Penjelasan Ilmiah Propilen Glikol, Biang Keladi Gagal Ginjal Akut

Merdeka.com - Merdeka.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI baru-baru ini mengumumkan dua supplier farmasi yang menggunakan bahan baku pelarut obat sirop melebihi standar industri farmasi. CV Samudra Chemical salah satunya, industri supplier yang memalsukan bahan baku pelarut Propilen Glikol (PG) untuk obat sirop.

Ahli toksikologi kimia Dr rer nat (Doktor Ilmu Sains) Budiawan mengatakan, Propilen Glikol merupakan pelarut dalam dunia industri obat dan makanan. Menurut dia, PG yang di-supply oleh CV Samudra Chemical seharusnya berpedoman pada 17 kriteria dalam Safety Data Sheet (SDS).

"Sebenarnya kalau aturannya diikuti, setiap bahan kimia itu MSDS atau yang sekarang disebut SDS. Nah, persoalannya kalau dia mensuplai untuk industri farmasi, maka grade-nya, kemurniannya itu harus lebih mendekati 100 persen. Tapi tidak mungkin, mungkin 99 persen atau apapun ya," kata Budiawan saat dihubungi merdeka.com, Rabu (9/11).

"Apakah CV Samudra ketika mengirimkan itu disertasi MSDS atau SDS, itu lembar keselamatan bahan kimia atau tidak," lanjutnya.

Budiawan mengungkapkan, penemuan BPOM soal cemaran 52 sampai 100 persen Etilen Glikol dalam produksi CV Samudra Chemical merupakan tindak pelanggaran. Karena tidak berpedoman pada standar cemaran EG dan DEG sebesar 0,1 persen.

"Propilen Glikol bisa dipalsukan, ya bisa saja, tinggal ganti label kok. Sebut saja Propilen Glikol tapi tidak disebut contain impurities-nya, pencemarnya. Sebetulnya, tidak disebut juga pemalsuan tapi melanggar dari ketentuan yang harus memenuhi standar kemurnian Propilen Glikol untuk industri farmasi," ungkapnya.

Buntut temuan cemaran EG dalam obat sirop, Budiawan menilai, CV Samudra Chemical telah menyalahi aturan standar industri farmasi. Karenanya telah menyebabkan banyak korban, yakni gagal ginjal akut misterius pada anak.

"Kalau yang memang sampai 90-an persen itu dilakukan berupa Etilen Glikol, itu namanya penyalahgunaan. Atau penggunaan yang salah dalam praktiknya juga ya. Itu adalah suatu tindakan yang salah, karena ini menyebabkan korban," katanya.

Reporter Magang: Syifa Annisa Yaniar [rhm]