Penjelasan Mengenai Pengaruh Suhu Udara Terhadap Virus Corona Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa waktu lalu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan sempat mengutarakan faktor iklim menjadi keuntungan tersendiri bagi negara-negara yang memiliki temperatur dan kelembaban tinggi seperti Indonesia dalam menangani menghadapi wabah virus corona Covid-19. 

Namun Menko Luhut juga menekankan bahwa social/physical distancing tetap harus menjadi faktor utama. Pasalnya jika hal tersebut tidak dilakukan dengan ketat, maka keuntungan dari faktor temperatur tersebut tidak lagi berlaku.

Merespon isu tersebut, Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Umum dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Yodi Mahendradhata menyebut bahwa memang ada studi-studi yang mengindikasikan bahwa suhu tinggi dan kelembaban tinggi mungkin dapat mengurangi penularan virus corona, namun faktor-faktor lain tetap lebih berperan dalam penularan. 

“Namun saya ingin menekankan bahwa salah satu faktor utamanya tetaplah kedisplinan masyarakat untuk melakukan social/physical distancing,” ujar Dr. Yodi.

Sebuah penelitian oleh Jingyuan Wang, Associate Professor di Sekolah Ilmu dan Teknik Komputer, Universitas Beihang, Beijing, menjelaskan bahwa mirip dengan virus influenza, virus Corona cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara yang dingin dan kering. Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan "host immunity" seseorang dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

BMKG

Lebih lanjut, Melanie Bannister-Tyrrell, seorang konsultan senior di Ausvet, perusahaan epidemiologi swasta terkemuka menunjukkan bahwa bahwa Covid-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah, yaitu sekitar 1 sampai 9 derajat celcius. Artinya, semakin tinggi temperatur, maka dugaan adanya kasus Covid-19 harian semakin rendah.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati membenarkan apa yang disampaikan oleh Menko Luhut. Menurutnya, di bulan Desember-Januari, belum ada kasus di negara tropis, seperti di Singapura, Thailand, Filipina, Indonesia. 

Menurut literatur yang ada, hal ini dikarenakan pada saat itu suhu di tempat kita ini temperaturnya lebih dari 20 derajat, dan cocok dengan fakta Desember dan Januari belum ada kasus. Namun, pada outbreak kedua, pengaruh iklim ini kalah dengan pengaruh yang lebih kuat penyebarannya oleh mobilitas orang.

“Sebenarnya yang disampaikan Pak Luhut itu juga dari kita, karena beliau sudah mengumpulkan informasi dari berbagai pakar juga. Jadi Pak Luhut itu betul, iklim itu membantu. Namun dampaknya itu delay, tidak seketika dampaknya berkurang, perlu waktu untuk alam bekerja. Ya meskipun ada penyebaran tetapi itu tidak murni, itu karna dibawa orang, alias mobilitas penduduk yang massif,” terang Dwikorita pada Sabtu (4/4).

Penjelasan

ilustrasi virus corona covid-19/photo copyright by Shutterstock

Menurut ahli mikrobiologi, untuk suhu yang rendah (9 derajat kurang) dan kelembaban rendah (kering) imunitas respon tubuh itu akan melemah sehingga daya tahan untuk menangkal virus menjadi turun. Kalau temperatur naik, imunitas pun meningkat. Terlebih melihat perkiraan bulan April hingga Agustus, rata-rata suhu bisa 30-32 derajat. “Jadi kita ini beruntung karena cuacanya tidak ideal untuk perkembangan Covid-19 dengan catatan masyarakatnya itu patuh, menjaga physical distance, tinggal di rumah, tidak keluyuran ke mana-mana,” tambahnya

Dwikorita pun menyampaikan, masyarakat harusnya bisa manfaatkan keuntungan iklim tropis ini untuk memperkuat imunitas di bawah matahari pada jam yang tepat. Hal ini juga diamini oleh Dr.Yodi, yang menyebutkan bahwa berjemur di bawah sinar matahari pada jam tertentu bukan berarti mematikan virus, namun hal tersebut dapat membantu meningkatkan imunitas.

Terakhir, Juru Bicara Menko Marves Jodi Mahardi juga menyampaikan bahwa hasil kajian tersebut tidak serta merta membuat pemerintah menjadi lengah dan menjadikan hal tersebut sebagai landasan untuk mengambil kebijakan terkait penanganan Covid-19. 

“Menko Luhut menyampaikan, pemerintah akan selalu bekerja keras dengan melihat segala masukan dari berbagai kajian untuk mencari pilihan terbaik yang dapat diterapkan di Indonesia dengan segala karakteristiknya. Kita harus bekerja bersama dengan semua unsur untuk mencari solusi terbaik,” tutup Jodi.

Disadur dari Merdeka.com