Penjelasan Sekretaris Eksekutif KPCPEN Soal Vaksin Gratis dan Gotong Royong

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Raden Pardede memberikan penjelasan mengenai dua cara mendapatkan vaksin Covid-19. Cara pertama adalah mengikuti program vaksin gratis dan cara kedua adalah dengan ikut ambil bagian dalam program vaksinasi gotong royong.

Ia menjelaskan, untuk program vaksin gratis diberikan kepada semua penduduk Indonesia. Distribusi dan vaksinasi sekarang sudah diberikan kepada masyarakat luas umur 12 tahun ke atas.

"Sasaran vaksin gratis ini dimulai dari Nakes, Lansia, kemudian masyarakat umum," jelas dia seperti dikutip Senin (12/7/2021).

Pasokan vaksin gratis hingga akhir 2021 diperkirakan mencapai 440 juta dosis berbagai merek seperti, Sinovac, astraZenega, Novavax, Phizer, Moderna.

Untuk itu, pemerintah mengajak penduduk Indonesia untuk mencapai imun komunitas atau Herd Immunity pada 2021 dengan mengikuti program vaksinasi gratis ini.

Sedangkan cara kedua yaitu dengan vaksinasi gotong royong. Vaksin yang digunakan dalam program ini adalah vaksin produksi Sinopharm.

"Saat ini supply masih terbatas namun diperkirakan, ketersediaan vaksin sekitar 15-20 juta dosis," Kata Raden. Program ini berbayar dan telah ditetapkan dengan harga Rp 321.660.

Vaksin Gotong Royong diperuntukkan kepada karyawan perusahaan yang mampu membayar.

Adapun sasaran lainnya program vaksinasi gotong royong adalah individu yang mau, termasuk di airport atau pemegang paspor asing yang bertujuan supaya semua orang yang berada di Indonesia divaksinasi.

Khusus bagi Warga Negara Asing (WNA), pilihannya hanya vaksin gotong royong yang berbayar.

Sedangkan bagi Warga Negara Indonesia (WNI), vaksin program gratis tetap tersedia. Namun bila pilihan masyarakat ingin vaksin berbayar, maka dipersilahkan untuk ikut vaksin gotong royong.

Seperti Indonesia, Singapura hingga Taiwan Juga Sediakan Vaksin COVID-19 Berbayar

Petugas memeriksa suhu tubuh pekerja swasta saat program Vaksinasi Gotong Royong di Sudirman Park Mall, Jakarta, Rabu (19/5/2021). Vaksinasi Gotong Royong memfasilitasi badan usaha yang mau membeli vaksin untuk karyawannya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Petugas memeriksa suhu tubuh pekerja swasta saat program Vaksinasi Gotong Royong di Sudirman Park Mall, Jakarta, Rabu (19/5/2021). Vaksinasi Gotong Royong memfasilitasi badan usaha yang mau membeli vaksin untuk karyawannya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Pemerintah Indonesia memberikan lampu hijau bagi Kimia Farma untuk menyediakan vaksin COVID-19 berbayar. Total harganya relatif mahal, yakni Rp 879 ribu.

Vaksin berbayar di Indonesia berasal dari program Vaksin Gotong Royong. Klinik milik Kimia Farma rencananya akan menyalurkan vaksin tersebut, namun ditunda setelah muncul protes keras, termasuk dari ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri.

"Tujuannya pelaksanaan vaksinasi semakin cepat. Masyarakat semakin banyak pilihan," ujar Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga.

Sebelum Indonesia, ada India dan Singapura yang mengizinkan vaksin COVID-19 berbayar. Bedanya, vaksin berbayar itu dilakukan swasta, bukan dijual perusahaan negara seperti Kimia Farma.

Selain dua negara itu, ada juga wilayah Taiwan yang menyediakan vaksin berbayar khusus warga yang ingin keluar negeri. Program ini disuspens pada Mei lalu.

Warga Singapura bahkan bisa mendapat uang mereka kembali usai divaksin. Berikut penjelasan untuk Singapura dan India:

1. Singapura

Berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan Singapura, vaksin yang digunakan klinik swasta itu adalah dari Sinovac. Vaksinnya gratis, namun klinik swasta mematok harga administrasi dengan biaya berbeda.

Yang termurah adalah 10 dolar Singapura (Rp 107 ribu), dan yang termahal 25 dolar Singapura (Rp 267 ribu). Biaya itu sudah termasuk biaya konsultasi.

Vaksin Sinovac terutama diizinkan bagi yang alergi vaksin mRNA. Mereka yang alergi bisa dapat reimbursement dari pemerintah setelah membayar.

Selain itu, warga yang ikut vaksin berbayar tidak dihitung ke dalam vaksinasi nasional.

(1 dolar Singapura: Rp 10.719)

2. India

Rumah sakit-rumah sakit swasta di India juga telah melakukan vaksinasi COVID-19 pribadi. Perdana Menteri Narendra Modi mengizinkan swasta menggelar vaksin berbayar, namun harganya dibatasi pemerintah.

Menurut laporan The Indian Express, harga vaksin termahal adalah Covaxin seharga 1.410 rupee (Rp 274 ribu. Biaya itu sudah termasuk pajak dan administrasi. Sementara, harga Sputnik V adalah 1.145 rupee (Rp 222 ribu).

Per 8 Juni 2021, pemerintah mengatur agar rumah sakit hanya boleh menambah biaya hingga 150 rupee (Rp 29 ribu).

Program vaksin berbayar sempat dikritik Mahkamah Agung di India. PM Modi lantas berjanji bahwa warga usia 18 tahun ke atas tetap dapat vaksin gratis.

(1 rupee: Rp 194)

3. Taiwan

Pada April 2021, Taiwan juga sempat menyediakan vaksin berbayar bagi warga yang ingin ke luar negeri, seperti untuk urusan bisnis atau pendidikan.

Berdasarkan laporan Focus Taiwan, batas harga vaksin per dosis adalah 600 dolar Taiwan (Rp 310 ribu). Biaya administrasi paling mahal yakni 200 dolar Taiwan (Rp 103 ribu).

Program ini disuspens pada Mei lalu.

Infografis Vaksin Covid-19 Berbayar Vs Vaksin Gratis

Infografis Vaksin Covid-19 Berbayar Vs Vaksin Gratis. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Vaksin Covid-19 Berbayar Vs Vaksin Gratis. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel