Peningkatan aktivitas pertanian terkait dengan kenaikan kasus malaria: riset dari 16 negara Afrika

<span class="caption">Bila dilakukan secara tidak berkelanjutan, pembangunan pertanian dapat membahayakan kesehatan manusia. </span> <span class="attribution"><span class="source">Nikada vi GettyImages</span></span>
Bila dilakukan secara tidak berkelanjutan, pembangunan pertanian dapat membahayakan kesehatan manusia. Nikada vi GettyImages

Artikel ini untuk memperingati Hari Malaria Sedunia, 25 April.

Populasi Afrika diperkirakan bakal melonjak tiga kali lipat pada 2100. Artinya, kebutuhan komoditas pangan, air, dan pertanian juga akan meningkat.

Guna memenuhi kebutuhan ini, pemerintah Afrika dan lembaga pembangunan telah mendirikan proyek pertanian besar. Misalnya, Coalition for African Rice Development, sebuah kerangka kebijakan antar-negara, menetapkan sasaran untuk melipatgandakan produksi beras dari 28 juta ton pada 2018 menjadi 56 juta ton pada 2030. Pemerintah juga meningkatkan perdagangan internasional untuk produk pertanian.

Pembangunan sektor pertanian kerap melibatkan ekspansi lahan pertanian baru dan praktik intensifikasi melalui irigasi atau pupuk untuk meningkatkan hasil panen. Upaya pembangunan ini dapat meningkatkan kekayaan rumah tangga, perawatan kesehatan, pendidikan, dan produk domestik bruto suatu negara.

Sayangnya, jika dilakukan dengan cara yang salah, hal itu juga dapat merusak lingkungan. Pertanian dapat berkontribusi pada deforestasi, emisi karbon, polusi air dan udara dan kehilangan keanekaragaman hayati

Efek ini dapat membahayakan kesehatan manusia. Beberapa studi menemukan aktivitas pertanian terkait dengan penyakit menular seperti malaria, Skistosomiasis dan ulkus Buruli .

Pertanian selalu terkait erat dengan malaria. Revolusi pertanian membawa orang untuk hidup berdekatan dan dekat dengan air. Namun, hubungan antara pertanian dan malaria masih belum bisa dipahami secara komprehensif.

Untuk menambah pengetahuan tentang ini, kami meneliti apakah malaria pada anak di sub-Sahara Afrika bervariasi di berbagai jenis lanskap pertanian. Kami juga bertanya apakah berbagai bentuk pertanian meningkatkan atau mengurangi risiko malaria pada anak. Kami menganalisis penggunaan lahan pertanian irigasi dan tadah hujan serta sistem yang memadukan tutupan alam dan tanaman.

Kami menemukan pola pengelolaan lahan pertanian yang baik untuk mengurangi risiko kesehatan. Ini penting karena benua Afrika masih menderita lebih dari 90% kematian akibat malaria di dunia. Progres untuk mengakhiri malaria di kawasan ini juga terhenti dalam beberapa tahun terakhir.

Mengurangi malaria dan meningkatkan keanekaragaman hayati

Kami menggabungkan data tutupan lahan dan penginderaan jauh penggunaan lahan dengan dataset malaria tahun 2010 hingga 2015 berbasis referensi geografis dari 24.034 anak di 12 negara Afrika. Analisis kami mengontrol faktor-faktor yang berdampak pada malaria anak, seperti penggunaan kelambu dan insektisida.

Studi kami menunjukkan bahwa lanskap pertanian berikut meningkatkan risiko malaria anak di seluruh Afrika sub-Sahara:

  • Lahan pertanian tadah hujan di pedesaan

  • lahan pertanian beririgasi di atau dekat daerah perkotaan

  • tutupan hutan lengkap.

Kami juga menemukan bahwa keberadaan vegetasi alami di dalam lahan pertanian dapat mengurangi malaria.

Ekspansi pertanian melalui lahan pertanian tadah hujan atau irigasi tampaknya meningkatkan risiko malaria anak di sub-Sahara Afrika. Ini berlaku untuk konteks pedesaan atau perkotaan.

Namun, risiko itu dapat dikurangi dengan mempertahankan beberapa vegetasi alami di dalam lahan pertanian. Selain berguna untuk malaria, upaya menjaga vegetasi juga bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati, fungsi ekosistem dan jasa lingkungan. Hal ini membuat lahan pertanian lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.

Peningkatan risiko malaria

Dalam studi lain, kami bekerja sama dengan AfricaRice dan Institut Pertanian Tropis Internasional untuk melihat hubungan antara padi dan malaria di sub-Sahara Afrika.

Sawah menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang baik, tapi kasus malaria diklaim tidak banyak di komunitas petani. Temuan kontra-intuitif ini disebut “paradoks sawah”.

Nah, penelitian kami menemukan bahwa komunitas petani padi beririgasi terpapar lebih banyak nyamuk sekaligus risiko malaria yang lebih tinggi, sehingga paradoks itu terpatahkan.

Hal ini juga dapat dijelaskan dengan perubahan baru-baru ini di Afrika: upaya penyetaraan distribusi intervensi anti-malaria berhasil mengurangi intensitas penularan secara keseluruhan.

Prioritas yang bersaing

Kedua penelitian kami mengkonfirmasi bahwa pertanian terkait dengan peningkatan penularan malaria di Afrika.

Ini mengkhawatirkan karena saat ini ada tiga cabang pembangunan berusaha mencapai tujuannya secara terpisah. Misalnya, Kementerian pertanian negara-negara Afrika sedang merencanakan perluasan dan intensifikasi pertanian. Sedangkan Kementerian kesehatan berencana untuk menghilangkan malaria. Ada juga kementerian lingkungan yang berusaha untuk menangani dampak deforestasi, perubahan iklim dan penggunaan lahan.

Yang mengejutkan, hanya ada sedikit langkah untuk mengharmoniskan tujuan-tujuan ini. Karena itu, perbaikan kolaborasi antarsektor diperlukan untuk mencapai semua tujuan di atas.

Pengambil keputusan membutuhkan lebih banyak bukti tentang sebab dan akibat hubungan pertanian-malaria. Ini akan membantu mereka memilih opsi-opsi metode penggunaan lahan di sistem pedesaan maupun perkotaan. Bukti-bukti dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana langkah-langkah yang berbeda, seperti ketersediaan air, hilangnya keanekaragaman hayati, pemberantasan malaria, emisi karbon, kesehatan tanah dan produktivitas ekonomi, mempengaruhi berbagai aspek keberlanjutan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel