Penting, Ini Kondisi Luka Anak yang Perlu Ditangani Dokter

Tasya Paramitha, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Aktivitas eksplorasi belajar dan bermain dengan keluarga memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak salah satunya mengasah kreativitas dan kemampuan motorik. Namun, saat belajar dan bermain, risiko terjadinya luka pada anak juga meningkat.

Penting bagi orangtua untuk mengetahui perawatan luka yang tepat agar tidak terjadi infeksi berlanjut. Selain itu, orang tua juga perlu tahu kapan luka pada anak dianggap darurat untuk diobati di fasilitas kesehatan terdekat.

Dituturkan Dokter Spesialis Anak, dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, beberapa kondisi luka memang tak bisa diobati sendiri di rumah. Salah satunya saat terjadi luka dengan robekan besar dan tak mampu ditutup rapat sehingga perlu penanganan tenaga medis terdekat.

"Luka dengan darah yang mengalir terus, jika ditekan selama 5 menit masih mengalir, segera bawa anak ke dokter," tuturnya dalam acara virtual bertajuk Hansaplast X Tentang Anak, baru-baru ini.

Perlu dipahami juga bahwa lokasi anak terjatuh dan memicu luka, turut menjadi faktor penting untuk menangani luka si kecil di fasilitas kesehatan. Salah satunya saat anak terjatuh di tempat yang sangat kotor.

"Miisalnya jalan raya atau kebun. Itu harus dibawa ke dokter, terutama jika anak riwayat imunisasinya tidak lengkap atau kita tidak yakin sudah melakukan suntik tetanus selama 5 tahun terakhir," sambung dokter Mesty.

Ditambah saat kondisi luka si kecil sudah terlalu lama dan tak kunjung sembuh. Apalagi jika disertai nanah dan berbau tak sedap, segera periksa si kecil ke dokter.

Namun, para orangtua masih bisa memberikan pertolongan pertama pada si kecil sebelum tiba di fasilitas kesehatan. Paling utama, orangtua perlu mengenali jenis lukanya lantaran penangannya akan berbeda.

"Prinsipnya adalah kalau berdarah, sebaiknya darahnya dihentikan terlebih dahulu. Kemudian bersihkan luka, pastikan tidak ada kotoran yang menempel," bebernya.

Usai terlihat bersih, bisa dilindungi dengan plester agar mencegah infeksi sekunder terjadi. Usahakan juga agar luka yang tertutup plester tersebut tak terkena air, apalagi terendam dalam waktu lama lantaran dapat memicu kelembaban di area luka dan menghambat penyembuhan.

Apabila memungkinkan, kenakan plester anti air untuk membuat luka tetap kering.