Penjelasan BPS Soal Ekonomi RI Masih Minus Tapi Jauh Membaik Kuartal I

Raden Jihad Akbar, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan perekonomian Indonesia masih mengalami kontraksi pada kuartal I-2021. Pada periode itu, ekonomi Indonesia minus 0,74 persen secara tahunan atau year on year (yoy), karena dua komponen utama masih melemah.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, dua komponen utama tersebut adalah konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi. Keduanya berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 88,91 persen.

"Jadi apa yang terjadi pada dua komponen ini akan berpengaruh luar biasa kepada pertumbuhan ekonomi," kata dia saat konferensi pers, Rabu, 5 Mei 2021.

Suhariyanto menyebutkan, untuk konsumsi rumah tangga minus 2,23 persen sedangkan PMTB atau investasi minus 0,23 persen. Meski masih minus namun angkanya lebih baik dari kuartal sebelumnya yang masing-masing minus 3,61 persen dan minus 6,15 persen.

Baca juga: Super Air Jet Sudah Kantongi Surat Izin Usaha Angkutan Udara

"Tetapi kontraksi ini menunjukkan arah yang membaik. Kalau kita bandingkan dari kontraksi yang terjadi pada kuartal II, III dan IV," tegasnya.

Adapun komponen PDB lainnya, yang masih terkontraksi dikatakan Suhariyanto, adalah lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) dengan minus 4,53 persen. Sementara itu, komponen sisanya tumbuh positif.

Di antaranya konsumsi Pemerintah yang masih tumbuh pesat sebesar 2,96 persen, kinerja ekspor yang tumbuh signifikan hingga 6,74 persen dan impor yang mampu tumbuh 5,27 persen. Diharapkannya kondisi dari sektor yang membaik ini bisa bertahan untuk membantu pemulihan.

"Dari sumber pertumbuhan ekonominya dari komponen pengeluaran kita bisa melihat konsumsi rumah tangga merupakan sumber kontraksi terdalam sebesar minus 1,2 persen," ucapnya.

Sebagai informasi, meski pertumbuhan ekonomi masih terkontraksi 0,74 persen pada kuartal I-2021, ini lebih baik dari kuartal IV-2020 yang minus 2,19 persen, kuartal III-2020 minus 3,49 persen dan kuartal II-2020 minus 5,32 persen akibat Pandemi COVID-19.

"Masih negatif tapi jauh lebih baik dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya yang menunjukkan bahwa tren pemulihan ekonomi berjalan seperti yang diharapkan," paparnya.