Penjelasan Geolog soal Makam Menggembung Besar di Padang Pariaman

Ezra Sihite, Andri Mardiansyah (Padang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ahli Geologi Sumatra Barat Ade Edward yang melakukan survei pendahuluan ke lokasi makam yang menggembung di Korong atau kampung Sungai Asam memberikan penjelasan. Dari makam menggembung di Nagari Sungai Asam, Kecamatan 2×11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat dapat disimpulkan bahwa 75 persen fenomena itu terjadi secara alamiah.

Meski demikian, menurutnya harus ada kajian dan penelitian lebih lanjut agar bisa menjelaskan fenomena itu secara keilmuan.

“Tadi saya sudah datang ke lokasi, survei pendahuluan namanya. Survei ini diinisiasi oleh rekan-rekan ahli geologi dari Kementerian ESDM dan BPPT. Sudah saya cek juga kondisi fisik kuburan itu. Sementara saya menyimpulkan ya sekitar 75 persen fenomena itu terjadi secara alamiah. Survei ini untuk mengumpulkan data atau info awal terkait geologi dan situasi sosial kemasyarakatan untuk kesiapan menurunkan tim survei georadar dari BPPT,” kata Ade Edward pada Senin petang, 29 Maret 2021.

Menurut Ade Edward, kesimpulan terjadinya fenomena itu secara ilmiah di antaranya dilihat dari struktur dan jenis pasir tanah pusara tersebut. Jenis pasir yang menjadi gundukan itu adalah pasir kerikil yang merupakan produk vulkanik Andesit Gunung Tandikat. Tanah itu keluar dan tercipta menjadi gundukan karena disebabkan oleh adanya dorongan material dari dalam perut bumi.

Namun demikian pihaknya belum bisa menyimpulkan material apa yang mendorong pasir itu hingga muncul ke permukaan tanah dan membentuk gundukan. Termasuk juga pasir tersebut yang merupakan lapisan tanah dengan jauh kedalamannya. Dia mengatakan, perlu ada penelitian lebih lanjut.

“Kalau kita lihat dan pegang, jenis pasir ini pasir kerikil. Pasir ini produk vulkanik Andesit dari Gunung Tandikat. Ini kan baru kesimpulan awal. Apabila survei awal ini layak dilanjutkan untuk survei georadar maka BPPT secara resmi akan membantu melakukan survei bawah permukaan dengan metoda georadar. Kami sudah sampaikan tadi ke perangkat kampung dan tokoh masyarakat di sana," kata geolog tersebut.

"Jika nanti kami diizinkan melakukan penelitian lebih lanjut maka kemungkinan pekan mendatang kita datang lagi. Tapi kembali lagi ke sepakatan semua elemen di kampung disana,” lanjut Ade Edward.

Ade menjelaskan bahwa mereka sudah sampaikan niat untuk melakukan kajian secara ilmu geologi dan pada prinsipnya rencana itu diterima dan diizinkan oleh seluruh unsur dan perangkat kampung. Direncanakan bahwa metode yang akan digunakan dalam penelitian berikutnya adalah metode Georadar. Georadar merupakan metode geoteknik dengan memanfaatkan gelombang radar untuk memvisualkan objek yang berada dibawah permukaan tanah.

Nantinya akan ada alat yang terdiri dari unit kontrol, antena pengirim dan antena penerima dan penyimpanan data yang sesuai dengan peralatan display yang dipasang di area itu.

“Nanti kalau kita diizinkan kita akan gunakan metoda Georadar. Sederhananya metoda ini sama seperti proses USG pada ibu hamil atau CT Scan lah di bidang ilmu medis. Jadi di permukaan nanti kita rekam. Ya seperti USG itulah,” katanya.

Sebelumnya, publik di Sumatra Barat khususnya yang ada di Korong atau kampung Sungai Asam, Nagari Sungai Asam, Padang Pariaman geger karena ada sebuah makam yang secara tiba-tiba menggembung besar dan bahkan meninggi dengan tiba-tiba. Sampai hari ini, kuburan yang sudah meninggi itu kian ramai dikunjungi orang.