Penjarah menyerbu gudang makanan Nigeria saat kerusuhan meluas

·Bacaan 2 menit

Jos (AFP) - Beberapa ribu orang menggeledah dan menjarah gudang makanan pemerintah di Nigeria tengah pada Sabtu dalam peristiwa terkiri dari dua pekan kerusuhan yang melanda negara terpadat di Afrika itu.

Setelah penjarahan melanda Lagos dan Ede di barat daya negara itu, kerumunan orang menyerbu gudang besar di Jos yang menyimpan persediaan yang ditujukan untuk distribusi selama lockdown yang diberlakukan untuk mengendalikan pandemi virus.

Video di media sosial menunjukkan ribuan orang di Jos membawa karung sereal, beras, dan kantong pasta. Penjarah membuka bagian atap gedung.

"Jadi selama lockdown mereka hanya menyembunyikan makanan. Saya bertanya-tanya tentang pemerintahan seperti apa yang kami miliki," kata Mafeg Pam, yang tinggal di Jos. "Banyak orang meninggal dunia karena kelaparan."

Warga Jos lainnya, Mohammed Ibrahim, mengatakan: "Mereka menyembunyikan makanan ini sejak lockdown. Sekarang mereka seharusnya membagikannya."

Namun, ketenangan relatif berlaku Sabtu di Lagos di mana jam malam ketat yang diberlakukan Selasa di kota terbesar Afrika itu diredakan ketika kekerasan selama satu pekan juga mereda.

Demonstrasi damai menentang kebrutalan polisi meletus di Nigeria pada 8 Oktober dan dengan cepat berubah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi elit penguasa dalam beberapa dekade.

Kantor polisi dibakar, supermarket dijarah dan kendaraan dihancurkan ketika kekerasan menyebar di pusat ekonomi berpenduduk 20 juta itu, dengan para pejabat menuduh "penjahat" mengambil keuntungan dari kekacauan itu.

Amnesty International mengatakan setidaknya 12 pengunjuk rasa ditembak mati oleh tentara dan polisi di Lagos pada Selasa, dan total 56 orang telah tewas sejak demonstrasi dimulai.

Presiden Nigeria Muhammadu Buhari telah menyerukan diakhirinya protes dan memperingatkan demonstran untuk tidak "merusak keamanan nasional".

Dia tidak secara langsung membahas penembakan para pengunjuk rasa di Lagos dan berusaha untuk mengabaikan kemarahan internasional atas penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh badan-badan keamanannya.

"Cukup sudah," kata kepala polisi dalam sebuah pernyataan pada Sabtu, mengatakan pasukan keamanan akan menggunakan cara yang sah untuk menghentikan setiap pelanggaran hukum.

Protes terhadap kebrutalan polisi mendapat dukungan dari selebriti besar, termasuk Beyonce, Rihanna, Cardi B dan petinju kelas berat Anthony Joshua.

str-spb/sba/wai/pma