Pentingnya Digitalisasi UMKM di Kota Kecil untuk Menjaga Ekosistem Perekonomian

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta Pandemi berdampak ke semua sektor nasional, tak terkecuali sektor perekonomian. Hampir semua bisnis harus jalan ditempat selama pandemi, alhasil, banyak dari mereka yang gulung tikar, termasuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa 87,5% UMKM terdampak pandemi Covid-19. Sekitar 93,2% berdampak negatif di sisi penjualan (Maret 2021). Sektor UMKM yang terdampak, di antaranya usaha makanan dan minuman.

Staf Khusus Menteri Koperasi dan Usaha Kecil menengah Bidang Hukum, Pengawasan Koperasi dan Pembiayaan Agus Santoso menyatakan bahwa penurunan aktivitas UMKM menyebabkan 40,92% pedagang besar maupun eceran terdampak. Penyedia akomodasi dan makanan minuman 26,86% dan industri pengolahan 14,25%.

Hal senada juga diungkapkan oleh Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kemenkop UKM, Eddy Satriya. Ia mengatakan bisnis UMKM yang paling terdampak selama Corona adalah akomodasi dan makan-minuman.

Dari total UMKM yang ada di Indonesia, 35,88% UMKM yang terdampak adalah UMKM akomodasi dan makan-minuman, disusul UMKM perdagangan besar dan eceran seperti reparasi dan perawatan mobil sebanyak 25,33%, dan industri pengolahan sebanyak 17,83%. Berikut penyebab UMKM tidak bisa bertahan di tengah pandemi.

1. Literasi Digital

Terdampaknya sektor UMKM disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan akses digital di kota-kota kecil. Tentu hal itu menjadi tantangan besar bagi UMKM untuk bertahan dan meningkatkan usaha. Oleh karena itu, perlu pendukung terutama dari teknologi yang dapat membantu UMKM bertumbuh.

Riset oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Indonesia menemukan bahwa sepanjang tahun 2020, terdapat dua masalah utama yang dihadapi oleh UMKM yang terdampak pandemi, yaitu masalah keuangan dan pasokan/permintaan. Selain dari minimnya fasilitas operasional, sumber daya, dan pendanaan, UMKM juga masih kurang menguasai platform digital.

Selain itu, bisnis UMKM biasanya dijalankan oleh satu orang yang cenderung lanjut usia. Kelompok umur ini cenderung skeptis pemanfaatan teknologi sehingga lambat dalam mengadopsi layanan digital.

Hal ini menimbulkan kerugian bagi UMKM, terutama ketika pembatasan mobilitas diberlakukan dan masyarakat beralih dari toko fisik ke e-commerce atau platform digital.

Sementara itu, berdasarkan data East Ventures Digital Competitiveness Index 2021 , Daya saing digital cenderung didominasi oleh provinsi besar yang umumnya berlokasi di Jawa. Daerah seperti Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan cenderung berada di posisi yang lebih bawah.

2. Akses Internet

Selain literasi digital, hambatan lainnya adalah akses terhadap infrastruktur internet, khususnya di daerah 3T (terluar, terdepan dan tertinggal), sehingga daerah ini harus ditangani secara khusus agar secara digital tidak ketinggalan. Pemerintah mendorong percepatan pembangunan akses internet di wilayah 3T.

Menurut data APJII 2019-2020 (Q2) menunjukkan bahwa Kontribusi Penetrasi Internet per Wilayah dari Total Penetrasi masih didominasi pulau Jawa, sementara Pulau Maluku dan Papua berada di posisi terakhir.

3. Biaya pengiriman

Berdasarkan data East Ventures Digital Competitiveness Index 2021 , fasilitas logistik yang sudah semakin maju memberikan dampak positif bagi bangsa pertumbuhan ekonomi.

Hal ini terbukti oleh mereka yang sudah merasakan manfaat dari menggunakan layanan pengantaran seperti GrabExpress.

Hal itu diceritakan Fauziah Yusuf sudah menjalankan usaha pembuatan buket bunga, snack, dan balon di Makassar. Sejak adanya layanan GrabExpress di Makassar dan membuatnya lebih mudah mengantar pesanan ke pembeli.

Menurutnya, layanan GrabExpress ini memudahkan usaha kecil sepertinya karena bisa mengirim buket kelima alamat berbeda dalam satu waktu. Hal ini juga buat para pembeli tidak lama menunggu pesanannya sampai.

Tak hanya Fauziah, Sancayarini atau Rini (63) merupakan pemilik dari clothing brand Kana Goods yang berfokus untuk menjual batik modern dengan konsep slow fashion.

Saat pandemi, toko tempat ia berjualan harus tutup, dimana hal ini membuat ia kehilangan sumber penghasilan. Ia pun sadar bahwa ia harus beradaptasi dan mengikuti zaman dimana digitalisasi merupakan solusi yang tepat.

Karena tidak memiliki cukup sumber daya untuk mengantarkan pesanan, Rini pun menggunakan layanan GrabExpress untuk membantunya mengirimkan barang kepada pelanggan. Sejak go digital dan menggunakan layanan GrabExpress, bisnis Rini mulai kembali pulih seperti sedia kala, bahkan ada kenaikan omzet yang signifikan dibandingkan dulu saat hanya berjualan secara offline. Ia pun bisa menjangkau pelanggan yang lebih banyak lagi dibandingkan sebelum go digital.

Platform Digital

Grab
Grab

Memanfaatkan platform digital bisa menjadi solusi UMKM naik 'kelas' dan memungkinkan pelaku bisnis menjangkau pelanggan yang jauh dari tempat usahanya secara praktis dan efisien.

Pasalnya, masih ada persepsi mengenai kesuksesan berbisnis hanya bisa diraih jika dilakukan di kota-kota besar. Padahal dengan memanfaatkan platform digital, UMKM dapat mengembangkan bisnis di daerahnya masing-masing, meningkatkan perekonomian daerah serta melestarikan produk unggulan daerah.

Platform digital juga memberikan kesempatan untuk UMKM ,menjangkau konsumen yang lebih besar dan lebih luas. Sebagai contoh, pemilik toko sembako di Pasar Tradisional hanya bisa memasarkan barangnya ke pengunjung Pasar Tradisional tersebut. Namun, ketika toko sembako ini bergabung di platform digital, tidak hanya pengunjung pasar yang bisa dijangkau tapi masyarakat yang tinggal bahkan jauh dari pasar tersebut bisa mengakses dan berbelanja dengan mudah lewat genggaman.

Hal tersebut tentunya memberikan dampak yang besar, mulai dari efisiensi biaya hingga omset yang lebih besar.

Bangkitkan UMKM di Kota Kecil

Kini, dengan adanya digital platform UMKM di kota - kota kecil semakin berkembang. Menurut website Kemenkop ada jumlah UMKM yang terdaftar.

  • Kabupaten Kupang: 44.639 UMKM

  • Kabupaten Gowa: 937 UMKM

  • Kota Pekanbaru: 105.445 UMKM

  • Kabupaten Malang: 417.373 UMKM

  • Kota Surakarta: 82.531 UMKM

Daerah-daerah ini juga telah mencatatkan kinerja bertumbuh dalam setahun terakhir. Hal ini didorong dengan dukungan pemerintah nasional maupun lokal untuk meningkatkan rasa percaya diri masyarakat, mulai dari dukungan untuk UMKM, pendampingan untuk transformasi digital serta vaksinasi untuk UMKM.

Menurut laporan perekonomian provinsi dari Bank Indonesia pada 2021, untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2021 diperkirakan tumbuh positif dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2020. Kinerja Perekonomian Provinsi NTT pada tahun 2021 ditopang oleh peningkatan investasi dan perbaikan kinerja konsumsi masyarakat.

Selain itu, Sulawesi Selatan ekonomi diperkirakan tetap tumbuh positif pada triwulan III 2021 meski relatif lambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Salah satu faktor yang memicu perlambatan adalah penerapan PPKM untuk memutus rantai penyebaran kasus COVID-19 varian Delta.

Selanjutnya, Riau yang mengalami pertumbuhan di triwulan II 2021 hingga 5,13% (yoy), jauh di atas triwulan sebelumnya sebesar 0,41% (yoy). Pelaksanaan program vaksinasi, pelonggaran kegiatan sosial, dan insentif yang diperoleh dari peningkatan harga CPO telah mampu mendorong daya beli dan konsumsi rumah tangga yang umumnya berstatus sebagai petani sawit.

Serta Jawa Timur yang mengalami pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2021 tumbuh 7,05% (yoy), melanjutkan tren perbaikan dari triwulan sebelumnya (-0,44%, yoy).

Kolaborasi

Emtek menjalin kerja sama dengan Grab untuk mendorong percepatan transformasi digital usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.
Emtek menjalin kerja sama dengan Grab untuk mendorong percepatan transformasi digital usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.

Peran swasta dan pemerintah sangat dibutuhkan dalam mengatasi tantangan UMKM khususnya di kota-kota kecil. Melihat hal itu, Grab dan Emtek Group yang mengumumkan kolaborasi strategisnya di bulan Juli yang lalu telah mengumumkan komitmennya untuk bisa mendukung UMKM di kota-kota kecil dan kabupaten di Indonesia.

Selain bentuk pendampingan, UMKM juga turut didorong untuk melakukan digitalisasi agar dapat memperoleh manfaat dari ekonomi digital. Pemerintah juga mencanangkan program digitalisasi dengan target sebanyak 30 juta pelaku UMKM masuk dalam ekosistem digital pada tahun 2024.

Grab dan Emtek Group juga akan menyelenggarakan sebuah program digital yang berfokus pada kota-kota kecil. Program digitalisasi ini akan memberi bantuan terintegrasi yang meliputi pelatihan bisnis intensif dan peningkatan kapasitas UMKM, serta memfasilitasi solusi teknologi yang dirancang khusus, melalui platform Grab dan Bukalapak.

(*)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel