Penting untuk Diketahui, Ini 4 Fakta Soal Hari Raya Waisak

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Umat ​​Buddha di seluruh dunia merayakan kelahiran, pencerahan, dan kematian Buddha tepat pada hari ini, 26 Mei 2021.

Hari ini juga ditentukan sebagai salah satu hari libur keagamaan di Indonesia.

Namun, perayaan Hari Raya Waisak tahun ini akan jauh berbeda dari biasanya karena adanya pandemi COVID-19.

Pembatasan kegiatan dan aktivitas masyarakat tentu akan sangat berdampak dalam perayaan Waisak.

Meskipun ada perubahan, Hari Waisak masih menjadi hari yang sangat istimewa bagi umat Buddha.

Mengutip SG Asia Tatler, Rabu (26/5/2021), berikut adalah 4 fakta soal Hari Raya Waisak:

1. Apa itu Hari Waisak?

Petugas menyiapkan altar sembahyang menyambut perayaan Waisak di Wihara Ekayana Arama, Jakarta Barat, Selasa (25/5/2021). Wihara ini melakukan persiapan untuk menyambut rangkaian Hari Raya Waisak 2565 BE pada 26 Mei 2021 yang akan berlangsung secara virtual esok hari. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Petugas menyiapkan altar sembahyang menyambut perayaan Waisak di Wihara Ekayana Arama, Jakarta Barat, Selasa (25/5/2021). Wihara ini melakukan persiapan untuk menyambut rangkaian Hari Raya Waisak 2565 BE pada 26 Mei 2021 yang akan berlangsung secara virtual esok hari. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Hari Waisak, atau hari bulan purnama, adalah hari suci bagi jutaan umat Buddha di seluruh dunia. Itu menandai hari di mana Buddha lahir, mencapai pencerahan dan kemudian meninggal di tahun kedelapan puluh. Ini adalah waktu untuk refleksi yang tenang tentang ajaran Buddha, kegembiraan dan kedamaian.

Perayaan Hari Raya Waisak berubah setiap tahun sesuai dengan bulan purnama pertama bulan lunar Waisak. Ini biasanya jatuh antara Mei hingga awal Juni.

2. Perayaan Hari Raya Waisak

Petugas menyiapkan altar sembahyang menyambut perayaan Waisak di Wihara Ekayana Arama, Jakarta Barat, Selasa (25/5/2021). Wihara ini melakukan persiapan untuk menyambut rangkaian Hari Raya Waisak 2565 BE pada 26 Mei 2021 yang akan berlangsung secara virtual esok hari. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Petugas menyiapkan altar sembahyang menyambut perayaan Waisak di Wihara Ekayana Arama, Jakarta Barat, Selasa (25/5/2021). Wihara ini melakukan persiapan untuk menyambut rangkaian Hari Raya Waisak 2565 BE pada 26 Mei 2021 yang akan berlangsung secara virtual esok hari. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Buddha adalah agama yang hadir di banyak negara dan budaya seperti di India, Thailand, Singapura, Korea juga Indonesia. Akibatnya, setiap budaya Buddha cenderung memiliki tradisi uniknya sendiri untuk menghormati hari tersebut.

Namun, biasanya, umat Buddha akan pergi ke kuil saat fajar menyingsing untuk berpartisipasi dalam nyanyian pujian untuk menghormati Buddha, ajarannya dan murid-muridnya. Mereka juga akan mengibarkan bendera Buddha sambil menyanyikan hymne ini. Beberapa umat Buddha bahkan akan tinggal di kuil sepanjang hari dan malam.

Pada hari ini, banyak umat Buddha juga berpartisipasi dalam perbuatan baik karena diyakini bahwa melakukan perbuatan baik pada Hari Waisak akan melipatgandakan pahala seseorang beberapa kali lipat.

Biasanya, beberapa keluarga Buddha mendekorasi rumah mereka dengan lentera, mengambil bagian dalam prosesi keagamaan khusus dan mengenakan pakaian putih khusus. Mereka juga biasanya hanya akan makan makanan vegetarian pada hari ini.

3. Beri Persembahan

Umat Buddha mengikuti peringatan Hari Trisuci Waisak 2565 Tahun Buddhis di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Rabu (26/5/2021). Pelaksanaan upacara Trisuci Waisak 2565/2021 dirayakan oleh umat Buddha secara terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Umat Buddha mengikuti peringatan Hari Trisuci Waisak 2565 Tahun Buddhis di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Rabu (26/5/2021). Pelaksanaan upacara Trisuci Waisak 2565/2021 dirayakan oleh umat Buddha secara terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Pada Hari Raya Waisak, sangat umum untuk melihat orang-orang meletakkan sesajen berupa bunga, lilin dan dupa di pura.

Tujuan mereka dalam menggunakan barang-barang ini sebagai persembahan adalah untuk mengakui sifat kehidupan yang sementara. Lilin dan dupa akan terbakar habis dan pada akhirnya bunga akan membusuk.

4. Alasan Memandikan Buddha

Pekerja merangkai bunga di Vihara Buddha Dharma dan 8 Pho Sat, Desa Tonjong, Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Selasa (25/5/2021). Vihara itu mulai dihias dan dibersihkan untuk memberi kenyamanan bagi umat Budha yang akan beribadah saat peringatan Hari Raya Waisak. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Pekerja merangkai bunga di Vihara Buddha Dharma dan 8 Pho Sat, Desa Tonjong, Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Selasa (25/5/2021). Vihara itu mulai dihias dan dibersihkan untuk memberi kenyamanan bagi umat Budha yang akan beribadah saat peringatan Hari Raya Waisak. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Pada Hari Raya Waisak, salah satu ritual paling umum yang dilakukan adalah 'mandi' Buddha. Di sinilah umat Buddha berkumpul dan menuangkan air ke atas bahu Buddha.

Praktik ini mengingatkan orang-orang beriman untuk menjernihkan pikiran mereka dari pikiran negatif dan kebencian serta memperingati kelahiran Buddha. Ini adalah ritual yang sangat sakral yang dilakukan oleh umat Buddha setiap tahun.