Penjualan Listrik dari PLTS Atap ke PLN Masih Rendah

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jateng dan DIY mencatat komposisi pembelian listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap on grid di Jawa Tengah masih minim.

Hingga tahun 2020, pembelian listrik dari PLTS Atap hanya 328 MHW atau 0,0013 persen dari total pembelian tenaga listrik PLN.

"PLTS Atap ini sudah mulai kami data tapi yang on grid-nya saja. Angkanya kecil banget, tapi semakin tahun semakin bertumbuh kembang," kata Manager Revenue Insurance dan Mekanisme Niaga, PLN UID Jawa Tengah dan DIY, Muhammad Hamzah, dalam Webinar Central Java Solar Day, Jakarta, Selasa (16/2/2021).

Hamzah merincikan, pada tahun 2016 komposisi pembelian listrik PLTS Atap hanya 10 MHW atau 0,00004 persen. Lalu naik menjadi 28 MHW atau 0,0001 persen di tahun 2017. Kemudian naik menjadi 39 MHW atau 0,0001 persen di tahun 2018.

Tahun 2019 kembali naik menjadi 67 MHW atau 0,0002 persen. Pada tahun 2020, terjadi peningkatan signifikan menjadi 382 MHW atau 0,0013 persen.

Hamzah mengatakan perkembangan PLTS Atap dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang signifikan. Sampai tahun 2020, sudah ada 138 entitas yang menjual listriknya ke PLN.

"PLTS Atap ini sungguh menggembirakan karena jumlahnya sudah 138 yang on grid atau 83 persen dari aneka listrik EBT," kata dia.

Kapasitas Rendah

PLTS.
PLTS.

Hanya saja secara kapasitas masih rendah. Sampai Desember 2020, baru menyumbang 6 persen dari total listrik EBT yang dibeli PLN.

"Dari sisi kapasitas PLTS Atap hanya 6 persen. Dari sisi pasokan atau energi ekspor, belum kelihatan, masih 0,0013 persen," kata dia.

Angka ini dinilai masih jauh dari yang diharapkan. Namun, seiring berjalannya waktu, Hamzah berharap PLTS Atap bisa lebih banyak menyumbang pasokan listrik PLN.

"Ini masih jauh sekali, mudah-mudahan ini PLTS Atap ini makin berkembang," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: