Penjelasan Ulama Muhammadiyah soal Adab Mimpi Bertemu Rasulullah

Ezra Sihite, Syaefullah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ajengan Wawan Gunawan Abdul Wahid menyatakan bahwa orang yang bertemu dengan Rasulullah dalam mimpi merupakan anugerah dari Allah SWT. Namun pengalaman tersebut tidak perlu disampaikan kepada publik lantaran dikhawatirkan menimbulkan pemahaman yang lain.

“Biasanya Muhammadiyah tidak membahas perihal yang seperti itu. Karena dikhawatirkan menimbulkan pemahaman yang lain. Bahwa misalnya itu terjadi, orang Muhammadiyah tidak terbiasa mengungkap hal itu,” kata Wawan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 17 Desember 2020.

Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga menjelaskan, pertemuan seseorang dengan Rasulullah dalam sebuah mimpi merupakan pertanda dari penghayatan religius dan bagian dari kesadaran irfani.

Ia juga menuturkan bahwa ulama besar sekelas Ahmad Dahlan pasti pernah merasakan pengalaman tersebut. Namun dirinya memilih untuk tidak menyampaikannya kepada khalayak ramai. “Tidak mungkin Ahmad Dahlan tidak mengalami mimpi tersebut. Siapa yang meragukan kesalehan beliau? Tapi beliau lebih memilih untuk diam dan tidak menceritakannya kepada siapapun,” katanya.

Kalaupun seseorang pernah mengalami mimpi itu, kata Ajengan Wawan, bisa-bisa saja diceritakan. Hanya memang jika mencermati ulama-ulama Muhammadiyah, mereka tidak memiliki kebiasaan untuk mengumbar pengalaman tersebut.

Baginya, menahan diri untuk tidak menceritakan mimpi yang seperti itu merupakan satu sikap ketawadhuan. “Ketika tidak menceritakan mimpi bertemu Nabi, itu itu bagian dari ketawadhuan, dirinya ingin memperkaya batin religiusnya," tambah Ajengan Wawan.

Ajengan Wawan juga menuturkan mimpinya seseorang dengan Nabi bisa dialami oleh siapa pun. Dalam kegelapan pun masih ada kesalehan, sehingga mereka memiliki potensi untuk bertemu Rasul dalam mimpi. “Apalagi orang saleh. Orang yang bertemu rasul dalam mimpi itu anugerah, melepas rindu dengan Kekasih Allah,” katanya.

Terkait dengan amalan-amalan khusus, sejauh penelaahan Ajengan Wawan, dirinya menegaskan bahwa tidak ada ibadah-ibadah khusus dengan tujuan agar bersua Rasul dalam mimpi.

“Jangan mencari-cari ketemu Rasul karena dikhawatirkan seolah menjadi keharusan dalam agama. Lebih baik kita mengamalkan apa yang sudah jelas perintah dan larangannya,” kata dia.

Sejalan dengan Ajengan Wawan, Ulama Muhammadiyah lainnya yakni Tuan Guru Ruslan Fariadi juga menyatakan bahwa sekiranya seseorang memiliki kebersihan hati dan konsisten melaksanakan amalan-amalan saleh yang sudah jelas perkaranya maka punya potensi besar bertemu nabi dalam mimpi. Jika kesempatan bersua itu datang, Ruslan menegaskan agar memperbanyak syukur kepada Allah.

“Adab seseorang bermimpi bertemu dengan Nabi, tentu harus bersyukur karena tidak semua orang bisa melihat nabi dalam mimpi. Itu kenikmatan dan karunia Allah bisa diberi kesempatan melihat wajah nabi yang mulia,” kata Ruslan.

Baca juga: Dicap Serang Mahfud MD, Ridwan Kamil Diminta Banser Tak Cengeng