal IV situasi akan menjadi membaik. Apalagi dengan adanya pelonggaran PSBB," ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: