Penjelasan Para Ahli Mengapa Tetap Perlu Pakai Masker di Pesawat

Merdeka.com - Merdeka.com - Selama masa pandemi, masker menjadi barang yang sangat penting yang harus dibawa saat berada di bandara dan berfungsi sebagai boarding pass: Anda tidak bisa terbang tanpa memakainya. Hal yang sama berlaku di kereta, kapal laut, subway, dan transportasi publik lainnya.

Namun sejak bulan lalu di Amerika Serikat (AS), perintah memakai masker saat menggunakan transportasi umum dicabut. Sejumlah maskapai besar AS seperti United, American Airlines, dan Delta mengumumkan mereka tidak lagi mewajibkan penumpang memakai masker dalam penerbangan domestik.

Para petinggi maskapai lega dengan keputusan tersebut karena sejak berbulan-bulan mereka mempertanyakan perlunya memakai masker di pesawat. Mereka berpendapat sistem penyaring udara di pesawat cukup efektif membunuh semua jenis patogen di udara.

Kendati tidak lagi menjadi sebuah kewajiban, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS atau CDC masih merekomendasikan masyarakat memakai masker saat di dalam pesawat maupun transportasi umum lainnya. Selain itu, banyak ahli kesehatan juga menyarankan hal yang sama.

Perlukah tetap memakai masker di dalam pesawat? Berikut penjelasan para ahli kesehatan, dikutip dari laman TIME, Senin (9/5).

Menurut para penulis kajian penelitian yang diterbitkan pada September 2021, yang menganalisis 18 riset sebelumnya terkait penyebaran virus corona di dalam penerbangan menyimpulkan bahwa "penularan SARS-CoV-2 (virus penyebab Covid) bisa terjadi di dalam pesawar tapi relatif langka."

Riset 2020 yang dilakukan peneliti dari Boeing dan United Airlines menemukan, ventilasi pesawat dan sistem penyaringnya mengurangi risiko paparan virus corona lebih dari 99 persen. Namun penelitian ini tidak memperhitungan jenis penularan lain salah satunya saat para penumpang berpapasan.

Menurut Dr Aisha Khatib, ketua International Society of Travel Medicine’s Responsible Travel, ada banyak potensi orang terpapar virus di bandara seperti ketika orang melepas maskernya saat makan atau minum di gate. Karena itulah, kata Aisha, tetap memakai masker saat bepergian merupakan hal yang baik.

Penelitian menunjukkan memakai masker di ruang publik tertutup atau dalam ruangan mengurangi risiko terinfeksi Covid-19. Di dalam pesawat, udara mengalami penyaringan sehingga risiko penularan selama penerbangan rendah, kata Dr Khatib. Risiko itu semakin rendah ketika ventilasi yang baik disertai tindakan pencegahan lainnya seperti memakai masker dan jaga jarak.

Dalam makalah yang diterbitkan Maret 2021, para peneliti mengembangkan model untuk memprediksi risiko infeksi dalam pesawat. Mereka membuat skenario penerbangan 12 jam di mana para penumpang tidak memakai masker dan satu penumpang yang terinfeksi duduk di kelas ekonomi yang penuh. Dengan kondisi ini, para peneliti memperkirakan penumpang ekonomi lainnya memiliki risiko infeksi rata-rata hingga sekitar 11 persen—tetapi penumpang yang duduk sangat dekat dengan orang yang terinfeksi, risikonya dapat meningkat hingga 99,6 persen.

Jika semua penumpang di pesawat itu memakai masker, risiko infeksi rata-rata turun sampai 3 persen.

Dr Khatib menyampaikan, berdasarkan sejumlah penelitian, sebagian besar penularan selama penerbangan terjadi pada penerbangan sebelum Maret 2020, sebelum kewajiban masker ditetapkan.

Khatib juga menekankan orang yang mengalami gejala tidak boleh bepergian. Dia juga merekomendasikan para penumpang memakai masker yang menutupi bagian wajah dengan sempurna atau tidak longgar dan memakainya dengan konsisten.

"Masker dengan perlindungan tinggi seperti N95 dan KN95 bisa menyaring hampir semua partikel jika dipakai dengan benar. Jadi masker bisa menjaga pemakainya tetap sehat walaupun orang di sekeliling mereka tidak memakai masker," pungkasnya. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel