Peningkatan Produktivitas dan Kreativitas UMKM di Era New Normal

Dian Lestari Ningsih, lintangmadina
·Bacaan 4 menit

VIVA – Pada awal tahun 2020, negara di seluruh dunia termasuk Indonesia terkena dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan sebagian besar bahkan seluruh masyarakat di Indonesia harus bekerja dari rumah atau work from home dan tidak sedikit yang terpaksa harus dirumahkan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pemerintah menganjurkan masyarakat untuk tetap berada di rumah guna memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

Hal tersebut berdampak pada penurunan tingkat ekonomi masyarakat, salah satunya pada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Di masa pandemi, terdapat sekitar 40% UMKM yang terpaksa berhenti beroperasi karena tidak mampu untuk bertahan dan melanjutkan usahanya.

Berdasarkan keputusan pemerintah, pada bulan Juni 2020 mulai diterapkan kebijakan new normal dengan tujuan agar perekonomian negara dapat berputar kembali. Krisis ekonomi yang terjadi salah satunya disebabkan oleh UMKM yang merupakan tulang punggung perekonomian negara mengalami penurunan.

UMKM yang merupakan penyangga produksi nasional tengah mengalami ketidakstabilan dari sisi permintaan dan penawaran yang berdampak pada penurunan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan Survei Kajian Cepat Dampak Pandemi Covid 19 terhadap Kinerja UMKM yang dilakukan oleh Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI yang melibatkan 679 valid responden yang memiliki pekerjaan utama sebagai pelaku usaha menunjukkan bahwa selama pandemi, 94,69% usaha mengalami penurunan penjualan. (bkhh.lipi.co.id).

UMKM merupakan pelaku bisnis yang bergerak diberbagai bidang usaha yang bertujuan memenuhi kepentingan masyarakat. Menurut Badan Pembangunan Nasional (Bappenas), UMKM memiliki kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian di Indonesia yang meliputi penyerapan tenaga kerja terbanyak, pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih besar dari kontribusi usaha besar dan menjadi sarana bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk menjalankan kegiatan ekonomi produktif.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, Sensus Ekonomi dari Badan Pusat Statistik pada 2016, UMKM menyerap hingga 89,2?ri total tenaga kerja, berkontribusi terhadap 60,34?ri total PDB nasional, menyumbang 14,17?ri total ekspor, dan menyumbang 58,18?ri total investasi.

Untuk mengembalikan peran UMKM terhadap perekonomian Indonesia ditengah pandemi, pemerintah mulai mengeluarkan berbagai kebijakan physical distancing guna mengurangi dampak pandemi dan meminta masyarakat untuk mematuhi peraturan.

Pemerintah mulai menerapkan kondisi new normal supaya ekonomi tetap berputar. Untuk itu, pelaku UMKM perlu meningkatkan produktivitas dan kreativitas untuk bisa bertahan dan mencapai keuntungan. Produktivitas merupakan salah satu faktor penting untuk meningkatkan kesejahteraan UMKM.

Produktivitas juga menjadi tolok ukur dalam menentukan keberhasilan UMKM ditengah ketatnya persaingan dan kemampuan bertahan dimasa pandemi. Di tengah pandemi, produktikvitas tetap dapat dilakukan dengan menggunakan e-commerce dan digital marketing untuk mempromosikan produk UMKM kepada masyarakat yang daya belinya cenderung menurun.

Selain meningkatkan produktivitas, pelaku UMKM juga harus meningkatkan kreativitas melalui pembuatan produk yang inovatif dan kreatif. Konsumen cenderung ingin sesuatu yang baru sehingga UMKM perlu memberikan inovasi agar dapat menarik pelanggan dengan segmen yang berbeda, terlebih di era new normal, kebiasaan-kebiasaan baru masyarakat mulai terbentuk.

Kreatif dan inovatif tidak hanya terkait dengan penciptaan nilai tambah secara ekonomi, tetapi juga penciptaan nilai tambah secara sosial, budaya, dan lingkungan. Dengan meningkatkan produktivitas melalui adaptasi dan meningkatkan kreativitas melalui inovasi diharapkan para pelaku UMKM dapat mempertahankan bisnisnya di era new normal serta dapat membantu meningkatkan kembali perekonomian negara yang mulai lesu.

Peran UMKM

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Menurut data BPS 2016, terdapat 26,26 juta UMKM di Indonesia yang berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja yang mencapai 98,33%.

UMKM sebagai penopang perekonomian nasional berperan dalam menambah devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar atau sebesar 4,86?ri total ekspor secara keseluruhan. Kontribusi UMKM terhadap devisa negara yang tidak lebih besar dari kontribusi usaha menjadi alasan pemerintah untuk lebih memberdayakan UMKM.

UMKM menjadi sumber kekuatan dalam pelaksanaan ekonomi kerakyatan sehingga keberadaannya harus dilindungi dan diberdayakan pemerintah. Meskipun telah mendapat perhatian lebih dari pemerintah, namun pelaku UMKM harus tetap kreatif, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar mampu bertahan dan bersaing dengan industri lainnya, terlebih sejak adanya pandemi covid 19 yang menyebabkan menurunnya perekonomian salah satunya disebabkan oleh penurunan UMKM.

Selama Covid-19 pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk berdiam diri di rumah yang berdampak pada perubahan perilaku konsumen. Terdapat empat perubahan besar perilaku konsumen saat pandemi covid 19.

Pertama, stay at home lifestyle, yang merujuk pada gaya hidup baru dengan tetap berdiam di rumah dengan aktivitas bekerja, menikmati hidup, dan bermain. Kedua, emphatic society yaitu munculnya masyarakat yang memiliki empati, belas kasih, dan rasa solidaritas yang tinggi. Ketiga, go virtual yang mengharuskan masyarakat menggunakan media digital dalam menjalankan aktivitas. Keempat, bottom of pyramid yaitu kebutuhan manusia yang bergeser ke dasar pyramid yaitu makanan, kesehatan, dan keamanan jiwa raga.

Empat perubahan besar perilaku tersebut menumbuhkan 30 kondisi baru yang prospektif secara bisnis yang dapat dilakukan oleh UMKM. Konsumen mengalami perubahan untuk melakukan belanja online yang tidak hanya terbatas pada barang- barang sekunder dan tersier yang sedang viral tetapi bergeser ke bahan makanan, sembako, makanan, dan kebutuhan sehari-hari.

Dari kondisi tersebut salah satu cara bagi pelaku UMKM agar mampu bertahan dan bersaing di era new normal adalah harus mampu beradaptasi dan berinovasi untuk memenuhi target pasar salah satunya melalui peningkatan produktivitas dan kreativitas bagi para pelaku UMKM.