Penting! Ini Besaran Potongan Gaji untuk Iuran Tapera

1 / 1

Penting! Ini Besaran Potongan Gaji untuk Iuran Tapera

RumahCom – Kaum pekerja, khususnya Milenial dan Gen Z kini bisa memiliki rumah lewat tabungan perumahan rakyat (Tapera) yang digagas pemerintah. Untuk pembiayaannya, pemerintah akan menggunakan sebagian dana gaji dari para pekerja.

 Aturan yang wajib diikuti oleh semua pekerja di Indonesia ini tertuang dalam PP 25 tahun 2020. Dalam aturan tersebut, gaji para pekerja akan dipotong setiap bulannya. Pertanyaannya, berapa besarannya?

Menurut penjelasan Badan Penyelenggara Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), besaran potongan untuk iuran Tapera adalah 3 persen dari gaji. Dana ini akan dijadikan simpanan pokok dan dipotong langsung setiap bulan.

Namun, potongan ini bukan menjadi kewajiban para pekerja semata, melainkan dibagi dua dengan para pemberi kerja. Deputi Bidang Hukum & Administrasi BP Tapera Nostra Tarigan mengatakan, pekerja membayar 2,5 persen, sementara sisanya dibayarkan oleh pemberi kerja.

“Besaran simpanan sebesar 3 persen. 2,5 persen dari pekerja, 0,5 persen dari pemberi kerja, kan begitu kalau yang ada dari dalam PP,” ujar Nostra sebagaimana dikutip dari detikcom.

Untuk penghitungannya, jumlah iuran per bulan diambil dari akumulasi gaji pokok dengan tunangan keluarga. Sementara yang menjadi peserta wajibnya adalah pekerja yang gajinya sebesar upah minimum.

“Simpanannya dari gaji pokok dan tunjangan keluarga. Yang wajib jadi peserta yang upahnya upah minimum,” ucap Nostra.

Sementara pekerja swasta mandiri yang tak memiliki pemberi kerja, besaran iuran 3 persen akan dibayarkan penuh oleh pekerja itu sendiri. “Kalau pekerja mandiri yang tidak dipekerjakan, dia cukup membayar 3 persen,” kata Nostra.

Untuk pekerja swasta mandiri, Nostra menjelaskan, penghitungan besaran potongan dilihat dari akumulasi catatan penghasilan selama setahun. Lalu dihitung rata-ratanya per bulan. Jumlah itulah yang diasumsikan sebagai gaji bulanan. Jika sudah ketemu, lalu diambil 3 persennya untuk iuran Tapera.

“Dia harus punya catatan berapa penghasilan setahun. Dirata-ratakan sebulan, itulah nanti yang dianggap sebagai gaji atau upahnya itu per bulan. Begitu cara masuknya. Itulah dasarnya berapa simpanannya yang mesti disetor Tapera,” tutur Nostra.

Terkait penarikan iuran, Nostra menegaskan penarikan iuran tidak akan langsung dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, BP Tapera akan menarik iuran secara bertahap. Penarikan dana pertama akan dilakukan untuk PNS. Itu pun baru berlaku Januari 2021.

Selanjutnya yang akan dikenai pemotongan untuk iuran adalah pegawai BUMN, BUMD, BUMDes sampai TNI Polri. Terakhir, pemotongan akan ditujukan untuk para pekerja swasta, baik yang bekerja sendiri ataupun yang memiliki pemberi kerja.

“Bukan serta merta PP hari ini disahkan, besok langsung masyarakat ditarik. Rencananya 2021 itu buat PNS dulu,” kata Nostra.

Nostra menjelaskan, tahapan melakukan proses ini masih panjang. Dalam PP 25 tahun 2020, waktu maksimal menyiapkan penarikan sampai ke pegawai swasta dibuat 7 tahun. Dengan kata lain, BP Tapera akan menarik secara penuh iuran dari seluruh pekerja pada 2027 mendatang.

Sementara untuk penggunaan dananya, Nostra mengatakan iuran ini dimanfaatkan untuk membiayai rumah dengan manfaat sebesar 75 persen dari harga rumah yang mau dibeli.

“Kalau kami di BP Tapera kan nanti ada duit, katakanlah KPR itu misal 200 juta rupiah. Ke depannya, 75 persen akan dibiayai dari dana yang terkumpul di BP Tapera, 25 persen sisanya dari duit bank dari total KPR-nya,” ujar Nostra.

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com