Penjelasan Golkar Soal Insiden Ambulans Relawan Beringin Coba Terobos One Way Puncak

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily memastikan ambulans bertuliskan relawan beringin yang mencoba menerobos one way di Jalur Puncak bukan milik partai. Ace mengaku ambulans itu milik 'relawan beringin'.

"Saya tegaskan bahwa mobil ini bukan milik Partai Golkar, tapi relawan beringin," kata Ace lewat pesan kepada merdeka.com, Minggu (8/5).

Ace menyebut, pihaknya sudah mengecek ke pimpinan Golkar DKI Jakarta bahwa benar mobil itu sering dipergunakan dan dipinjam oleh warga untuk keperluan melayani kesehatan. Pihaknya juga telah mengecek kepada pimpinan relawan itu dan tidak mengetahui bila dipergunakan di luar peruntukannya.

"Memang mobil ini masih dibranding lama, sejak era Pak ARB dan belum diperbaharui," ungkapnya.

Ace menegaskan, tindakan apapun melanggar UU lalu lintas harus ditindak. Sebab, dikhawatirkan membahayakan keselamatan orang.

"Kami sudah minta kepada Pimpinan partai Golkar DKI Jakarta untuk memberikan teguran kepada yang bersangkutan dan meminta maaf kepada masyarakat akibat ketidaknyamanan ini," pungkasnya.

ambulans terobos jalan dan ngaku bawa pasien rupanya mau liburan
ambulans terobos jalan dan ngaku bawa pasien rupanya mau liburan

Kronologi Kejadian

Sebelumnya, mobil ambulans bertuliskan Relawan Beringin mencoba menerobos sistem satu arah (one way) di Jalur Puncak, Kabupaten Bogor, Sabtu (7/5) siang. Ambulans tersebut melaju dari arah Jakarta menuju Puncak, saat kepolisian memberlakukan satu arah ke Jakarta.

Namun, di dalam ambulans bernomor polisi B 1070 KIX itu, tidak terdapat peralatan pendukung medis, seperti oksigen maupun tandu. Justru, ambulans tersebut berisikan masyarakat yang diduga hendak liburan.

Kapolres Bogor, AKBP Iman Imanuddin mengatakan, awalnya petugas memberhentikan ambulans tersebut untuk memberi pengawalan prioritas. Namun, saat diperiksa ambulans tersebut justru bukan membawa orang dalam keadaan darurat.

"Karena kami sudah tekankan ke anggota kalau ada ambulans butuh pengawalan prioritas, akan dikawal. Tapi ternyata setelah diperiksa di dalamnya bukan orang sakit, tapi orang mau berlibur," katanya, Sabtu (7/5).

Dia khawatir, jika ambulans tersebut tidak diberhentikan justru akan membahayakan penumpang dan pengendara lainnya. Sebab hingga pukul 19.00 WIB, Jalur Puncak berlaku one way ke arah Jakarta.

"Alasannya kan ada orang sakit. Kalau memang betul akan dikawal sampai ke rumah sakit. Kami cek juga nomor polisinya tidak diperbaharui, jadi kami terakhir undang-undang lalu lintas," ujarnya.

Sementara Kanit Regident Sat Lantas Polres Bogor, Iptu Danny Sutarman yang ikut memberhentikan ambulans tersebut menjelaskan, ambulans tersebut melanggar beberapa peraturan lalu lintas.

"Pertama melawan arus, tidak dilengkapi surat-surat, ketiga tidak ada pengesahan, karena pajak mati tahun 2014, juga menggunakan rotator berwarna merah dan biru, karena sesuai Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 bahwa ambulans seharusnya rotator berwarna merah," kata Danny.

Dia mengungkapkan, ambulans yang dikemudikan Muhamad Ali itu, terdapat tiga orang perempuan, dua anak kecil, dua laki-laki, dua remaja laki-laki, hingga soundy system portable, bantal hingga karpet.

"Perlengkapan ambulans seperti oksigen tidak ada. Bahkan tandu pun tidak ada. Jadi kami tilang, dengan barang bukti kendaraan. Kami tilang, lalu kami minta bayar pajak, bawa BPKB, baru bisa diambil kendaraannya," kata Danny. [lia]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel