Penjelasan Tim FKM Unair soal Evaluasi PSBB Surabaya Raya Tahap III

Liputan6.com, Jakarta - Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya yaitu Surabaya, Gresik dan Sidoarjo tahap tiga akan berakhir pada 8 Juni 2020.

Penerapan PSBB ini sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona baru (Sars-CoV-2) yang menyebabkan COVID-19. Lalu bagaimana pelaksanaan PSBB tahap tiga ini?

Tim Advokasi PSBB & Survailans Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Dr Windhu Purnomo menilai, penerapan PSBB tahap tiga masih belum sesuai harapan. Ini mengingat masyarakat masih ditemui belum disiplin memakai masker, tidak menjaga jarak, dan ditemui kerumunan.

"Seperti tidak ada PSBB lagi. Di pasar-pasar seperti itu. Pedagang tidak pakai masker, kebiasaan baru tidak dipatuhi. Saya tidak mengerti semua diperlonggar. Social distancing, memakai masker, hindari kerumunan, nyatanya tidak,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Minggu, (7/6/2020).

Windhu berharap PSBB tahap tiga akan lebih baik ketimbang PSBB tahap pertama dan kedua. Ia berharap PSBB tahap tiga akan lebih ketat dan tegas. Masyarakat dapat kurangi aktivitas di rumah dan tidak berkumpul selama dua minggu dulu.

Akan tetapi, ia menilai sama saja PSBB tahap pertama hingga tiga. Pada PSBB tahap dua, ia memaklumi pelanggaran pada PSBB tahap dua karena ada momen Lebaran. Masyarakat mulai mencari barang, baju dan lainnya untuk persiapan Lebaran.

"Ternyata sama tidak lebih baik jilid dua dan tiga. Jalan ramai, macet, PSBB belum sesuai harapan. Pergub, perwali dan perbub tidak ada sanksi. Setiap jilid mesti ada perubahan. Ini satu, dua dan tiga tidak ada perubahan payung hukum,sanksi tidak ada, hanya peringatan dan teguran. UU lalu lintas dilanggar, apalagi PSBB tidak ada sanksi,” kata dia.

Windhu menyayangkan masyarakat masih belum disiplin untuk menerapkan protokol kesehatan. Padahal sudah ditemui banyaknya kasus positif Corona COVID-19. Windhu mengatakan, jika kasus positif Corona COVID-19 masih tinggi dan tidak diikuti layanan kesehatan baik karena membeludaknya pasien maka bisa berdampak negatif.

"Banjir dari hulu ke pelayanan kesehatan menjadi overload, perawatan tidak optimal ini membuat CFR atau tingkat kematian tinggi karena ada masalah pelayanan karena kualitas layanan akibat membeludaknya pasien sehingga tidak optimal," kata dia.

Oleh karena itu, Windhu menekankan penularan COVID-19 harus dihentikan. Hal itu butuh kesadaran masyarakat untuk memutus rantai penularan COVID-19. Windhu menilai, hal tersebut belum tercapai pada PSBB tahap III.

Pakar Unair Usul Tes Masif Tak Boleh Diturunkan

Suasana hari pertama PSBB di Surabaya Raya pada Selasa, 28 April 2020 (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Windhu menduga, nanti akan memasuki masa transisi karena sejumlah pertimbangan seperti ekonomi. Di sisi lain, kasus positif Corona COVID-19 dan tingkat kematian masih tinggi. Namun, ia melihat tingkat kondisi penularan sudah turun meski belum aman.

"Tren bagus meski Surabaya dan Jawa Timur belum di bawah 1 (tingkat kondisi penularan-red). Surabaya 1,1, angka kematian 9,2 persen, artinya rumah sakit belum bisa rawat dengan baik karena membeludaknya (pasien-red) perawatan tidak optimal. Tapi penularan sudah turun,” kata dia.

Oleh karena itu, jika PSBB tidak diperpanjang, WIndhu menyarankan untuk tetap melakukan tes COVID-19 secara massal. Hal ini agar identifikasi dan membongkar kasus positif kemudian dilakukan pelacakan. Setelah itu ada isolasi dan perawatan sehingga dapat memutuskan rantai penyebaran COVID-19.

Ia bersyukur saat ini tes masif dilakukan karena sebagai strategi utama untuk melawan wabah termasuk COVID-19. Meski saat ini tes masif belum ideal, Windhu menilai ada kemajuan dengan tes COVID-19 sekitar 1.200 per hari.

"Tes masif tak boleh diturunkan. Supaya dapat kasus positif, diidentifikasi, isolasi. Strategi utama lawan wabah di manapun tak hanya COVID-19 yaitu tes masif," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini