Pentingnya Edukasi dan Pencegahan KIPI dalam Vaksinasi

Fikri Halim
·Bacaan 2 menit

VIVA – Vaksin menjadi aset paling ampuh untuk menghadapi penyakit infeksi demi menghindari terjadinya epidemi hingga pandemi. Beragamnya virus yang ada, harus disesuaikan dengan vaksin yang tepat, seperti campak dan rubella yang menggunakan vaksin MR.

Namun beragamnya kultur dan keyakinan, sering menjadi tantangan para tenaga kesehatan dalam melakukan vaksinasi. Seperti yang terjadi di Jawa Timur dahulu, sebelum berhasil memberikan vaksin MR kepada masyarakat.

Dr. dr. Kohar Hari Santoso, Direktur RSSA Malang dan Ketua Tim Tracing gugus tugas COVID-19 Jatim menuturkan, terkadang masyarakat tidak bisa langsung diedukasi, tapi perlu melalui dengan pendekatan kultural.

“Jadi kita merapat kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, para pimpinan wilayah, kemungkinan berikan pemahaman dulu pada tokoh-tokoh tersebut. Kemudian mereka akan berikan sosialisasi, pemahaman ke masyarakat,” ungkap dokter Kohar dalam dialog produktif dengan tema “Belajar dari Sukses Vaksin MR di Jawa Timur dan Peran Media dalam Vaksinasi” di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), dikutip Rabu 18 November 2020.

Tak hanya berhenti pada edukasi vaksin, masyarakat juga harus mendapatkan penjelasan yang cukup mengenai KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), yang bisa terjadi.

"Kita sudah siapkan tim, ahli-ahlinya, para dokter untuk antisipasi kalau ada efek samping, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Itu kita sudah siapkan.” ujarnya.

KIPI sendiri bukanlah hal yang menakutkan, karena biasanya bersifat ringan. Namun, pencegahan untuk mengurangi risiko kejadian ikutan ini tetap harus dilakukan.

“Sebelum disuntikkan (vaksin), yang bersangkutan harus kita periksa dulu, apakah kondisinya cukup fit, cukup sehat. Sehingga kalau kita suntikkan vaksin, bisa tumbuh daya tahannya, atau kekebalannya, atau antibodinya,” ujar sang dokter.

"Kalau dia kondisi sakit, padahalkan kita masukkan penyakit yang sudah kita lemahkan, itu malah bisa menjadi kejadian ikutan (KIPI). Tapi kejadian ikutan yang paling sering terjadi adalah reaksi panas dan pada umumnya bisa diatasi dengan diberikan obat,” tambahnya.

Adanya anggapan bahwa biaya vaksin mahal juga keliru. “Saya setuju bahwa biayanya (vaksin) tidak sedikit. Tapi mahal itu kan menjadi relatif, dibandingkan dengan nanti kejadian benar, kalau sampai sakit, atau cacat, itu bebannya lebih tinggi, lebih mahal lagi biayanya. Berhitungnya lebih sulit lagi,” tegas dokter Kahar.

Masyarakat harus sadar bahwasanya mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Tak hanya terhindar dari rasa sakit, namun juga lebih murah dari segi biaya. (ase)

Baca juga: Ikuti Jokowi, Gibran Rakabuming Siap Disuntik Vaksin COVID-19