Pentingkah Pendidikan Seksual bagi Anak Berkebutuhan Khusus?

·Bacaan 6 menit

VIVA – Mengawali tiga bulan pertama di tahun 2021, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melayangkan catatan merah mengenai tingginya eskalasi kasus kekerasan seksual di Indonesia.

Korban kini bukan hanya dari kalangan dewasa saja, tetapi anak-anak turut menjadi korban kekerasan seksual.

Anak-anak di bawah umur menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kekerasan seksual lantaran mereka selalu diposisikan sebagai sosok lemah yang memiliki ketergantungan terhadap orang dewasa di sekitarnya.

Minimnya pemberitaan mengenai kasus kekerasan seksual terhadap anak berimbas kepada kepekaan masyarakat mengenai persoalan ini. Bahkan, kekerasan seksual kerap dianggap sebagai kejahatan terhadap kesusilaan semata. Hal ini, pada akhirnya, turut menenggelamkan kasus kekerasan seksual terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK).

Dilansir dari Kumparan, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Evi Martha mengungkapkan, fenomena pelecehan seksual terhadap anak dan remaja disabilitas memiliki peluang dua kali lipat lebih banyak dibanding kalangan non-disabilitas. Hal ini didorong oleh beberapa faktor, salah satunya adalah minimnya pendidikan seksual bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

Pendidikan seksual bagi anak-anak masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat Indonesia. Padahal, pendidikan seksual sejak dini dapat menjadi gerakan fundamental yang dapat mengurangi kasus kekerasan seksual pada anak.

Sama seperti anak-anak pada umumnya, ABK juga memiliki hormon dan hasrat seksual. Namun, mereka tidak mengerti apa yang harus dilakukan ketika hasrat seksual itu datang. Lebih lagi, ABK tidak memahami otoritas tubuh mereka sendiri. Hal ini dapat memicu terjadinya kekerasan seksual terhadap ABK, akibat ketidakberdayaan mereka untuk memahami apa yang terjadi.

Potret Pendidikan Seksual Kepada ABK

Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki kurikulum formal untuk memberikan pendidikan seksual kepada anak. Sebagian besar pendidikan seksual di sekolah masih berfokus kepada aspek-aspek kesehatan reproduksi, alih-alih belajar tentang batasan dan apa yang pantas dan tidak pantas untuk disentuh

Hampir tidak ada materi yang fokus pada seksualitas, persetujuan hubungan, isu peka gender, hingga sentuhan dengan orang lain yang umumnya disebut consent. Hal ini menjadi tantangan bagi sekolah di Indonesia dalam memberikan pendidikan seksual yang komprehensif dan utuh kepada anak-anak.

Rafmateti, Kepala Sekolah Khusus Negeri 02 Padang mengakui, selama ini tidak ada kurikulum khusus yang mengajarkan pendidikan seksual kepada ABK.

"Kalau pembelajaran khusus nggak ada, tapi terintegrasi dengan pelajaran dan kegiatan di sekolah. Ada kegiatan tertentu yang mendatangkan tenaga ahli untuk sosialisasi bahaya seks bebas dan kekerasan seksual," ungkap Rafmateti pada Senin (22/03).

Sementara itu, ProEducation School, salah satu sekolah inklusif di Bali menerapkan kurikulum luar negeri dalam memberikan pendidikan seksual kepada ABK.

"Pakai kurikulum luar negeri, namanya ASDAN. Kurikulum ini ditujukan untuk anak SMA. Mereka belajar tentang tubuh dan feelings, tapi nggak langsung terpusat ke sex education. Lebih ke get to know yourself first," tutur Hani, salah seorang guru di sana.

Dalam memberikan pendidikan seksual, Rafmateti dan Hani sama-sama mengedepankan pembelajaran melalui medium visual. Tetapi, hal ini tentu tidak bisa diaplikasikan kepada semua ABK, terlebih bagi mereka penyandang tunanetra. Oleh sebab itu, medium audio dan audio visual turut digunakan dalam memberikan pendidikan seksual bagi ABK.

“Anak-anak kita kasih tugas untuk bawa foto mereka dari kecil hingga sekarang, supaya mereka tau perubahan apa saja yang ada di tubuhnya dan kenapa tubuh mereka berubah. Kita juga menekankan it’s okay to feel pleasure. Tapi untuk on private, karena ini punya mereka sendiri, jadi orang lain nggak berhak. Akhirnya, mereka tau otoritas tubuh mereka sampai situ,” tutur Hani.

Selain itu, metode pengajaran pendidikan seksual lewat boneka-boneka juga membantu mengoptimalkan pemberian pendidikan seksual kepada ABK. Metode ini tentu tergantung pada usia, karakteristik, serta kemampuan tiap anak.

"Untuk anak-anak yang tingkat pemahaman bahasa reseptifnya berkembang, mereka cukup paham dengan metode tadi. Kalau ada anak yang kemampuan intelektualnya di bawah standar, kita libatkan peran keluarga. Jadi parenting dalam pendidikan seksual juga sangat dibutuhkan," jelas Rafmateti.

Jatuh Bangun Pendidikan Seksual bagi ABK

Dalam memberikan pendidikan seksual kepada ABK, menghadapi mereka yang memiliki kemampuan intelektual di bawah standar serta gangguan komunikasi merupakan tantangan terberat.

“Ada anak yang mengalami gangguan speech delay, jadi berpikirnya lama banget. Fisik mereka sudah 17 tahun, tapi otaknya masih 9 tahun. Hal seperti itu susah banget karena progresnya lambat dan terkadang nggak sinkron, ya. Pendekatannya harus lebih sabar,” jelas Hani.

Sependapat dengan Hani, Rafmateti juga mengungkapkan bahwa ia harus memberikan pemahaman abstrak kepada ABK, khususnya bagi mereka yang punya permasalahan intelektual.

Hadirnya pandemi Covid-19 juga menjadi salah satu tantangan terberat.

Hani mengakui bahwa ia merasa kesulitan dalam memberikan pendidikan seksual melalui pembelajaran secara daring.

“Sexual education-nya di-cut materinya karena online learning, maunya kasih core subject saja. Susah banget memberikan sex education buat anak berkebutuhan khusus via online, jadi nggak sampai yang advance mengenal tubuh lawan jenis,” ujar Hani, menerangkan.

Di lain sisi, Rafmateti mengakui bahwa tantangan lain dalam memberikan pendidikan seksual kepada ABK adalah ketika mereka tidak mampu menyaring masalah seksual yang menghampiri mereka.

“Nah, ini harus kita edukasi. Bahwasannya ketika mereka tidak bisa menyaring 'keinginan' mereka, bisa saja mereka langsung melakukan kontak fisik. Ini yang harus kita berikan pembiasaan individual bahwasannya hal itu tidak boleh. Bukan tentang hubungan seksual saja, tapi bagaimana sikap anak terhadap lawan jenisnya,” terangnya.

Mengedukasi soal seks pada ABK tentu membutuhkan pemahaman dan kesabaran ekstra. Ada kalanya mereka tidak menangkap apa yang dimaksud dan malah melakukan hal yang kontra dengan apa yang diajarkan. Namun, pendidikan seksual tetap harus dilakukan karena ABK juga perlu dilindungi.

Apa yang seharusnya Dilakukan?

Salah satu upaya melindungi ABK dari kekerasan seksual adalah dengan memberikan pendidikan seksual. Namun dalam proses penerapannya, penyampaian edukasi harus dilakukan dengan cara khusus lantaran ABK cenderung memiliki tingkat pengetahuan dan proses pemahaman yang berbeda dengan anak-anak non-disabilitas.

dr. Ika Widyawati, Sp.KJ(K), psikiater anak dan remaja di Klinik Tumbuh Kembang dan Edukasi Terpadu, Rumah Sakit Pondok Indah menjelaskan, proses penyampaian pendidikan seksual bagi ABK perlu menggunakan model pembelajaran yang sederhana dan mudah dimengerti. Proses penyampaian materi pun harus dilakukan secara individual, untuk mencapai konsentrasi maksimal.

“Untuk anak yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi, dapat menggunakan gambar mengenai apa yang boleh dilakukan dan tidak dapat dilakukan di depan umum. Sementara untuk anak yang memiliki tingkat kecerdasan rendah, harus dilakukan secara langsung melalui praktik,” jelas Ika.

Pendidikan seksual kepada ABK juga perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak di sekitarnya, khususnya keluarga.

“Di rumah, orangtua dulu yang perlu diperbaiki pengetahuannya. Kalau orangtuanya nggak ngerti, ya, nggak bisa ngajarin," ujar Ika.

Menurut Ika, memberikan pendidikan seksual kepada ABK dapat diawali dengan mengenali diri mereka sendiri.

"Seperti perubahan fisik yang terjadi kepada tubuh mereka, cara merawat diri ketika sedang menstruasi atau mimpi basah, hingga memberi aturan do’s and dont’s ketika di tempat umum," ujar Ika, menjelaskan.

Lilin-lilin Kecil Pendidikan Seksual bagi ABK

Pendidikan seksual kepada ABK di Indonesia masih jauh dari kata sempurna. Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan seksual, diperlukan kerjasama dan penyuluhan mengenai pentingnya pendidikan seksual kepada lingkungan sekitar anak, seperti keluarga, sekolah, hingga masyarakat umum.

“Kita berharap edukasi seksual dan perlindungan seksual terhadap ABK bukan hanya di sekolah tapi juga di masyarakat. Kita perlu mengedukasi masyarakat bahwasanya perlu perlindungan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus dari kekerasan seksual itu,” ujar Rafmateti

Sebagai penutup, Hani mengungkapkan bahwa pendidikan seksual hadir untuk membantu ABK lebih mengenal diri mereka sendiri dan menghargai orang lain.

“Jadi tolong, jangan sampai stigma sex education itu jelek, terutama buat ABK. Mereka (ABK) punya disabilitas, takutnya malah dimanfaatkan oleh orang jahat. Sebenernya, tujuannya kan untuk protect diri sendiri. Tapi kenapa harus dikasih stigma? Kenapa harus dilarang? Ya, semoga lebih toleran dan lebih menghargai.” tutup Hani.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel