Penjelasan Garuda Indonesia kepada BEI Terkait Empat Opsi Restrukturisasi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 yang terjadi menambah tekanan terhadap PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sehingga berdampak terhadap kinerja perseroan.

Langkah terbaru yang dilakukan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan menawarkan pensiun dini kepada karyawan. Selain itu, beredar dokumen yang membeberkan empat opsi penyelamatan Garuda Indonesia.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen GIAA mengatakan opsi tersebut merupakan langkah strategis yang akan diputuskan oleh pemegang saham. Sehingga Perseroan tidak dalam kapasitasnya untuk menyampaikan informasi lebih lanjut.

"Saat ini Perseroan sedang melakukan diskusi dengan konsultan dan Perseroan akan mengupayakan opsi terbaik yang akan dikaji dalam upaya pemulihan kinerja dan memastikan keberlangsungan usaha Perseroan, yang melibatkan seluruh stakeholders dan persetujuan pemegang saham,” ujar manajemen Perseroan seperti dikutip, Rabu (9/6/2021).

Adapun saat ini, fokus utama Perseroan adalah memastikan keberlangsungan usaha melalui berbagai langkah strategis yang terus dijalankan secara berkesinambungan. Antara lain melalui optimalisasi lini bisnis, khususnya kargo dan charter.

Serta pengelolaan cost structure beban operasional Perseroan. Baik melalui optimalisasi produktivitas armada, negosiasi bersama lessor, pengelolaan SDM serta restrukturisasi rute penerbangan sejalan dengan trend demand yang ada pada masa adaptasi kebiasaan baru ini.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menunjuk konsultan hukum dan keuangan untuk memulai proses restrukturisasi Garuda Indonesia, utamanya untuk utang Perseroan yang mencapai Rp 70 triliun.

Operasikan 53 Pesawat

Garuda Indonesia meluncurkan livery khusus yang menampilkan visual masker pada bagian depan (hidung) pesawat Airbus A330-900 Neo yang merupakan livery masker pesawat pertama yang ada di Indonesia.
Garuda Indonesia meluncurkan livery khusus yang menampilkan visual masker pada bagian depan (hidung) pesawat Airbus A330-900 Neo yang merupakan livery masker pesawat pertama yang ada di Indonesia.

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) kini mengoperasikan 53 pesawat untuk mendukung operasional perusahaan. Hal ini seiring pandemi COVID-19.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (9/6/2021), PT Garuda Indonesia Tbk menyatakan, penggunaan armada selama masa pandemi COVID-19 disesuaikan dengan kondisi market dan demand layanan penerbangan, terutama berkaitan dengan diberlakukannya beberapa kebijakan pembatasan pergerakan masyarakat.

Hal ini melalui penyesuaian/pengurangan frekuensi penerbangan hingga optimalisasi penggunaan armada untuk rute padat penumpang. Selain itu, penggunaan armada dalam penerbangan selama masa pandemi COVID-19 juga turut memperhatikan tingkat isian dari angkutan kargo.

“Adapun jumlah armada yang dioperasikan selama masa pandemi berkurang sehingga yang saat ini dioperasikan untuk mendukung operasional perusahaan ada pada kisaran 53 pesawat,” dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

PT Garuda Indonesia Tbk memaparkan total pesawat mencapai 142 pesawat. Jumlah pesawat yang dapat dioperasikan sampai saat ini mencapai 53 pesawat dan jumlah pesawat yang maintenance mencapai 39 pesawat. Adapun status pesawat untuk sewa mencapai 136 pesawat dan dimiliki sendiri sebanyak enam pesawat.

Saat ditanya mengenai jumlah pesawat dengan status direlokasi, Perseroan menyatakan terus berupaya negosiasi dengan lessor atau penyewa untuk pesawat dengan status grounded. Adapun pendekatan yang ditempuh adalah untuk kembali dapat mengoperasikan dan melakukan early termination atau pengembalian pesawat. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan armada sesuai permintaan layanan penerbangan ada era adaptasi baru ini.

Saham PT Garuda Indonesia Tbk naik 3,54 persen ke posisi Rp 234 per saham pada Rabu, 9 Juni 2021 pukul 10.59 WIB. Saham GIAA dibuka stagnan di posisi Rp 226 per saham. Saham GIAA berada di level tertinggi 224 dan tertinggi 238 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.743 kali dengan nilai transaksi Rp 6,1 miliar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini