Peningkatan Kasus COVID-19 di Base Camp Puncak Everest Timbulkan Kekhawatiran

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Nepal Peningkatan jumlah pendaki dengan gejala Covid-19 dan meningkatnya jumlah tes positif membuat kekhawatiran pihak berwenang di base camp Everest di Nepal.

Pejabat base camp mengatakan, mereka telah menerima laporan dari 17 kasus yang dikonfirmasi dari rumah sakit di ibukota Kathmandu.

Berdasarkan laporan BBC, pada Rabu (5/5/2021), staf di rumah sakit swasta di Kathmandu, klinik CIWEC, mengonfirmasi bahwa pasien telah dites positif terkena virus corona setelah tiba dari base camp Everest.

Sejauh ini, pemerintah Nepal telah membantah mengetahui kasus-kasus positif di base camp Everest, meningkatkan kekhawatiran akan bagaimana para pejabat meremehkan urgensi masalah tersebut hanya karena takut meningkatnya tekanan untuk menutup gunung dari kegiatan ekspedisi.

Pendaki asing sendiri adalah sumber pendapatan utama pemerintah Nepal, yang menjadi alasan ditutupnya Everest tahun lalu karena pandemi.

Pihak berwenang mengamanatkan agar pendaki mengunjungi karantina di Nepal terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke base camp.

Jumlah kasus virus Corona COVID-19 telah meningkat tajam di Nepal dalam beberapa pekan terakhir, dan negara itu memiliki tingkat infeksi tertinggi di antara negara-negara tetangga India, di mana gelombang kedua telah memicu krisis besar-besaran.

Melansir BBC, wakil sekretaris di Kementerian Kebudayaan, Pariwisata dan Penerbangan Sipil Nepal Prem Subedi, mengatakan bahwa kementerian tersebut tidak mengetahui adanya kasus virus corona di base camp.

"Sejauh ini tidak ada kasus Covid di base camp Everest yang dilaporkan ke Kementerian Pariwisata," katanya.

Namun, Asosiasi Penyelamat Himalaya, yang menjalankan klinik medis resmi pemerintah di base camp, mengatakan bahwa pihaknya telah menerima konfirmasi kasus positif pada beberapa pendaki yang diterbangkan ke Kathmandu oleh tim ekspedisi.

"Kami baru saja menerima konfirmasi dari Kathmandu tentang 17 kasus positif pada pendaki yang diterbangkan dari Everest," kata Lhakpa Nuru Sherpa, seorang pejabat Asosiasi Penyelamat Himalaya.

"Kami sekarang telah meminta tim ekspedisi untuk memberi tahu kami terlebih dahulu sebelum mereka menerbangkan anggotanya ke Kathmandu yang jatuh sakit sehingga kami tahu apa yang sedang terjadi," katanya.

Kasus yang Dikonfirmasi

Pendaki menunggu untuk menemui dokter di klinik tenda Everest ER di Everest Base Camp, sekitar 140 Km timur laut Kathmandu, Nepal, 24 April 2018. Klinik ini didirikan oleh seorang dokter Amerika Serikat, Dr Luanne Freer. (PRAKASH MATHEMA/AFP)
Pendaki menunggu untuk menemui dokter di klinik tenda Everest ER di Everest Base Camp, sekitar 140 Km timur laut Kathmandu, Nepal, 24 April 2018. Klinik ini didirikan oleh seorang dokter Amerika Serikat, Dr Luanne Freer. (PRAKASH MATHEMA/AFP)

Kolega Lhakpa Nuru Sherpa di klinik base camp Everest, Dr Prakash Kharel, mengatakan jumlah orang yang menunjukkan gejala mirip virus corona, seperti batuk terus-menerus dan demam, meningkat setiap hari.

"Hampir semua pendaki mengalami batuk di sini, tetapi kami melihat orang-orang dengan gejala lain, dan kami memastikan bahwa mereka tetap terisolasi," kata Dr Kharel.

Klinik CIWEC di Kathmandu juga mengonfirmasi bahwa mereka telah melihat pendaki positif COVID-19 datang kepada mereka sebagai pasien dari Everest.

"Kami memang memiliki pasien yang datang kepada kami dari wilayah Everest yang dites positif di rumah sakit kami beberapa minggu lalu," kata anggota staf Astha Pant. "Kami tidak dapat membagikan berapa banyak orang atau informasi lainnya saat ini."

Salah satu tim ekspedisi besar, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa beberapa anggotanya sebelumnya dinyatakan positif, tetapi sekarang telah pulih. Seorang pendaki Norwegia, Erlend Ness, mengatakan bahwa dia telah dites positif terkena virus tiga kali di dua rumah sakit berbeda di Kathmandu bulan lalu.

Ness awalnya dianggap menderita penyakit demam, tetapi didiagnosis dengan virus corona setelah diterbangkan dari base camp. Hal ini pun menimbulkan kekhawatiran karena para pendaki menyalahartikan gejala virus corona sebagai efek serupa saat berada di ketinggian.

"Anda bisa mendengar orang batuk di mana-mana," kata Lukas Furtenback, pemimpin tim Furtenback Adventures. "Tapi ini bukan hanya batuk biasa yang diderita pendaki gunung di sini. Anda bisa melihat bahwa orang-orang kesakitan dan mereka memiliki gejala lain seperti demam dan nyeri tubuh."

Menurut situs web Departemen Pariwisata, pemerintah telah mengeluarkan 394 izin pendakian Everest untuk musim pendakian ini, per 26 April. Itu akan memungkinkan lebih dari 1.500 orang berada di gunung, sebagian besar dari mereka adalah staf pendukung.

Pejabat di base camp Everest mengatakan ada juga kekhawatiran atas pendaki yang kembali dari Kathmandu baik setelah pengobatan COVID-19 atau setelah rotasi aklimatisasi untuk menyesuaikan dengan ketinggian.

"Mereka mungkin telah pulih sendiri tetapi mereka mungkin membawa virus bersama mereka karena keadaan semakin serius di Kathmandu," kata pejabat militer itu. "Karena itu kami merekomendasikan agar pendaki melakukan aklimatisasi rotasi di tempat-tempat di bawah base camp, daripada pergi ke Kathmandu."

Reporter: Lianna Leticia

Saksikan Video Berikut Ini: