Penjelasan BMKG, Karangasem Lima Kali Diguncang Gempa Bumi

Merdeka.com - Merdeka.com - Gempa bumi mengguncang wilayah Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu (27/7) malam. Tercatat ada lima kali gempa yang terjadi di wilayah tersebut berdasarkan laporan Balai Besar Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Wilayah III, Denpasar, Bali.

"Semalam itu ada kejadian lima gempa dan yang terasa kami dapat laporan ada tiga gempa. Tiga saja yang terasa cuma yang paling besar itu pukul 22.14 WITA," kata Kepala Kelompok Kerja Sub Bidang Pengumpulan dan Penyebaran BMKG Wilayah III, Yohanes Agus Setiawan saat dihubungi, Kamis (28/7).

Gempa yang pertama bermagnitudo 4,1 terjadi pada pukul 21.14 WITA. Gempa itu berpusat di laut 17 km barat laut Karangasem dengan kedalaman 10 km. Kemudian yang kedua gempa berkekuatan magnitudo 3.0 pada pukul 21.35 WITA berpusat di barat laut Karangasem, dengan kedalaman 10 Km.

Selanjutnya, yang ketiga dengan magnitudo 3.4 terjadi pada pukul 22.22 WITA dan berpusat 9 km di barat laut Karangasem dengan kedalaman 10 km. Lalu keempat dengan kekuatan magnitudo 2.6 pada pukul 01.06 WITA berpusat 17 km di barat laut Karangasem dengan kedalaman 11 km.

Kemudian dini hari tadi pada pukul 01.06 WITA, terjadi gempa dengan kekuatan magnitudo 2.6 dengan pusat gempa 17 barat laut, Karangasem, dengan kedalaman 11 km.

Gempa tersebut merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif di darat dan lima gempa yang terjadi itu posisi di darat.

"Untuk gempa di Karangsem semalam itu, akibat aktivitas sesar di wilayah tersebut. Sehingga, menyebabkan adanya patahan dan terjadi pelepasan akumulasi energi dalam bentuk gelombang seismik, yang kemudian dirasakan masyarakat dalam bentuk gempa bumi. Kalau gempa di Karangsem itu posisinya di darat," imbuhnya.

Yohanes juga menyebutkan, bahwa bila melihat pusat gempa di Karangasem, hampir sama dengan posisi pusat gempa yang cukup besar dan berdampak longsor di Desa Trunyan, Kabupaten Bangli, pada 16 Oktober 2021 yang berkekuatan magnitudo 4,8.

"Kalau dilihat dari posisinya itu, kurang lebih hampir sama dengan kejadian tahun lalu yang menyebabkan longsor di Trunyan. Di sana memang ada sesar lokal, di wilayah tersebut. Itulah yang memicu terjadinya gempa semalam," ungkapnya.

BMKG menyatakan, bahwa terjadinya gempa bumi tidak bisa diprediksi tetapi yang paling penting masyarakat tetap waspada dan siaga.

"Kalau gempa bumi sifatnya tidak bisa diprediksi. Tapi yang paling penting, adalah kesiapsiagaan masyarakat terutama yang tinggal di sekitar sana. Apalagi dari sejarahnya pernah terjadi gempa besar di sekitar sana," ujarnya.

"Yang utama, jangan panik tetap berpikir jernih dan saat terjadi gempa tahu apa yang harus dilakukan. Pertama, melindungi kepala dan berlindung di bawah meja, atau menggunakan tas dan menjauhi kaca jendela dan menjauh dari potensi jatuhnya barang," ujarnya. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel